Apakah Al-Qur’an Terjaga Keasliannya?

Bagi saya selaku umat islam, saya sangat meyakini bahwa Al-Qur’an kitab suci kami terjaga keasliannya. Keasliannya Al-Qur’an ini dijamin sendiri oleh Allah dalam firmanNya :

Telah sempurnalah kalimat Tuhanmu  sebagai kalimat yang benar dan adil. Tidak ada yang dapat merobah robah kalimat-kalimat-Nya dan Dia lah yang Maha Mendenyar lagi Maha Mengetahui. (Qur’an Surat Al-An’am ayat 115)

Sesungguhnya  Kami-lah yang  menurunkan  Al  Qur’an,  dan sesungguhnya Kami benar-benar  memeliharanya. (Qur’an Surat Al-Hijr ayat 9)

Namun, dapatkah kita berargumen bahwa Al-Qur’an terjaga atau terpelihara keasliannya hanya dengan berargumen ayat-ayat diatas? Kan mungkin saja ayat-ayat tersebut dibuat oleh manusia, jadi belum tentu Al-Qur’an terjaga keasliannya. Untuk menjawab permasalahan ini, marilah kita telusuri sejarah teks Al-Qur’an sehingga kita akan meyakini dengan benar bahwa Allah menjaga keaslian Al-Qur’an.

Sejak zaman Nabi Muhammad SAW, ayat Al-Qur’an sudah mulai ditulis. Para sahabat Nabi pun banyak yang khatam (hapal) Al-Qur’an, dan kebiasaan untuk menghapal Al-Qur’an itu terwarisi sehingga banyak orang-orang yang hapal seluruh teks Al-Qur’an (Hafiz Qur’an) hingga saat ini. Pada saat penulisan Al-Qur’an pun Nabi selalu mengecek kembali apakah benar yang dituliskan sahabat pada suhuf-suhuf. Nabi pun sering meminta dibacaan ayat Al-Qur’an didepan dirinya.

Sejarah penulisan Al-Qur’an dapat dibagi menjadi dua periode yaitu :

1. Periode Mekkah

Periode ini merupakan periode ketika Nabi Muhammad masih di Mekkah, sebelum hijrah ke Madinah. Periode ini merupakan periode permulaan dakwah beliau.

Suatu hari ‘Umar keluar rumah menenteng pedang terhunus hendak melibas leher Nabi Muhammad. Beberapa sahabat sedang berkumpul dalam sebuah rumah di bukit Safa. Jumlah mereka sekitar empat puluhan termasuk kaum wanita. Di antaranya adalah paman Nabi Muhammad, Hamza, Abu Bakr, ‘All, dan juga lainnya yang tidak pergi berhijrah ke Ethiopia. Nu’aim secara tak sengaja berpapasan dan bertanya ke mana ‘Umar hendak pergi. “Saya hendak menghabisi Muhammad, manusia yang telah membuat orang Quraish khianat terhadap agama nenek moyang dan mereka tercabik-cabik serta ia (Muhammad) mencaci maki tata cara kehidupan, agama, dan tuhan-tuhan kami. Sekarang akan aku libas dia.” “Engkau hanya akan menipu diri sendiri `Umar, katanya.” “Jika engkau menganggap bahwa ban! `Abd Manaf mengizinkanmu menapak di bumi ini hendak memutus nyawa Muhammad, lebih baik pulang temui keluarga anda dan selesaikan permasalahan mereka.” `Umar pulang sambil bertanya-tanya apa yang telah menimpa ke­luarganya. Nu’aim menjawab, “Saudara ipar, keponakan yang bernama Sa`id serta adik perempuanmu telah mengikuti agama baru yang dibawa Nabi Muhammad. Oleh karena itu, akan lebih baik jika anda kembali menghubungi mereka.” `Umar cepat-cepat memburu iparnya di rumah, tempat Khabba sedang membaca Surah Taha dari sepotong tulisan Al-­Qur’an. Saat mereka dengar suara ‘Umar, Khabba lari masuk ke kamar kecil, sedang Fatima mengambil kertas kulit yang bertuliskan Al-Qur’an dan diletakkan di bawah pahanya… (1)

Cerita diatas terjadi saat permulaan dakwah Nabi Muhammad di Makkah. Pada cerita diatas kita ketahui dapat kita ambil kesimpulan bahwa pada saat itu ayat-ayat Al-Qur’an sudah mulai didokumentasikan (pada kertas kulit).

Kenyataan bahwa ayat-ayat Al-Qur’an sudah mulai ditulis pada saat di mekkah, pada awal-awal dakwah Nabi juga dicatat oleh Al-Kattani : Sewaktu Rafi` bin Malik al-Ansari menghadiri baiah al-‘Aqaba, Nabi Muhammad menyerahkan semua ayat-ayat yang diturunkan pada dasawarsa sebelumnya. Ketika kembali ke Madinah, Rafi` mengumpulkan semua anggota sukunya dan membacakan di depan mereka.(2)

Penulis wahyu pada periode ini antara lain  ‘Abdullah bin Sa’d bin ‘Abi as­Sarh (3,4) dan Khalid bin Sa’id bin al-‘As. Khalid bin Sa’id bin al-‘As pernah mengatakan, “Saya orang pertama yang menulis ‘Bismillah ar-Rahman ar­Rahim’.(5)

2. Periode Madinah

Pada periode Madinah kita memiliki cukup banyak informasi termasuk sejumlah nama, lebih kurang enam puluh lima sahabat yang ditugaskan oleh Nabi Muhammad bertindak sebagai penulis wahyu. Mereka adalah Abban bin Sa’id, Abu Umama, Abu Ayyub al-Ansari, Abu Bakr as-Siddiq, Abu Hudhaifa, Abu Sufyan, Abu Salama, Abu ‘Abbas, Ubayy bin Ka’b, al-Arqam, Usaid bin al-Hudair, Aus, Buraida, Bashir, Thabit bin Qais, Ja` far bin Abi Talib, Jahm bin Sa’d, Suhaim, Hatib, Hudhaifa, Husain, Hanzala, Huwaitib, Khalid bin Sa’id, Khalid bin al-Walid, az-Zubair bin al-`Awwam, Zubair bin Arqam, Zaid bin Thabit, Sa’d bin ar-Rabi`, Sa’d bin `Ubada, Sa’id bin Sa`id, Shurahbil bin Hasna, Talha, `Amir bin Fuhaira, `Abbas, `Abdullah bin al-Arqam, `Abdullah bin Abi Bakr, `Abdullah bin Rawaha, `Abdullah bin Zaid, `Abdullah bin Sa’d, ‘Abdullah bin ‘Abdullah, ‘Abdullah bin ‘Amr, ‘Uthman bin ‘Affan, Uqba, al­’Ala bin ‘Uqba, ‘All bin Abi Talib, ‘Umar bin al-Khattab, ‘Amr bin al-‘As, Muhammad bin Maslama, Mu’adh bin Jabal, Mu’awiya, Ma’n bin ‘Adi, Mu’aqib bin Mughira, Mundhir, Muhajir, dan Yazid bin Abi Sufyan. (6)

Saat wahyu turun, Nabi Muhammad secara rutin memanggil para penulis yang ditugaskan agar mencatat ayat itu.(7) Zaid bin Thabit menceritakan sebagai ganti atau mewakili peranan dalam Nabi Muhammad, la sering kali dipanggil diberi tugas penulisan saat wahyu turun.(8) Sewaktu ayat al-jihad turun, Nabi Muhammad memanggil Zaid bin Thabit membawa tinta dan alat tulis dan kemudian mendiktekannya; ‘Amr bin Um-Maktum al-A’ma duduk menanyakan kepada Nabi Muhammad, “Bagaimana tentang saya? Karena saya sebagai orang yang buta.” Dan kemudian turun ayat, “ghair uli al-darar”(9) (bagi orang­-orang yang bukan catat).[10] . Saat tugas penulisan selesai, Zaid membaca ulang di depan Nabi Muhammad agar yakin tak ada sisipan kata lain yang masuk ke dalam teks.(11)

Setelah Nabi Muhammad Wafat

“Saat Nabi Muhammad wafat, Al-Qur’an masih belum dikumpulkan dalam satuan bentuk buku.“(12)

Di sini kita perlu memperhatikan penggunaan kata ‘pengumpulan’ bukan ‘penulisan’. Sebenarnya, Kitab Al-Qur’an telah ditulis seutuhnya sejak zaman Nabi Muhammad. Hanya saja belum disatukan dan surah-surah yang ada juga masih belum tersusun.”(13)

Kompilasi Al-Qur’an menjadi satu buah buku terjadi pada saat pemerintahan khalifah Abu Bakar.

Zaid melaporkan:

Abu Bakr memanggil saya setelah terjadi peristiwa pertempuran al­Yamama yang menelan korban para sahabat sebagai shuhada. Kami melihat saat ‘Umar ibnul Khattab bersamanya. Abu Bakr mulai berkata,” ‘Umar baru saja tiba menyampaikan pendapat ini, ‘Dalam pertempuran al-Yamama telah menelan korban begitu besar dari para penghafal Al­Qur’an (qurra’), dan kami khawatir hal yang serupa akan terjadi dalam peperangan lain. Sebagai akibat, kemungkinan sebagian Al-Qur’an akan musnah. Oleh karena itu, kami berpendapat agar dikeluarkan perintah pengumpulan semua Al-Qur’an.” Abu Bakr menambahkan, “Saya kata­kan pada ‘Umar, ‘bagaimana mungkin kami melakukan satu tindakan yang Nabi Muhammad tidak pernah melakukan?’ ‘Umar menjawab, ‘Ini merupakan upaya terpuji terlepas dari segalanya dan ia tidak berhenti menjawab sikap keberatan kami sehingga Allah memberi kedamaian untuk melaksanakan dan pada akhirnya kami memiliki pendapat serupa. Zaid! Anda seorang pemuda cerdik pandai, dan anda sudah terbiasa menulis wahyu pada Nabi Muhammad, dan kami tidak melihat satu kelemahan pada diri anda. Carilah semua Al-Qur’an agar dapat dirang­kum seluruhnya.” Demi Allah, Jika sekiranya mereka minta kami me­mindahkan sebuah gunung raksasa, hal itu akan terasa lebih ringan dari apa yang mereka perintahkan pada saya sekarang. Kami bertanya pada mereka, ‘Kenapa kalian berpendapat melakukan sesuatu yang tidak pernah dilakukan oleh Nabi Muhammad?’ Abu Bakr dan ‘Umar bersikeras mengatakan bahwa hal itu boleh-boleh saja dan malah akan membawa kebaikan. Mereka tak henti-henti menenangkan rasa keberatan yang ada hingga akhirnya Allah menenangkan kami melakukan tugas itu, seperti Allah menenangkan hati Abu Bakr dan ‘Umar.(14)

Mushaf Usmani

Al-Qur’an yang berada ditangan umat muslim sekarang sering disebut sebagai Mushaf Usmani karena berkat jasa Usman-lah Al-Qur’an terjaga dari banyak versi penulisan. Sering terjadi fitnah kepada umat islam kalau Al-Qur’an yang ada sekarang merupakan Al-Qur’an versi Usman bin Affan, berbeda dengan Al-Qur’an pada zaman Nabi Muhammad karena pada zaman Usman Qur’an-qur’an yang ada dibakar kemudian hanya versi Usman yang dibiarkan tetap ada. Tuduhan ini tentu saja tidak berdasar. Pada saat Usman bin Affan, Islam sudah tersebar luas sampai ke propinsi lain. Berangkat dari suku kabilah dan provinsi yang beragam, Al-Qur’an diajarkan dalam dialek masing-masing daerah tersebut, karena dirasa sulit untuk meninggalkan dialeknya secara spontan. Oleh sebab itu, banyak versi Al-Qur’an yang ditulis dengan banyak dialek berbeda-beda. Khalifah Usman tidak setuju akan hal ini, karena dengan penulisan Al-Qur’an dalam bermacam dialek tentu saja akan membuat perubahan arti atau salah penafsiran terhadap kata-kata Al-Qur’an.

Hudhaifa bin al-Yaman dari perbatasan Azerbaijan dan Armenia, yang telah menyatukan kekuatan perang Irak dengan pasukan perang Suriah, pergi menemui ‘uthman, setelah melihat perbedaan di kalangan umat Islam di beberapa wilayah dalam membaca Al-Qur’an. Perbedaan yang dapat mengan­cam lahimya perpecahan. “Oh khalifah, dia menasihati, ‘Ambillah tindakan untuk umat ini sebelum berselisih tentang kitab mereka seperti orang Kristen dan Yahudi.’ (15)

Adanya perbedaan dalam bacaan Al-Qur’an sebenarnya bukan barang baru sebab ‘umar sudah mengantisipasi bahaya perbedaan ini sejak zaman pemerintahannya. Dengan mengutus Ibn Mas’ud ke Irak, setelah ‘umar diberitahukan bahwa dia mengajarkan AI-Qur’an dalam dialek Hudhail(16) (sebagaimana Ibn Mas’ud mempelajarinya), dan ‘umar tampak naik pitam:

AI-Qur’an telah diturunkan dalam dialek Quraish, maka ajarkanlah menggunakan dialek Quraish, bukan menggunakan dialek Hudhail.(17)

Hudhaifa bin al-Yaman mengingatkan khalifah pada tahun 25 H dan pada tahun itu juga ‘Uthman menyelesaikan masalah perbedaan yang ada sampai tuntas. Beliau mengumpulkan umat Islam dan menerangkan masalah perbedaan dalam bacaan AI-Qur’an sekaligus meminta pendapat mereka tentang bacaan dalam beberapa dialek, walaupun beliau sadar bahwa beberapa orang akan menganggap bahwa dialek tertentu lebih unggul sesuai dengan afliasi kesukuan.(18) Ketika ditanya pendapatnya sendiri beliau menjawab (sebagaimana diceritakan oleh ‘Ali bin Abi Talib),

“Saya tahu bahwa kita ingin menyatukan manusia (umat Islam) pada satu Mushaf (dengan satu dialek) oleh sebab itu tidak akan ada perbedaan dan perselisihan” dan kami menyatakan “sebagai usulan yang sangat baik).”(19)

Khalifah Usman bin Affan kemudian memperbanyak Al-Qur’an berdasarkan naskah asli yang ditulis pada zaman Nabi yang disipan di rumah Hafsa, Istri Nabi SAW. AI-Bara’ meriwayatkan:

Kemudian ‘Usman mengirim surat kepada Hafsa yang menyatakan. “Kirimkanlah Suhuf kepada kami agar kami dapat membuat naskah yang sempurna dan kemudian Suhuf akan kami kembalikan kepada anda.” Hafsa lalu mengirimkannya kepada ‘Uthman, yang memerintahkan Zaid bin Thabit, `Abdullah bin az-Zubair, Sa’id bin al-‘As, dan ‘Abdur­Rahman bin al-Harith bin Hisham agar memperbanyak salinan (duplicate) naskah. Beliau memberitahukan kepada tiga orang Quraishi, “Kalau kalian tidak setuju dengan Zaid bin Thabit perihal apa saja mengenai Al-Qur’an, tulislah dalam dialek Quraish sebagaimana Al-Qur’an telah diturunkan dalam logat mereka.” Kemudian mereka berbuat demikian, dan ketika mereka selesai membuat beberapa salinan naskah `Uthman mengembalikan Suhuf itu kepada Hafsa…20

Sejarah diatas adalah sepenggal kisah yang saya kutip sedikit dari buku “The History of Quranic Text; From Revelation to Compilation- Sejarah Teks Al-Qur’an dari Wahyu sampai Kompilasinya” karangan Prof.dr.MM.al A’zami. Bukunya dapat DIDOWNLOAD DISINI.

Sumber :

1.  Ibn Hisham, Sira, vol.l-2, hlm. 343-46.

2. Al-Kattani, al-Tarat76 al-Idariya, 1: 44, dengan mengutip pendapat Zubair bin Bakkar, Akhbar al-Madina

3. Ibn Hajar, Fathul Bari, ix: 22.

4.  Untuk lebih jelas, harap dilihat M.M. al-A’zami, Kuttab an-Nabi, Edisi ke-3, Riyad, 1401 (1981), hlm.83-89.

5.  As-Suyuti, ad-Dur al-Manthur, i: 11.

6. Untuk lebih jelas harap dilihat M.M, A’zami, Kuttab an-Nabi.

7. Abu ‘Ubaid , Fada’il, hlm. 280; Lihat juga Ibn Hajar, Fathul Bari, ix: 22, mencatat pendapat `Uthman dengan merujuk pada Sunan at-Tirmidhi, an-Nasa’i, Abu Dawud, dan al-Hakim dalam al­Mustadrak.

8. Ibn AM Dawud, al-Masahif, hlm.3; Lihat juga al-Bukhari, Sahih, Fada’il Al-Qur’an: 4.
9. Qur’an, 4: 95.

10. Ibn Hajar, Fath al Bari , ix: 22; as-Sa’ati, Minhat al-Ma’bud, ii: 17.

11. As-Suli, Adab ul-Kuttab, hlm. 165; al-Haithami, Majma` az-Zawaid, i: 52.

12. Ibn Hajar, Fathul Bari, ix: 12; Lihat juga al-Bukhari, Sahih, Jami’ Al-Qur’an, hadith.4986.

13.  As-Suyuti, al-Itqan, i:164.

14. Al-Bukhari, sahih, Jam’i Al-Qur’an, hadith, no. 4986; lihat juga Ibn Abi Dawud, al-Masahif,

15. AI-Bukhari, Sahih, hadith no. 4987; Abu ‘Ubaid, FadA’il, hlm. 282. terdapat banyak lagi laporan tentang masalah ini.

16. Salah satu suku mayoritas di daratan Arabia pada zaman itu.

17.  Ibn Hajar, Fathul Bari, ix: 9, Kutipan Abu Dawud

18.  Lihat Abi Dawud, al -Masahif, hlm. 22. Dalam kejadian ini banyak perbedaan pendapar telah diberikan dalam menentukan tahun yang sebenar dari tahun 25-30 Hijrah. Saya mengadopsi pendirian Ibn Hajar. Lihat as Suyuti, al-Itqan, I : 170.

19. Ibn Abi Dawud, al-Magahif, hlm. 22. Lihat juga Ibn Hajar, Farhul Bari, x: 402.

20. Ibn Hajar, Fathul Bari, ix: ii, hadith no. 4987; Ibn Abi Dawud, al-Masahif, hlm. 19-20; Abu ‘Ubaid, Fada’il, hlm. 282

Sejarah diatas adalah sepenggal kisah yang saya kutip sedikit dari buku “The History of Quranic Text; From Revelation to Compilation- Sejarah Teks Al-Qur’an dari Wahyu sampai Kompilasinya” karangan Prof.dr.MM.al A’zami. Bukunya dapat DIDOWNLOAD DISINI.

48 Komentar

  1. than said,

    Juni 26, 2010 pada 5:07 pm

    Apakah Al-quran bisa dipercaya dengan banyaknya versi pengumpulannya dan apakah ada bukti Al-quran ada sezamannya Nabi atau Uthman , kalau ada tahun berapa yang paling tua , semua cuma duga-duga. Tertutup untuk diteliti .

    • September 4, 2012 pada 3:10 pm

      mana didugaduga, baca dulu sejarahnya baru komentar bray, tkut ketahuan tuh kitabnya gimna?

  2. Bandot tua said,

    Januari 24, 2011 pada 11:23 am

    terlalu jau jarak penyusunan .dengan wafatnya muhammad…aku nga yakin .masah asli….200 tahun bukan waktu kemarin.ada 3 generasi yang terlewatkan..politik dan kekuasaan usmand mempengaruhi..penyusunan kembali quran…………..

  3. mshevasheva said,

    September 1, 2011 pada 11:15 am

    mengapa Tuhan menyebut diriNya , memakai Kami… bukankah Tuhan cuma 1….?

    • September 4, 2012 pada 3:12 pm

      pertanyaan yang bagus, karena kata kami didalam bahasa arab mempunyai arti memuliakan diri, karna allah maha mulia.

  4. Ali Sina Suka esek-esek said,

    September 9, 2011 pada 4:38 pm

    Kata KAMI digunakan untuk menerangkan para hamba Allah seperti Malaikat, Nabi(Rasull)……………

  5. 354 said,

    Oktober 20, 2011 pada 5:57 pm

    BARANGSIAPA YG TIDAK PERCAYA PADA SATU AYAT ALQURAN PUN MAKA DIA (ORANG) DIKATAKAN KAFIR
    ORANG KAFIR ADALAH NERAKA

    • rianti said,

      Desember 1, 2013 pada 5:25 pm

      adakah yang dapat menerangkan <mengapa di quran mengatakan bahwa Isa itu mengetahui hari kiamat (Qs 43:61),diayat lain mengatakan hanya Allah yang mengetahui hari kiamat Qs31:34. lalu siapakah Isa ini?

      • dwianto said,

        Agustus 20, 2014 pada 12:25 pm

        Disandur dari hamba Allah : Jangan memaksakan pemahaman dan pola pikir anda yang dangkal, sob…..kenapa tidak bisa jujur bahwa anda buta akan Islam ??!!!…..bahkan buta akan iman………..
        KEBIASAAN BURUK NON-MUSLIM…PALING SUKA MERAKYASA/EDIT MENGEDIT…mulailah belajar jujur, sob………..

        61 Dan sesungguhnya Isa itu benar-benar memberikan pengetahuan tentang hari kiamat. Karena itu janganlah kamu ragu-ragu tentang kiamat itu dan ikutilah Aku. Inilah jalan yang lurus. 62 Dan janganlah kamu sekali-kali dipalingkan oleh setan, sesungguhnya setan itu musuh yang nyata bagimu. 63 Dan tatkala Isa datang membawa keterangan dia berkata, “Sesungguhnya aku datang kepadamu dengan membawa hikmat dan untuk menjelaskan kepadamu sebagian dari apa yang kamu berselisih tentangnya, maka bertakwalah kepada Allah dan taatlah (kepada)ku.” 64 Sesungguhnya Allah Dialah Tuhanku dan Tuhan kamu, maka sembahlah Dia, ini adalah jalan yang lurus.
        =======================================…

        >>Al Masih putera Maryam itu hanyalah seorang Rasul yang sesungguhnya telah berlalu sebelumnya beberapa rasul, dan ibunya seorang yang sangat benar, kedua-duanya biasa memakan makanan. Perhatikan bagaimana Kami menjelaskan kepada mereka (ahli kitab) tanda-tanda kekuasaan (Kami), kemudian perhatikanlah bagaimana mereka berpaling (dari memperhatikan ayat-ayat Kami itu). (Surah Al Maa’idah ayat 75)

        >>Dan (ingatlah) ketika Allah berfirman: “Hai Isa putera Maryam, adakah kamu mengatakan kepada manusia: “Jadikanlah aku dan ibuku dua orang tuhan selain Allah?”. Isa menjawab: “Maha Suci Engkau, tidaklah patut bagiku mengatakan apa yang bukan hakku (mengatakannya). Jika aku pernah mengatakan maka tentulah Engkau mengetahui apa yang ada pada diriku dan aku tidak mengetahui apa yang ada pada diri Engkau. Sesungguhnya Engkau Maha Mengetahui perkara yang ghaib-ghaib”. Aku tidak pernah mengatakan kepada mereka kecuali apa yang Engkau perintahkan kepadaku (mengatakan)nya yaitu: “Sembahlah Allah, Tuhanku dan Tuhanmu”, dan adalah aku menjadi saksi terhadap mereka, selama aku berada di antara mereka. Maka setelah Engkau wafatkan aku, Engkau-lah yang mengawasi mereka. Dan Engkau adalah Maha Menyaksikan atas segala sesuatu. (Surah Al Maa’idah ayat 116-117)
        —–
        >>“Hai nabi, Sesungguhnya kami mengutusmu untuk jadi saksi, dan pembawa kabar gembira dan pemberi peringatan.” (QS. Al Ahzab : 45)

        >>“Berapa banyaknya nabi-nabi yang telah kami utus kepada umat-umat yang terdahulu. Dan tiada seorang nabipun datang kepada mereka melainkan mereka selalu memperolok-olokkannya.” (QS. Az Zukhruf : 6 – 7)

        >>“Muhammad itu sekali-kali bukanlah bapak dari seorang laki-laki di antara kamu., tetapi dia adalah Rasulullah dan penutup nabi-nabi. dan adalah Allah Maha mengetahui segala sesuatu.” (QS. Al Ahzab : 40)


        asyhadu an-laa ilaaha illallaah..wa asyhadu anna muhammadan rasuulullaah
        Source:
        Surah Al-Ikhlas: 1-4:
        1 Katakanlah, “Dia-lah Allah, Yang Maha Esa,
        2 Allah adalah Tuhan yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu.
        3 Dia tiada beranak dan tiada pula diperanakkan,
        4 dan tidak ada seorang pun yang setara dengan Dia.”

  6. dt said,

    November 24, 2011 pada 1:03 pm

    kalo kata KAMI diartikan allah+para hambanya berarti anda menyekutukan allah karna anda menganggap hamba2nya sederajat dgn allah,lagian apa allah begitu bodoh dan tidak berkuasa sehingga dlm menjaga firmannya saja tidak mampu..kalo jawab pakai logika dong..itulah kelemahan quran katanya mengajarkan tauhid tp disisi laen allah SWT selalu menyebut dirinya dgn KAMI

    • cempedi13 said,

      November 1, 2014 pada 8:21 pm

      Kata “Kami” dalam Al Qur’an mengacu kepada Allah bermakna TUNGGAL, gitu aja kok repot. Kan sudah jelas surah Al Ikhlas ayat 1 yang artinya : “Katakanlah, “Dia-lah Allah, Yang Maha Esa”

  7. code name 'fascho' said,

    Januari 13, 2012 pada 9:28 pm

    kata kami itu digunakan allah untuk meghrmati dirinya sendiri

    sama seperti antum dalam bahasa arab

  8. m kibuli aw said,

    Juli 24, 2012 pada 2:23 pm

    Wahyu katanya diterima di Goa Hira pada waktu Nabi ini mengasingkan diri . Yang bersangkutan bertapa atau semedi atu yoga di dalam Goa ? Apa tidak mungkin jin atau setan yg membisiki ayat – ayat itu ? Apa ada saksi ? Orang dituduh berjinah saja minimal saksinya tiga orang baru bisa dipercaya , kalau tidak ada saksi jadinya fitnah . Melihat watak / karakter orang Arab secara umum , mungkin saja ada manipulasi informasi yang sudah terlanjur bergulir sejak lama dan harus dengan segala macam upaya dan cara dipertahankan sehingga seolah – olah memang benar adanya .Kalau demikian kenapa kaum ini cepat menjadi beringas dan biadab kalau agamanya di kritisi ?

    • rianti said,

      Desember 1, 2013 pada 5:28 pm

      apakah seorang nabi tidak dijaga mulutnya oleh Allah? sehingga sempat mengeluarkan ayat2 yang dibisikkan oleh setan ?

      • dwianto said,

        Agustus 20, 2014 pada 12:27 pm

        ayat mana yang anda maksudkan??? ..

  9. Zabir said,

    Juli 25, 2012 pada 3:55 pm

    Katakanlah benar bahwa Nabi Muhammad buta huruf seperti yang diriwayatkan, sehingga hal ini dijadikan argumentasi bahwa ayat – ayat di Alquran bukan hasil jiplakan dari kitab – kitab yg sudah ada sebelumnya . Lalu ayat – ayat itu ditulis dan dibukukan setelah ratusan tahun Muhammad mati oleh orang – orang yang bukan Nabi .Mungkin tidak ada yang terlewatkan ? Setelah Muhammad mati terjadi perpecahan bahkan pertentangan antara turunan asli Muhammad dengan turunan sahabat – sahabatnya . Mungkin tidak ada pengaruh kondisi perebutan kepentingan saat itu terhadap penulisan Alquran ? Semua serba mungkin , sekarang tinggal tergantung nurani setiap orang menerima hal ini dihadapkan dengan kenyataan setelah 1400 tahun lebih Islam ada selalu ada pertentangan diantara pemeluknya sendiri dalam menjabarkan dan mengamalkan ajarannya.

  10. Moses Djojonegoro said,

    Juli 31, 2012 pada 12:09 pm

    (Kidung Agung 7:1-13)

    Betapa indah langkah-langkahmu dengan sandal-sandal itu, puteri yang berwatak luhur! Lengkung pinggangmu bagaikan perhiasan, karya tangan seniman.

    Pusarmu seperti cawan yang bulat, yang tak kekurangan anggur campur. Perutmu timbunan gandum, berpagar bunga-bunga bakung.

    Seperti dua anak rusa buah dadamu, seperti anak kembar kijang.

    Lehermu bagaikan menara gading, matamu bagaikan telaga di Hesybon, dekat pintu gerbang Batrabim; hidungmu seperti menara di gunung Libanon, yang menghadap ke kota Damsyik.

    Kepalamu seperti bukit Karmel, rambut kepalamu merah lembayung; seorang raja tertawan dalam kepang-kepangnya.

    Betapa cantik, betapa jelita engkau, hai tercinta di antara segala yang disenangi.

    Sosok tubuhmu seumpama pohon korma dan buah dadamu gugusannya.

    Kataku: “Aku ingin memanjat pohon korma itu dan memegang gugusan-gugusannya. Kiranya buah dadamu seperti gugusan anggur dan nafas hidungmu seperti buah apel.

    Kata-katamu manis bagaikan anggur!” Ya, anggur itu mengalir kepada kekasihku dengan tak putus-putusnya, melimpah ke bibir orang-orang yang sedang tidur!

    Kepunyaan kekasihku aku, kepadaku gairahnya tertuju.

    Mari, kekasihku, kita pergi ke padang, bermalam di antara bunga-bunga pacar!

    Mari, kita pergi pagi-pagi ke kebun anggur dan melihat apakah pohon anggur sudah berkuncup, apakah sudah mekar bunganya, apakah pohon-pohon delima sudah berbunga! Di sanalah aku akan memberikan cintaku kepadamu!

    Semerbak bau buah dudaim; dekat pintu kita ada pelbagai buah-buah yang lezat, yang telah lama dan yang baru saja dipetik. Itu telah kusimpan bagimu, kekasihku!

    (Firman Tuhan atau rangsangan sex?)

    • rianti said,

      Desember 1, 2013 pada 5:33 pm

      tetapi islam menganjurkan mengimani taurat dan injil,apakah ayat2 diatas palsu? kalau palsu mengapa anda posting? kalau tidak palsu mengapa tidak anda imani?kalau ketika quran diturunkan injil dan taurat sudah tidak asli untuk apa Allah menurunkan ayat untuk mengimaninya? kalau ada yang asli mengapa tidak disimpan untuk bukti dan supaya umat islam dapat mengimani isinya?seseorang dapat mengklaim palsu tentu karena dia sudah tahu bentuk yang asli.

      • dwianto said,

        Agustus 20, 2014 pada 12:31 pm

        islam mengimami taurat dan injil yang mengajarkan ke Esaan Allah , Tuhan itu mengatur seluruh alam dan alam bukan cuma bumi, rianti saat yesus Tuhanmu hidup dan mengantur bumi menurutmu , siapakah yang mengatur alam semesta??? …, Yesus perlu makan minum dan dilahirkan, sementara Allah tidak butuh minum,tidak butuh makan dan tidak dilahirkan..

  11. Moses Djojonegoro said,

    Juli 31, 2012 pada 12:17 pm

    PROBLEM TEKS BIBEL

    Istilah “Bible” digunakan oleh Yahudi dan Kristen. Keduanya – meskipun memiliki konflik yang panjang dalam sejarah – berbagi irisan dalam soal Bibel. Hingga kini Bible (Latin: Biblia, artinya ‘buku kecil’; Yunani: Biblos) biasanya dipahami sebagai Kitab Suci kaum Kristen dan Yahudi. Namun, ada perbedaan antara kedua agama itu dalam menyikapi fakta yang sama, khususnya bagian yang oleh pihak Kristen disebut sebagai The Old Testament atau Perjanjian Lama. Istilah “Old Testament” ditolak oleh Yahudi karena istilah itu mengandung makna, perjanjian (covenant atau testament) Tuhan dengan Yahudi adalah Perjanjian Lama (Old Testament) yang sudah dihapus dan digantikan dengan “Perjanjian Baru” (New Testament), dengan kedatangan Jesus yang dipandang kaum Kristen sebagai Juru Selamat. Yahudi menolak klaim Jesus sebagai juru selamat manusia. 1
    Bagi Yahudi, yang disebut sebagai Bibel adalah 39 Kitab dalam ‘Perjanjian Lama’¬nya kaum Kristen, dengan sedikit perbedaan susunan. Yahudi menyebut Kitabnya ini sebagai Bible atau Hebrew Bible atau Jewish Bible. Kedudukan Bibel, yang didalamnya termuat Torah, bagi kaum Yahudi adalah sangat vital. Louis Jacobs, seorang teolog Yahudi merumuskan: “A Judaism without God is no Judaism. A Judaism without Torah is no Judaism. A Judaism without Jews is no Judaism.” Yang disebut Torah adalah lima kitab pertama dalam Hebrew Bible, yaitu Genesis (Kejadian), Exodus (Keluaran), Leviticus (Imamat), Numbers (Bilangan), dan Deuteronomy (Ulangan). 2
    Meskipun Hebrew Bible merupakan kitab yang sangat tua dan mungkin paling banyak dikaji manusia, tetapi tetap masih merupakan misteri hingga kini. Richard Elliot Friedman, dalam bukunya, Who Wrote the Bible, menulis, bahwa hingga kini siapa yang sebenarnya menulis Kitab ini masih merupakan misteri. (It is a strange fact that we have never known with certainty who produced the book that has played a central role in our civilization). Ia mencontohkan, the Book of Torah, atau The Five Book of Moses, diduga ditulis oleh Moses. Book of lamentation ditulis Nabi Jeremiah. Separoh Mazmur (Psalm) ditulis King David. Tetapi, kata Friedman, tidak seorang pun tahu, bagaimana penyandaran itu memang benar. The Five Book of Moses, kata Friedman, merupakan teka-teki paling tua di dunia (It is one of the oldest puzzles in the world). Tidak ada satu ayat pun dalam Torah yang menyebutkan, bahwa Moses adalah penulisnya. Sementara di dalamnya dalam teks-nya dijumpai banyak kontradiksi. 3
    Tentang problem otentisitas Bibel Yahudi – yang juga dijadikan oleh kaum Kristen sebagai Perjanjian Lama-nya – Th. C. Vriezen menulis:
    ”Ada beberapa kesulitan yang harus kita hadapi jika hendak membahas bahan sejarah
    Perjanjian Lama secara bertanggung jawab. Sebab yang utama ialah bahwa proses
    sejarah ada banyak sumber kuno yang diterbitkan ulang atau diredaksi (diolah
    1 CM Pilkington, Judaism, (London: Hodder Headline Ltd., 2003), hal. 17-20.
    2 CM Pilkington, Judaism, hal. 13.
    3 Richard Elliot Friedman, Who Wrote the Bible, (New York: Perennial Library, 1989), hal. 15-17.
    kembali oleh penyadur). Proses penyaduran turun-temurun itu ada untung ruginya. Salah satu keuntungannya ialah bahwa sumber-sumber kuno itu dipertahankan dan tidak hilang atau terlupakan. Namun, ada kerugiannya yaitu adanya banyak penambahan dan perubahan yang secara bertahap dimasukkan ke dalam naskah, sehingga sekarang sulit sekali untuk menentukan bagian mana dalam naskah historis itu yang orisinal (asli) dan bagian mana yang merupakan sisipan.” 4
    Problema lain dalam Hebrew Bible adalah soal standar moral para tokohnya. David, the King of Israel, digambarkan melakukan tindakan keji dengan melakukan perzinahan dengan Batsheba dan menjerumuskan suaminya, Uria, ke ujung kematian. Akhirnya, ia mengawini Batsheba dan melahirkan Solomon. Harper’s Bible Dictionary, mencatat sosok David sebagai: “The most powerful King of Biblical Israel.” Namun, David bukanlah sosok yang patut diteladani dalam berbagai hal. A Dictionary of the Bible mengungkap sederet kejanggalan perilaku dan moralitas David, sebagaimana tersebut dalam Bibel. Peperangan¬peperangan yang dilakukannya, terkadang diikuti dengan kekejaman yang ganas. Dan dosa besarnya, adalah perzinahannya dengan seorang perempaun cantik bernama Batsheba, yang ketika itu masih menjadi istri sah dari anak buahnya sendiri. “The great sins of his life, his adultery with Batsheba and murder of Uriah, are perhaps but the common crimes of an oriental despot; but so far as we can judge, they were not common to Israel, and David as well as his subjects knew of a higher moral standard.” 5 Kasus perzinahan dan perselingkuhan banyak tersebar dalam Bibel. Judah (Yehuda), tokoh Israel, anak Jacob dari Lea, berzina dengan menantunya sendiri yang bernama Tamar (Kejadian 38:1-11 dan 15¬18). Juga, Amon bin David diceritakan memerkosa adiknya sendiri. Kisah ini dengan sangat panjang dan secara terperinci diceritakan dalam 2 Samuel 13:1-22. Padahal, hukuman bagi pezina menurut Kitab Imamat 20, adalah hukuman mati.
    Kajian ilmiah terhadap teks Perjanjian Baru (The New Testament) yang berkembang pesat dikalangan teologi Kristen serta fakta sejarah dan sains dalam Bibel membuktikan banyaknya problema yang dihadapi. Dua pakar Yahudi, Israel Finkelstein dan Neil Asher Silberman, tahun 2002 lalu menulis buku: The Bible Unearthed: Archaelogy’s New Vision of Ancient Israel and the Origin of Its sacred Texts. Isinya memberikan kritik yang tajam terhadap berbagai data sejarah dalam Hebrew Bible. Profesor Bruce M. Metzger, guru besar bahasa Perjanjian Baru di Princeton Theological Seminary, menulis beberapa buku tentang teks Perjanjian Baru. Salah satu bukunya yang berjudul “The Text of the New Testament: Its Transmission, Corruption, and Restoration” (Oxford University Press, 1985) menunjukkan problematika teks yang serius. Dalam pembukaan bukunya yang lain berjudul “A Textual Commentary on the Greek New Testament”, (terbitan United Bible Societies, corrected edition tahun 1975), Metzger menjelaskan adanya dua kondisi yang selalu dihadapi oleh interpreter Bibel, yaitu (1) tidak adanya dokumen Bibel yang original saat ini, dan (2) bahan¬bahan yang ada pun sekarang ini bermacam-macam, dan berbeda satu dengan lainnya.
    Dalam bukunya itu Metzger menjelaskan bahwa The New Testament yang asalnya berbahasa Yunani (Greek) itu mengalami problem kanonifikasi yang rumit. Banyaknya manuskrip menyebabkan keragaman versi Bibel teks tidak dapat dihindari. Hingga kini, ada
    4 Th.C.Vriezen ,Agama Israel Kuno, (Jakarta: Badan Penerbit Kristen, 2001), hal. 7.
    5 Paul J. Achtemeier (ed), Harper’s Bible Dictionary, (New York: Harper San Francisco, 1985), hal. 208; James Hastings (ed), A Dictionary of the Bible, (Edinburg: T&T Clark, Edinburg, 1910), Vol 1, hal. 572.Kisah perzinahan David dengan Batsheba dan jebakannya terhadap Uria diceritakan dalam 2 Samuel 11:2-5 dilanjutkan ayat 13-17.
    sekitar 5000 manuskrip teks Bibel dalam bahasa Greek, yang berbeda satu dengan lainnya. Cetakan pertama The New Testament bahasa Greek terbit di Basel pada 1516, disiapkan oleh Desiderius Erasmus. (Ada yang menyebut tahun 1514 terbit The New Testament edisi Greek di Spanyol). Karena tidak ada manuskrip Greek yang lengkap, Erasmus menggunakan berbagai versi Bibel untuk melengkapinya. Untuk Kitab Wahyu (Revelation) misalnya, ia gunakan versi Latin susunan Jerome, Vulgate. Padahal, teks Latin itu sendiri memiliki keterbatasan dalam mewakili bahasa Greek. 6 Dalam bukunya yang lain, The Early Versions of the New Testaments, Metzger mengutip tulisan Bonifatius Fischer, yang berjudul, “Limitation of Latin in Representing Greek”: “Although the Latin language is in general very suitable for use in making a translation from Greek, there still remain certain features which can not be expressed in Latin.” 7
    Memang bahasa asli Bibel menjadi salah satu sebab penting timbulnya persoalan makna-makna dalam teks itu dan sudah tentu interpretasinya. Tahun 1519, terbit edisi kedua Teks Bibel dalam bahasa Yunani. Teks ini digunakan oleh Martin Luther dan William Tyndale untuk menerjemahkan Bibel dalam bahasa Jerman (1522) dan Inggris (1525). Tahun-tahun berikutnya banyak terbit Bibel bahasa Greek yang berbasis pada teks versi Byzantine. Antara tahun 1516 sampai 1633 terbit sekitar 160 versi Bibel dalam bahasa Greek. Dalam edisi Greek ini dikenal istilah Textus Receptus yang dipopulerkan oleh Bonaventura dan Abraham Elzevier. Namun, edisi ini pun tidak jauh berbeda dengan 160 versi lainnya. Meskipun sekarang telah ada kanonifikasi, tetapi menurut Metzger, adalah mungkin untuk menghadirkan edisi lain dari The New Testament.(the way is open for the possible edition of another book or epistle to the New Testament canon). 8 Jadi karena Bibel asli tidak ditemukan maka teks standar untuk membuat berbagai versi pun tidak ada. Problem teks Bibel ini diperparah lagi oleh tradisi Kependetaan (Rabbanic Tradition) yang memberikan kuasa agama secara penuh kepada gereja.
    Studi kritik Bibel
    Dalam tradisi Kristen, studi tentang kritik Bibel dan kritik teks Bibel memang telah berkembang pesat. Dr. Ernest C. Colwell, dari School of Theology Claremont, misalnya, selama 30 tahun menekuni studi ini, dan menulis satu buku berjudul “Studies in Methodology in Textual Criticism on the New Testatement”. Buku-buku karya Prof. Bruze
    M. Metzger, guru besar The New Testament di Princeton Theological Seminary, menunjukkan, bagaimana kuatnya tradisi kajian kritis terhadap Teks Bibel. Juga, Werner Georg Kume, The New Testament: The History of the Investigation of Its Problem, (Nashville: Abingdon Press, 1972). Oxford Concise Dictionary of the Christian Church” (Oxford University Press, 1996) menulis tentang ‘critical study of the Bibel’ yang berkembang pesat abad ke-19: “It sets out from the belief that an ancient writing must be interpreted in its historical perspective and related to the circumstances of its composition
    6 Bruce M. Metzger, A Textual Commentary on the Greek New Testament”, (Stutgard: United Bible Societies, 1975), hal. xiii-xxi. Juga, Werner Georg Kume, The New Testament: The History of the Investigation of Its Problem, (Nashville: Abingdon Press, 1972), hal. 40.
    7 Bruce M. Metzger, The Early Versions of the New Testaments, (Oxford: Clarendon Press, 1977), hal. 362¬
    365. 8 Bruce M. Metzger, The Canon of the New Testament: Its Origin, Development, and Significance, (Oxford:Clarendon Press, 1987), hal. 273; juga lihat, Bruce M. Metzger, A Textual Commentary on the Greek New Testament”, hal. xxii-xxiv.
    and its meaning and purpose for its author and first readers.” Reginald H. Fuller, dalam bukunya berjudul A Critical Introduction to the New Testament, (London: Gerald Duckworth & Co Ltd, 1979), menulis: “That is why if we are to understand what the New Testament texts were meant to say by the authors when they were first written… we must first understand the historical situation in which they were first written.”
    Fenomena dalam tradisi Kristen itu sangat berbeda dengan apa yang terjadi dalam tradisi Islam. Kaum Muslim, sepanjang sejarahnya, tidak pernah menggugat atau mempersoalkan otentisitas teks al-Quran. Kaum Muslim yakin, bahwa al-Quran adalah – lafdhan wa ma’nan – dari Allah SWT. Al-Quran telah tercatat dengan baik sejak masa Nabi Muhammad saw. Catatan al-Quran berbeda dengan al-hadith. Bahkan, untuk menjaga otentisitas dan kemurnian al-Quran, Nabi Muhammad saw pernah menyatakan: “Jangan tulis apa pun yang berasal dari ku kecuali al-Quran, dan siapa pun yang telah menulis dari
    9
    ku selain al-Quran, hendaklah ia menghapusnya.”
    Ada sebagian kalangan yang dengan keliru mencoba menyamakan – sadar atau tidak –antara problema teks Bibel dengan al-Quran. Padahal, Bibel (The New Testament) ditulis antara tahun 60-90 M, atau sekitar 30-60 tahun setelah masa Jesus. John Young, dalam Christianity, menyebut bahwa Gospel Markus adalah yang tertua dan selesai ditulis sekitar tahun 65 M. Sedangkan Dr. C. Groenen OFM, dalam bukunya, Pengantar ke Dalam Perjanjian Baru, menulis: “Karangan tertua (1Tes) ditulis sekitar th. 41 dan yang terakhir (entah yang mana) sekitar th. 120.” 10
    Dalam bukunya, Groenen menjelaskan perbedaan antara Konsep al-Quran sebagai ‘firman Allah’ dan Bibel sebagai ‘firman Allah’. Dia menulis, bahwa di kalangan Kristen, Bibel juga disebut ‘firman Allah yang tertulis’. Tetapi, beda dengan al-Quran, Bibel adalah “Kitab suci yang diinspirasikan oleh Allah.” 11 Tentang makna “inspirasi”, Groenen menulis:
    “Kadang kadang “inspirasi” itu diartikan seolah-olah Allah “berbisik-bisik” kepada
    penulis. Seolah-olah Allah mendiktekan apa yang harus ditulis. Lalu orang berkata
    bahwa Kitab Suci mirip dengan “suara rekaman”. Boleh jadi saudara-saudara
    muslimin dapat memahami kiasan macam itu sehubungan dengan al-Quran. Tetapi,
    ucapan itu kurang tepat kalau dipakai sehubungan dengan Alkitab umat Kristen.
    Sejarah terbentuknya Alkitab memustahilkan kiasan semacam itu. Adakalanya orang
    sampai menyebut Kitab Suci sebagai “surat Allah kepada umat-Nya”. Tetapi pikiran
    itu sedikit kekanak-kanakan dan tidak sesuai dengan kenyataan. Tidak dapat
    9 Makna hadith ini telah banyak dibahas pakar hadith. Imam Bukhari menyatakan, bahwa itu adalah ungkapan pribadi Abu Sa’id al-Khudri, karena bertentangan dengan banyak hadith lainnya. Bisa juga dipahami, bahwa larangan Nabi tersebut bersifat khusus, dalam kondisi atau untuk orang tertentu, sebab pada saat yang sama Nabi juga memerintahkan pencatatan tentang berbagai hal, seperti surat-surat beliau kepada sejumlah kepala negara. Bisa jadi, yang dilarang adalah mencatat al-Quran dan hadith di tempat yang sama. Lihat: M.M. Azhami, Studies in Early Hadith Literature, (Kuala Lumpur: Islamic Book Trust, 2000), hal. 21-24. Kajian yang komprehensif tentang otentisitas Mushaf Utsmani dan perbadingannya dengan Bible, bisa dilihat buku The History of the Qur’anic Text, karya Musthafa A’zhami.
    10 Young, Paul, Christianity, (London: Hodder Headline Ltd., 2003), hal. 57. Dr. C. Groenen OFM, Pengantar ke Dalam Perjanjian Baru, (Jakarta: BPK, 1984), hal. 19.
    11 Dalam doktrin Kristen dikatakan: “The whole Bible is given by inspiration of God.” Dalam I Korinthus 2:13, disebutkan, Paulus mengucapkan kata-kata yang diajarkan oleh Roh Kudus.” Lihat: Louis Berkhof, A Summary of Christian Doctrine, (London: The Banner of Truth Trust, 1978), hal. 16-17.
    dikatakan bahwa (semua) penulis suci “mendengar suara Allah yang mendiktekan” sesuatu. Mereka malah tidak sadar bahwa sedang menulis Kitab Suci!” 12
    Masalah “inspirasi” ini mendapat kajian luas dalam studi Bibel. Stefen Leks, dalam bukunya, Inspirasi dan Kanon Kitab Suci, menulis sejarah panjang perdebatan dan pemahaman di kalangan Kristen tentang makna “inspirasi” itu. Akhirnya, setelah mengoleksi sejumlah pendapat tokoh-tokoh Gereja tentang makna “inspirasi”, penulis buku ini menulis satu sub bab berjudul: “Inspirasi: Masalah Yang Belum Tuntas”. Ditulis dalam buku ini:
    “Dalam “The Catholic Biblical Quarterly” 1982, No. 44, Thomas A. Hoffman SJ (Inspiration, Normativeness, Canonicity and the Unique Sacred Character of the Bibel) menulis bahwa ajaran tentang inspirasi biblis telah memasuki masa yang sulit. Pada tahun 50-an dan awal 60-an, beberapa ahli Katolik ternama (K. Rahner, JL Mckenzie, P. Benoit, LA Schoekel) bukan hanya menyibukkan diri dengan masalah inspirasi, melainkan juga mencetuskan sejumlah gagasan baru. Tetapi kini, sejmlah besar teolog berpendapat bahwa masalah itu sesungguhnya tak terpecahkan. (“there is no solution to this problem”).” 13
    Dalam bukunya ini, Laks juga mengutip ungkapan C. Groenen: “Apa itu inspirasi dan bagaimana jadinya, kurang jelas!”… “Konsili Vatikan II membiarkan halnya kabur dan hanya berkata tentang beberapa akibat inspirasi yang menyangkut hasilnya. Antara lain, secara tradisional, Allah dikatakan “author” (=pengarang) Kitab Suci, tetapi entahlah bagaimana kata itu mesti dipahami.” Selain itu, “Vatikan II menggarisbawahi bahwa inspirasi tidak mematikan aktivitas pribadi para penulis, sehingga betapa suci pun Alkitab, ia tetap manusiawi (bdk. DV, No. 13).” 14
    Stefen Laks juga membahas satu masalah yang menarik tentang “ketidaksalahan” Bibel. Dia menulis, bahwa berabad-abad lamanya Gereja Katolik menggunakan jargon “sine ullo errore” (tanpa kekeliruan apa pun). Selama berabad-abad Gereja lebih sering berbicara tentang Kitab Suci yang tidak keliru, daripada tentang kebenarannya. Setelah keluarnya Konstitusi ‘Dei Verbum’ dalam Konsili Vatikan II, Gereja mulai lebih mementingkan kebenaran Kitab Suci, daripada ketidaksesatannya. Selanjutnya ditulis:
    “Buku ini tidak dipandang lagi sebagai kumpulan kebenaran semata-mata melainkan lebih-lebih sebagai karya ajaib yang penuh dinamika. Kitab Suci bukan pertama-tama buku pengajaran belaka melainkan lebih-lebih buku kebenaran yang menyelamatkan. Kebenaran dalam arti demikian melekat pada teks-teks asli Kitab Suci saja (yang tentu saja tidak ada lagi!), sedangkan segala terjemahannya turut serta dalam nilai utama Kitab Suci itu sejauh dengan setia mengungkapkan apa yang diinspirasikan Allah dan diungkapkan dalam teksnya. Ketidakkeliruan melekat pada keseluruhan Kitab Suci, bukan pada penulis kitab tertentu ataupun pada kitab tertentu saja. Ketidakkeliruan dalam arti mutlak hanya melekat pada kebenaran penuh yaitu Yesus Kristus.” 15
    12 C. Groenen, Pengantar ke Dalam Perjanjian Baru, hal. 27.
    13 Stefen Leks, Inspirasi dan Kanon Kitab Suci, (Yogyakarta: Kanisius, 1992), hal. 128. 14 Ibid, hal. 128-129. Cetak tebal dari penulis. Ungkapan Groenen ini perlu digarisbawahi, sebab konsep “wahyu yang telah memanusia dan menyejarah” dari Kristen inilah yang tampak mempengaruhi pemikiran Nasr Hamid Abu Zayd, sehingga juga mendasari konsep barunya tentang al-Quran yang dia katakan sebagai produk budaya. Dengan begitu, dia bisa menerapkan metode kajian historis kritis terhadap teks al-Quran.
    15 Stefen Leks, Inspirasi dan Kanon Kitab Suc, hal. 94-95.
    Dengan kondisi teks Bibel seperti itu, maka, secara prinsip, teks al-Quran tidak mengalami problema sebagaimana problema yang dialami teks Bibel. Norman Daniel dalam bukunya, Islam and The West: The Making of an Image, menegaskan: “The Quran has no parallel outside Islam.” 16 Di kalangan Kristen, hanya kelompok fundamentalis saja yang masih mempercayai bahwa Bibel adalah ‘The Word of God/dei verbum’. 17
    I.J. Satyabudi, alumnus Universitas Kristen Satya Wacana, menulis dalam bukunya, Kontroversi Nama Allah, bahwa penemuan arkeologi biblika sejak tahun 1890 M, sampai 1976 M, telah menghasilkan 5366 temuan naskah-naskah purba kitab Perjanjian Baru berbahasa Yunani yang berasal dari tahun 135 M sampai tahun 1700 M yang terdiri dari 3157 manuskrip yang bervariasi ukurannya; mulai dari yang dari secarik kecil seukuran kartu kredit dari Papirus tahun 135 M sampai dengan manuskrip berisi keseluruhan kitab Perjanjian Baru yang berasal dari Kodek Perkamen tahun 340 M; dan 2209 leksionari yang berisi perikop Perjanjian Baru yang digunakan sebagai bacaan liturgi di Gereja. Dari 5366 salinan naskah itu, jika diperbandingkan, beberapa sarjana Perjanjian Baru menyebutkan adanya 50.000 perbedaan kata-kata. Bahkan ada beberapa sarjana yang menyebutkan angka 200.000-300.000 perbedaan kata-kata. Jadi, simpul IJ Satyabudi, “Maka, dari ke-3 angka perbedaan kata-kata di atas mana pun yang kita pilih akan tetap menghasilkan sebuah kesimpulan, yaitu sebuah kenyataan bahwa perbedaan kata-kata yang ada dalam ke-5366 nskah-naskah tersebut berkisar antara ½ –2 kali lebih banyak jika dibandingkan dengan
    138.162 kata yang ada dalam Kitab Perjanjian Baru itu sendiri.” 18
    Pengaruhnya ke dalam Islam
    Melihat kondisi Bibel semacam itu, sebagian cendekiawan Kristen kemudian berupaya mengajak kaum Muslim juga untuk juga mengkritisi teks al-Quran sebagaimana telah disebutkan sebelumnya, semisal oleh Alphonse Mingana, pendeta Kristen asal Irak dan guru besar di Universitas Birmingham Inggris. Pada tahun 1927, ia menulis:
    “The time has surely come to subject the text of the Kur’an to the same criticism as that to which we subject the Hebrew and Aramaic of the Jewish Bible, and the Greek of the Christian scriptures).” 19
    Setelah itu, berbondong-bondonglah orientalis yang melakukan kajian kritis terhadap teks al-Quran, sebagaimana sudah terjadi pada Bibel. Menurut mereka, bukankah al-Quran juga sebuah “teks” yang tidak berbeda dengan “teks Bibel”. Toby Lester dalam The Atlantic Monthly, Januari 1999, mengutip pendapat Gerd R. Joseph Puin, seorang orientalis pengkaji al-Quran, yang menyarankan perlunya ditekankan soal aspek kesejarahan al-Quran. “So many Muslims have this belief that everything between the two covers of the Koran is just God’s unaltered word,” (Dr. Puin) says. “They like to quote the textual work that shows that
    16 Norman Daniel, Islam and The West: The Making of an Image, (Oxford: Oneworld Publications, 1997), hal.
    53.
    17 Hans Kung, “What Is True Religion?” dalam Leonard Swidler (ed), Toward a Universal Theology of Religion, (New York: Orbis Book, 1987), hal. 200-201.
    18 I.J. Satyabudi, Kontroversi Nama Allah, (Jakarta: Wacana Press, 2004), hal. 150-152.
    19 Bulletin of the John Rylands Library (Manchester, 1927) XI: 77, seperti dikutip Dr. Syamsuddin Arif dalam artikelnya di Jurnal Al-Insan, edisi 1, Januari 2005, yang berjudul Al-Quran, Orientalisme, dan Luxenberg.
    The Bible has a history and did not fall straight out of the sky, but until now the Koran has been out of this discussion. The only way to break through this wall is to prove that the Koran has a history too.”
    Jadi, orang seperti Lester ini ingin agar kaum Muslim melepaskan keyakinannya, bahwa al-Quran adalah kata-kata Tuhan (kalam Allah) yang tidak berubah. Untuk menjebol tembok keyakinan umat Islam itu, menurut Puin, maka harus dibuktikan bahwa al-Quran juga memiliki aspek kesejarahan. Aspek historisitas al-Quran inilah yang harus ditekankan dalam pengkajian al-Quran, sebagaimana juga telah dilakukan orang-orang Kristen dan Yahudi di Barat terhadap Bibel.
    Disamping merujuk kepada sederet orientalis, Lester juga menyatakan kegembiraannya bahwa di dunia Islam, sejumlah orang telah melakukan usaha “revisi” terhadap paham tentang teks al-Quran sebagai kalam Allah. Diantaranya, ia menyebut nama Nasr Hamid Abu Zaid, Arkoun, dan beberapa lainnya.
    Michael Cook, dalam bukunya, The Koran: A Very Short Introduction, (2000:44), mengutip pendapat Nasr Hamid Abu Zayd – yang dia tulis sebagai “a Muslim secularist” – tentang al-Quran sebagai produk budaya: “If the text was a message sent to the Arabs of the seven century, then of necessity it was formulated in a manner which took for granted historically specific aspects of their language and culture. The Koran thus took shape in human setting. It was a ‘ cultural product’ – a phrase Abu Zayd used several times, and which was highlighted by the Court of Cassation when it determined him to be an
    20
    unbeliever.
    Mohammed Arkoun juga tercatat sebagai sarjana yang aktif mengajak kaum Muslim untuk mengkritisi al-Quran. Bahkan, ia secara terang-terangan menyayangkan, mengapa kaum Muslim tidak mau mengikuti jejak kaum Yahudi-Kristen. Kata Arkoun:
    “Sayang sekali kritik-kritik filsafat tentang teks-teks suci – yang telah diaplikasikan
    kepada Bibel Ibrani dan Perjanjian Baru, sekalipun tanpa menghasilkan konsekuensi
    negatif untuk ide wahyu, terus ditolak oleh pendapat kesarjanaan Muslim.” 21
    Sebagian kalangan Kristen, juga mengimbau dengan halus, agar kaum Muslim modern meninggalkan konsep lama mereka tentang al-Quran, bahwa teks al-Quran adalah Kalamullah, lafazh dan maknanya dari Allah SWT, dan sama sekali bebas dari unsur manusiawi, termasuk redaksi dari Nabi Muhammad saw. Michel J. Scanlon (Professor of systematic theology at the Washington Theological Union and president of the Catholic Theological Society of America), menyatakan, bahwa, karakter absolut al-Quran sebagai Kata-kata Tuhan adalah sikap tradisional kaum Muslim ortodoks (The absolute character of the Quran as the Word of God is a traditional tenet of Islamic orthodoxy). Ia mendukung gagasan, sebagaimana dalam Bibel, bahwa al-Quran adalah “reception of revelation”, sejenis inspirasi dari wahyu, sebagaimana dalam konsep Kristen. 22
    Hans Kung, pakar teologi Kristen, juga mengusulkan agar kaum Muslimin mau mengakui elemen kemanusiaan yang ikut bermain pada al-Quran. Kenneth Cragg, seorang
    20 Pendapat Lester dan Cook dikutip dari buku The History of the Qur’anic Text, From Revelation to Compilation: A Comparative Study with the Old and New Testament, karya MusÏafa A’zhami (Leicester: UK Islamic Academy, 2003), hal. 8-9.
    21 Mohammed Arkoun, Rethinking Islam, dikutip dari buku Adnin Armas, Metodologi Bibel dalam Studi al-Quran, hal. 63.
    22 Michel J. Scanlon, “Fidelity to Monotheism”, ins Ellis, Kail C. (ed), The Vatican, Islam, and the Middle East, Syracuse University Press, Syracuse, 1987, pp. 27-41.
    pemimpin Gereja Anglikan, mendesak kaum Muslimin untuk memikirkan ulang konsep wahyu tradisional Islam, sebagai konsesi kaum Muslimin dalam semangat pluralisme dialog antar agama saat ini. 23
    Perbedaan “konsep teks” antara al-Quran dan Bibel ini perlu dicermati oleh para cendekiawan Muslim, sebab ini akan berdampak pada penggunaan metode penafsiran. Para pemikir modernis atau post-modernis, sebagaimana Arkoun, Abu Zayd, Amina Wadud, telah melakukan generalisasi konsep teks, ketika mengadopsi teori-teori hermeneutika –yang biasa diterapkan untuk Bibel –untuk penafsiran al-Quran. Padahal, ada karakter yang sangat berbeda antara konsep teks al-Quran dan Bibel, begitu juga dengan metodologi penafsirannya.
    Sebagai contoh, dilakukannya pengembangan metodologi “tafsir kontekstual” yang keluar dari makna teks sama sekali, sehingga menghasilkan produk hukum yang sama sekali baru. Problem teks Bibel telah melahirkan banyak teori penafsiran yang bersifat kontekstual dan keluar dari makna teks secara literal. Secara serampangan, istilah “literalis” dan “kontekstualis” yang lahir dari tradisi Bibel ini kemudian juga diaplikasikan untuk kaum Muslim. Peradaban Islam sering disebut sebagai peradaban teks (hadharah al-nash), sehingga ada sebagian kalangan cendekiawan yang dengan mudahnya mengatakan, “Kita jangan mau dijajah oleh teks”.
    Sikap seperti ini bisa berlaku pada ilmuwan Barat, yang memang tidak lagi mempunyai teks suci untuk dijadikan pegangan. Mereka menolak teks Bibel, dan menggunakan segala cara agar teks Bibel itu tidak mengikat kehidupan mereka. Itu terjadi dalam kasus perzinahan, homoseksual, dan juga berbagai makanan yang diharamkan dalam Bibel. Ini sudah berlaku sejak dulu. The Letter of Barnabas (sekitar 100 M), misalnya, menginterpretasikan undang-undang tentang makanan dalam Kitab Imamat (Leviticus), bukan sebagai larangan untuk memakan daging hewan tertentu, tetapi lebih merupakan sifat¬sifat buruk yang secara imajinatif diasosiasikan dengan hewan-hewan itu. Jika dibaca dalam Bibel, Kitab Imamat 11:1-46, disebutkan daftar binatang yang haram dimakan, seperti unta, pelanduk, kelinci, babi, 24 burung rajawali, burung onta, burung camar, elang, burung pungguk, tikus, katak, landak, biawak, bengkarung, siput, dan bunglon. “Daging binatang¬binatang itu janganlah kamu makan dan bangkainya janganlah kamu sentuh; haram itu semuanya bagimu.” (ayat 8). Dalam Alkitab versi Lembaga Alkitab Indonesia tahun 2000,
    23 Dikutip dari M.M. A’zhami, The History of The Quranic Text (Terj.), hal. 354-355.
    24 Tentang binatang babi ini cukup menarik jika dicermati sejumlah versi teks Kitab Imamat 11:7-8. Dalam Alkitab versi Lembaga Alkitab Indonesia (LAI), tahun 1971 ditulis: “dan lagi babi, karena sungguh pun kukunya terbelah dua, ia itu bersiratan kukunya, tetapi dia tiada memamah biak, maka haramlah ia kepadamu. Djanganlah kamu makan daripada dagingnya dan djangan pula kamu mendjamah bangkainya, maka haramlah ia kepadamu.” Tetapi, dalam Alkitab versi LAI tahun 2004, kata babi sudah berubah menjadi babi hutan: “Demikian juga babi hutan, karena memang berkuku belah, yaitu kukunya bersela panjang, tetapi tidak memamah biak, haram itu bagimu. Daging binatang-binatang itu janganlah kamu makan dan bangkainya janganlah kamu sentuh; haram semuanya itu bagimu.” Dalam teks bahasa Inggris, versi The New Jerusalem Bible (1985), ayat itu ditulis: “you will regard the pig as unclean, because though it has a cloven hoof, divided into two parts, it is not a ruminant. You will not eat the meat of these or touch their dead bodies; you will regard them as unclean.” Dari ketiga teks itu bisa dilihat, bagaimana problem teks Bible sangat rumit dan pelik, karena tidak ada kitab standar dalam rujukan penerjemahan Bible. Dalam Kamus Indonesia-Inggris karya John M. Echols dan Hassan Shadily (Jakarta: Gramedia, 1994), kata babi diterjemahkan menjadi pig, hog, pork. Sedangkan kata ‘babi hutan’ diterjemahkan dengan ‘wild boar’. Dalam Good News Bible, terbitan United Bible Sicieties, 1976, ayat itu ditulis: “Do not eat pigs. They must be considered unclean; they have devided hoofs, but do not clew the cud. Do not eat these animals or even touch their dead bodies; they are unclean.”
    pasal 11 ini diletakkan di bawah tajuk “Binatang yang haram dan yang tidak haram.” Dalam ayat 35 disebutkan: “Kalau bangkai seekor dari binatang-binatang itu jatuh ke atas sesuatu benda, itu menjadi najis; pembakaran roti dan anglo haruslah diremukkan, karena semuanya itu najis dan haruslah najis juga bagimu.” 25
    Bisa dibayangkan, jika konsep makanan haram dan najis, ini diterapkan secara literal, apa jadinya orang Barat yang hobi makan babi dan memakan binatang yang jelas-jelas diharamkan dalam Bibel. Dengan kondisi faktual teks Bibel semacam itu, jelas sekali penafsiran secara literal tidak memungkinkan, sehingga hanya kalangan Kristen fundamentalis yang sangat naif, yang menafsirkan Bibel secara literal. 26
    Kondisi dan problem teks Bibel semacam itu tentu sangat berbeda dengan teks al-Quran. Tentang makanan haram, misalnya, jelas dikatakan dalam al-Quran, bahwa babi itu haram dimakan. Teks-nya jelas: “Diharamkan bagimu bangkai, darah, dan daging babi.” (QS Al-Maidah:3). Tidak ada masalah bagi umat Islam memahami ayat itu secara tekstual, sebab memang secara teks, babi itu diharamkan. Tidak ada perbedaan teks dalam soal ini. Karena al-Quran adalah berbahasa Arab, dan selain yang berbahasa Arab bukanlah al-Quran. Tidak ada perbedaan pendapat di kalangan umat Islam, bahwa babi adalah haram. Dan pemahaman itu dilakukan dengan melalui penafsiran secara tekstual. Kaum Muslimin selama ini juga paham, bahwa banyak ayat-ayat al-Quran yang tidak dapat dipahami secara tekstual begitu saja. Misalnya, ayat dalam surat al-Jumuah: “Fa idzaa qudhiyatishshalaatu fa intasharuu fi al-ardhi” (apabila selesai ditunaikan salat (Jumat), maka bertebaranlah kamu di muka bumi), oleh kaum Muslimin tidak dipahami bahwa setelah usai menunaikan salat Jumat maka mereka diwajibkan untuk bertebaran di muka bumi, dan tidak boleh tinggal berdiam diri di Masdjid. Meskipun redaksi ayat itu adalah perintah (fiil amar), tetapi tidak dipahami secara tekstual, bahwa bertebaran di muka bumi setelah salat Jumat adalah wajib.
    Jadi, al-Quran memang memiliki konsep teks dan metode penafsiran sendiri, yang berbeda dengan Bibel dan kitab-kitab lainnya. Masalah tafsir insyaallah akan di bahas dalam perkuliahan di masa mendatang. Wallahu a’lam.
    25 Contoh-contoh problematika teks Bible telah banyak saya paparkan dalam buku saya Tinjauan Historis Konflik Yahudi-Kristen-Islam (Jakarta: GIP, 2004).
    26 Vatikan juga mengritik keras cara penafsiran literal ala kaum fundamentalis Kristen. Dikatakan, “…fundamentalisme cenderung menganggap bahwa teks alkitabiah seolah-olah didektekan kata demi kata oleh Roh Kudus. Mereka tidak mampu mengakui bahwa Sabda Allah telah dirumuskan dalam bahasa dan ungkapan manusia yang terbentuk melalui berbagai periode. Dengan demikian, mereka juga tidak memperhatikan bentuk-bentuk sastra dan cara berpikir manusiawi yang ditemukan dalam teks alkitabiah, yang sebagian besar merupakan hasil dari suatu proses yang panjang selama periode waktu yang panjang dan yang memuat tanda situasi-situasi historis yang sangat beragam.” (Lihat, Penafsiran Alkitab dalam Gereja: Komisi Kitab Suci Kepausan, hal. 92-93). Paus Benediktus XVI, melalui bukunya, Biblical Interpretation in Crisis: The Ratzinger Conference on Bible and Church (1989), malah secara tajam menyatakan, bahaya fundamentalisme dalam penafsiran Bible. Ia mengajak untuk menafsirkan Bible dengan bijak sesuai konteks sejarah proses penyusunan teks Bible. (Libertus Jehani, Paus Benediktus XVI, Palang Pintu Iman Katolik, (Jakarta: Sinondang Media, 2005), hal. 32.

  12. Wiwin said,

    Agustus 8, 2012 pada 8:26 am

    Andaikan Nabi Ibrahim dulu isterinya satu , tidak akan terjadi perebutan tentang realitas kebenaran antara keturunan Ismail dengan keturunan Ishak . Tidak terjadi konflik berlarut -larut di Palestina memperebutkan Kanaan karena sudah terlanjur tersurat di kitab sucinya .Andaikan di ayat – ayat itu tidak mengkotak – kotakan umat manusia menjadi golongan kafir dan non kafir mungkin dunia damai. Andaikan tidak di iming – imingi masuk sorga bagi orang – orang yg berjihad dan berhasil membunuh sesama manusia karena beda agama mungkin dunia damai walaupun tidak ada agama damai .Semua serba mungkin apakah itu benar – benar wahyu karena sejarahnya sudah diputar balik .

  13. September 4, 2012 pada 3:45 pm

    mudah2an menjadi terang bagi mereka, makasih tambahannya Moses Djojonegoro

  14. andi said,

    Oktober 8, 2012 pada 2:09 pm

    sejarah itu buatan manusia , yang pasti bukan wahyu . Manusia pembuat sejarah ada yg jujur menulis sesuai fakta sejarah dan tentu ada juga yg menulis sesuai kepentingannya .Demikian pula penulisan sejarah bangsa Arab , sejarah tentang Alquran dan sejarah – sejarah yg lainnya. Apakah Alquran terjaga keasliannya ? Pertanyaannya apakah orang – orang Arab adalah orang yang terkenal dengan kejujurannya ? Bisa dijawab sendiri tentunya dengan mengedepankan ketulusan nurani dan jiwa besar apabila memang demikian adanya .

    • cempedi13 said,

      November 1, 2014 pada 8:48 pm

      Orang Arab yang mana…??? jumlah orang Arab itu ratusan juta banyaknya. Nabi Muhammad, para sahabat dan para Tabiin adalah orang2 yang jujur di zamannya. Nabi Muhammad itu mendapat gelar Al Amin artinya orang yang jujur (dapat dipercaya).

  15. sofyan said,

    Oktober 8, 2012 pada 8:08 pm

    alquran memang asli sesuai yg ditulis oleh pembuatnya. sesuai situasi dan kondisi di arab pada jaman itu . turunnya juga kan hanya muhammad yg tahu . itupun diceriterakan kepada isterinya .terus diyakini bahwa itu wahyu . ya begitulah bagi yg yakin dan percaya .semoga saja benar , sudah ribuan tahun yg lalu .sejarah arab juga sudah diputar balik , jadi tinggal percaya sajalah .

    • rianti said,

      Desember 1, 2013 pada 5:21 pm

      yang jelas ,Maria ibu yesus bukan saudara Harun dan Musa ,apalagi anak Imran,saudara Harun dan Musa adalah MIryam anak Imran.mereka hidup ribuan thn sebelum Maria ibu yesus itulah sejarah yang sebenarnya.

      • dwianto said,

        Agustus 20, 2014 pada 1:27 pm

        apakah yang bernama rianti hanya anda sendiri???? demikian juga nama imran….

  16. Maret 15, 2013 pada 10:20 am

    aku yakin bahwa al-quran itu asli dan bila mana ada kesalahan cetak or kesalahan terjemahan pasti dengan cepat ketahuan dan itu bukti bahwa alloh swt menjamin dan menjaga keaslian isi al-quran

    • adenn said,

      Maret 16, 2013 pada 2:43 pm

      kenapa di alquran nabi yang diutus untuk israel,, berbeda kisahnya dengan cerita orang israel, kan yang jadi saksi mata/ yang mengalami bangsa israel itu sendiri, tapi kenapa ditulis di alquran berbeda???????????????
      “TUAN RUMAH YANG TAU ISI DARI RUMAHNYA, BUKAN TAMU”,,

  17. adenn said,

    Maret 16, 2013 pada 2:40 pm

    kenapa di alquran nabi yang diutus untuk israel,, berbeda kisahnya dengan cerita orang israel, kan yang jadi saksi mata/ yang mengalami bangsa israel itu sendiri, tapi kenapa ditulis di alquran berbeda???????????????
    “TUAN RUMAH YANG TAU ISI DARI RUMAHNYA, BUKAN TAMU”,,

    • parma said,

      April 25, 2013 pada 8:15 pm

      kalau berbeda berarti ada manipulasi cerita. apakah cerita dari bangsa dan kitab israil mampu menjamin keasliannya? sudahkah Anda melakukan penelitian mengenai hal itu secara mendalam?

  18. Mei 23, 2013 pada 8:41 pm

    These are truly wonderful ideas in on the topic of blogging.
    You have touched some pleasant points here.
    Any way keep up wrinting.

  19. Lisa said,

    Mei 24, 2013 pada 8:58 pm

    you are truly a just right webmaster. The website loading pace is
    incredible. It kind of feels that you’re doing any distinctive trick. Also, The contents are masterwork. you’ve performed a excellent activity on this topic!

  20. 99polls.com said,

    Juni 4, 2013 pada 3:05 pm

    hey there and thank you for your info – I’ve definitely picked up anything new from right here. I did however expertise a few technical points using this web site, since I experienced to reload the web site many times previous to I could get it to load properly. I had been wondering if your web hosting is OK? Not that I am complaining, but sluggish loading instances times will very frequently affect your placement in google and can damage your high-quality score if advertising and marketing with Adwords. Anyway I am adding this RSS to my email and could look out for a lot more of your respective fascinating content. Make sure you update this again soon.

  21. Juni 8, 2013 pada 11:45 am

    This is a topic that is near to my heart… Thank you!
    Exactly where are your contact details though?

  22. Juni 10, 2013 pada 6:41 pm

    I love reading through a post that will make men and women
    think. Also, thank you for permitting me to comment!

  23. Juni 12, 2013 pada 8:11 pm

    Your means of describing all in this post is really pleasant,
    every one be able to easily be aware of it, Thanks a lot.

  24. Juni 15, 2013 pada 7:33 am

    Hello this is kinda of off topic but I was wondering if blogs use WYSIWYG editors or if you have to manually code with HTML.
    I’m starting a blog soon but have no coding knowledge so I wanted to get advice from someone with experience. Any help would be enormously appreciated!

  25. Juni 16, 2013 pada 1:23 pm

    Hello, I think your blog might be having browser compatibility issues.
    When I look at your blog in Chrome, it looks fine but when opening in Internet Explorer,
    it has some overlapping. I just wanted to give you a quick heads up!
    Other then that, amazing blog!

  26. Caren said,

    Juni 18, 2013 pada 4:21 am

    I have been surfing on-line greater than three hours today,
    yet I by no means discovered any attention-grabbing article like yours.
    It is lovely value sufficient for me. Personally, if all site owners and bloggers
    made just right content material as you probably did, the
    net shall be much more helpful than ever before.

  27. Rolland said,

    Juni 18, 2013 pada 9:21 am

    Yes! Finally something about chat for free adult.

  28. Juli 1, 2013 pada 9:30 am

    Thanks for sharing such a fastidious thought, post is nice, thats
    why i have read it entirely

  29. Juli 29, 2013 pada 6:34 am

    It’s really a cool and helpful piece of info. I am satisfied that you shared this useful info with us. Please stay us informed like this. Thanks for sharing.

  30. harlan75 said,

    Februari 9, 2015 pada 8:33 pm

    terima ksih atas ilmunya

  31. jon23 said,

    Agustus 15, 2015 pada 11:43 am

    klo memang alquran tuh di jaga keasliannya coba tolong kasi tau dong ayat alquran mengenai hukum rajam,,,ato ayat itu sudah di makan kambing?setidaknya begitulah yg di katakan aisyah..hahahhaa
    alquran yg anda pakai jg adlh standard mesir 1925,kenapa ada di standardkan?krn ada perbedaan2 dong,ia kan?

    • Yudha said,

      Agustus 15, 2015 pada 4:05 pm

      ohya mana buktinya???


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: