Studi Kritis Hadis “Perangilah manusia sehingga semuanya mengucap La ilaha illallah”

Ali bin Abi Talib radiallahu ‘anhu pernah bertanya kepada Rasulullah sallallahu ‘alaihi wasallam:
Ya Rasulullah ! Atas hal apakah patut aku perangi manusia?
Rasulullah menjawab:
Perangilah mereka sehingga mereka bersyahadah bahwa Tiada Tuhan melainkan Allah dan Muhammad adalah Rasul Allah. Apabila mereka telah mengucapkan sedemikian maka terpeliharalah darah dan harta benda mereka. Kecuali yang menjadi hak kamu. Dan perhitungannya adalah kepada Allah.[1]

Kemusykilan:

Hadis ini menjadi sasaran utama para pengkritik orientalis bahwa Islam adalah agama yang disebarkan melalui pedang, yaitu secara paksaan. Apakah maksud sebenarnya dari hadis ini?

Penjelasannya:

Hadis ini telah diperhujjahkan dalam bentuk yang terkeluar dari konteksnya yang asal. Hadis ini sebenarnya disabdakan oleh Rasulullah sallallahu ‘alaihi wasallam ketika berperang dengan orang-orang Yahudi di Khaibar, sebagaimana yang pertama sekali diterangkan sendiri oleh Abu Hurairah radiallahu ‘anhu apabila beliau meriwayatkannya. Urutan yang menyebabkan Rasulullah bersabda sedemikian dapat juga dilihat dalam mana-mana kitab sirah yang muktabar.[2]

Pendek cerita, pada tahun 5 hijrah orang-orang Yahudi di Khaibar telah mengumpul beberapa kaum dan kabilah di Semenanjung Arab untuk bersatu melancarkan peperangan ke atas orang-orang Islam di Kota Madinah. Namun serangan tersebut berjaya dipatahkan apabila umat Islam menggali parit yang dalam di sekeliling Kota Madinah. Peperangan ini masyhur dengan gelaran Perang Khandak. Dua tahun kemudian umat Islam telah melancarkan serang balas ke atas orang-orang Yahudi di Khaibar.[3]

Adalah tidak benar jika dikatakan tentera Islam telah memaksa orang-orang Yahudi di Khaibar untuk memeluk Islam. Dari awal lagi Rasulullah sallallahu ‘alaihi wasallam telah berdakwah kepada orang-orang Yahudi, malah beberapa sahabat yang mengenali kitab Taurat telah mengingatkan mereka tentang kerasulan Muhammad berdasarkan keterangan kitab mereka sendiri. Namun mereka tetap mengingkarinya.[4]

Lebih dari itu, setelah menerima perintah untuk memerangi orang Yahudi Khaibar sebagaimana hadis yang pertama di atas, berkata Ali bin Abi Talib radiallahu ‘anhu:

Ya Rasulullah ! Aku akan perangi mereka sehinggalah mereka menjadi seperti kita (yaitu menjadi orang Islam).

Mendengar itu Rasulullah sallallahu ‘alaihi wasallam menjawab:

Maralah secara berhati-hati sehingga kamu sampai ke kawasan mereka yang lapang. Kemudian dakwahlah mereka kepada Islam. Khabarkan kepada mereka tentang apa yang wajib dari hak (undang-undang) Allah.

Demi Allah ! Jika Allah memberi hidayah kepada salah seorang dari mereka adalah lebih baik daripada kamu memiliki sekumpulan unta yang berharga.[5]

Mungkin ada kemusykilan lagi, bahwa hadis: Perangilah mereka sehingga… sepertimana di atas bersifat umum kerana ia adalah jawaban yang merujuk kepada pertanyaan: Ya Rasulullah ! Atas hal apakah patut aku perangi manusia? Perkataan al-Nas merujuk kepada seluruh manusia. Justeru sekalipun ia disampaikan dalam satu kes tertentu, ciri-cirinya yang umum menyebabkan ia tidak terikat kepada satu suasana tertentu. Ini selari dengan kaedah, bahwa sesuatu nas yang bersifat umum tidak terikat dengan suasana yang melahirkan nas tersebut.

Kemusykilan ini dapat dijelaskan dengan memahami bahwa fungsi alif lam terhadap perkataan Nas (manusia) dalam hadis di atas tidaklah merujuk kepada arti seluruh manusia tetapi merujuk kepada sekumpulan manusia bagi menetap makna yang dimaksudkan (Lam-al-Ma’rifah).

Di dalam al-Qur’an, terdapat beberapa contoh di mana perkataan al-Nas tidak berarti seluruh manusia tetapi hanyalah sekelompok. Berikut adalah dua contoh:

Pertama:

“Mereka juga ialah yang diberitahu oleh manusia (al-Nas) kepada mereka: “Bahawa manusia (al-Nas) telah mengumpulkan tentera untuk memerangi kamu, oleh itu hendaklah kamu gerun kepadanya”. Maka berita itu makin menambahkan iman mereka lalu berkata: “Cukuplah Allah untuk (menolong) kami, dan Ia sebaik-baik pengurus”.” [‘Ali Imran 3:173]

Dalam ayat di atas, perkataan al-Nas tidaklah merujuk kepada semua manusia. Alif lam yang mendahuluinya berperanan menetapkannya kepada sesuatu makna (Lam-al-Ma’rifah). al-Nas yang pertama merujuk kepada Na‘im bin Mas‘ud al-Asyja‘i manakala al-Nas yang kedua merujuk kepada Abu Sufyan dan rombongan dagangnya.[6] Justeru dalam ayat ini Na‘im bin Mas‘ud ingin menakut-nakutkan umat Islam dengan serangan tentera Quraisy Abu Sufyan tetapi ancaman ini tidak lain hanyalah menguatkan lagi keimanan umat ketika itu.

Kedua:

“Apabila datang pertolongan Allah dan kemenangan, Dan engkau melihat manusia (al-Nas) masuk dalam agama Allah beramai-ramai, Maka ucapkanlah tasbih dengan memuji Tuhanmu dan mintalah ampun kepada-Nya, sesungguhnya Dia amat menerima taubat.” [al-Nasr 110:1-3]

Dalam ayat di atas juga, al-Nas tidak merujuk kepada manusia di seluruh dunia tetapi hanya kepada penduduk Kota Makkah, yakni ketika Fath-ul-Makkah di mana umat Islam telah kembali menguasai Kota Makkah dari tangan kafir Quraisy. Manusia yang menerima agama Islam yang dimaksudkan ialah penduduk Kota Makkah dan bukannya penduduk seluruh dunia.

Memadailah dengan dua contoh di atas. Justeru perkataan al-Nas dalam hadis di atas yang dipersoalkan sebenarnya merujuk kepada orang-orang Yahudi di Khaibar, bukan umum kepada semua manusia.
[7]

_____________________________________

Nota kaki:

[1] Sahih: Hadis dari Abu Hurairah radiallahu ‘anhu, dikeluarkan oleh Ibn Sa’ad, Muslim dan lain-lain. Di atas adalah dari lafaz Muslim, lihat Sahih Muslim – no: 2405 (Kitab Fada’il Sahabat, Fada’il ‘Ali bin Abi Talib).

[2] Antaranya: Ibn Sa’ad – al-Tabaqat al-Kubra (Dar al-Kutub al-Ilmiah, Beirut 1997), jld 2, ms 84 (Kitab Maghazi dan Sariyah Rasulullah, Ghuzwah Khaibar); Ibn Kathir – al-Bidayah wa al-Nihayah (Dar al-Hadith, Kaherah 1997), jld 4, ms 185 (Tahun ke-7, Ghuzwah Khaibar); al-Dzahabi – Siyar A’lam al-Nubala, Sirah Nabawiyah (Muasasah al-Risalah, Beirut 1998), jld 2, ms 64 (Tahun ke-7, Ghuzwah Khaibar) dan Akram Diya’ al-Umari – Madinan Society at The Time of The Prophet (terj: Huda Khattab; IIPH & IIIT, Riyadh 1995), vol 1, ms 145.

[3] Lebih lanjut, disyorkan membaca buku sirah karangan H. Zainal Arifin Abbas: Sejarah dan Perjuangan Nabi Muhammad s.a.w. (Pustaka Antara, Kuala Lumpur 1991), jld 8, ms 69-74.

[4] Ibn Hisyam – Sirah Nabawiyah (Maktabah al-‘Abikan, Riyadh 1998), jld 2, ms 159 (Bab Orang Yahudi mengingkari (wahyu) yang diturunkan). Al-Suyuti menyebutnya dalam Darr al-Manthur fi Tafsir al-Ma’thur (Dar al-Kutub al-Ilmiah, Beirut 2000), jld 2, ms 476 sebagai sebab turunnya ayat ke 19 surah al-Maidah.

[5] Sahih: Hadis dari Sahl bin Sa’ad radiallahu ‘anhu, dikeluarkan oleh Ahmad, al-Bukhari, Muslim, al-Thabarani (al-Mu’jam al-Kabir) dan lain-lain, lihat Sahih Muslim – no: 2406 (Kitab Fada’il Sahabat, Fada’il ‘Ali bin Abi Talib).

[6] Lihat al-Mawardi – al-Nukatu al-‘Uyun, jld 1, ms 438; Ibn Kathir – Tafsir al-Qur’an al-‘Adzhim (terj: Bahrun Abubakar; Sinar Baru Algensindo, Bandung 2000), juz 4, ms 305-308; al-Suyuti – Tafsir Jalalain (terj: Bahrun Abubakar; Sinar Baru Algensindo, Bandung 1997), jld 1, ms 173 dan lain-lain. Bagi pengajaran dan iktibar yang besar dari ayat ini, lihat penjelasan yang amat baik oleh Sa’id Hawa dalam al-Asas fi al-Tafsir (Dar al-Salam, Kaherah 1999), jld 2, ms 938-939.

[7] Muhammad al-Ghazali – Menjawab 40 Soal Islam Abad 20 (S. Abdul Majid, Kuala Lumpur 1989), ms 75-77 dengan beberapa tambahan dari penulis.

Sumber :

Hafiz Firdaus Abdullah. Kaedah Memahami Hadis-Hadis Musykil

9 Komentar

  1. dildaar80 said,

    Februari 23, 2010 pada 8:31 pm

    salam kenal…sy copas ya bung dng mencantumkan sumber..

    • abrahamik said,

      Februari 23, 2010 pada 8:41 pm

      Salam kenal juga..silakan copas dengan mencantumkan sumber.

    • abrahamik said,

      Februari 23, 2010 pada 8:42 pm

      Baca juga topik yang berkaitan:
      – ayat2 perang dalam quran
      – terorisme dan jihad dalam islam
      – tidak ada paksaan dalam beragama
      – konsep peperangan dalam quran

  2. code name 'fascho' said,

    Januari 13, 2012 pada 9:32 pm

    to abrahamik

    nice penjelasannya moga2 setelah ini tidak ada yg membantah islam lagi……

  3. Lukman Hakim said,

    Juli 25, 2012 pada 11:49 am

    memang Islam tak terbantahkan . Termasuk apa yang dilakukan oleh Osamah bin Laden dan kawan – kawannya di seluruh dunia juga dalam rangka mengamalkan ajaran Islam yang damai .

  4. Mengku said,

    Oktober 5, 2012 pada 8:35 am

    Damai, Damai, Damailah Senantiasa, bagi seluruh umat manusia…….

  5. inarahayu said,

    Juli 7, 2013 pada 7:46 am

    damai tapi gersang..damai..damai..kenyataannya..cari gara2 aja dgn alasan menggangulah..perintah agamalah..apalagi klu bln puasa mesti ribut nganiaya orng merusak..alasan..mengganggu menjalankan perintah agama..non muslim harus menghormati(memaksa).tapi ia sendiri tidak menghormati saenaknya menggangu ketenangan non muslim..alasan mayoritas boleh se wenang2..yakan..kenyataannya begitu.

  6. inarahayu said,

    Juli 7, 2013 pada 8:12 am

    saya rasa penjelasan Alisina lebih benar karena didukung oleh fakta tapi klu bantahannya tidak didukung oleh fakta. contoh fakta nyata. thn 1965 beberapa tokoh komunis di indonesia ingin kudeta. tapi mengapa orang2 komunis yg tidak tau apa2 dibunuh/dibantai dengan alasan perang..pada hal mereka diburu..dicari dan dibantai..oleh pemuda2 islam yg didukung oleh militer..buktinya; musnahnya komunis diindonesia.

    • dwianto said,

      Agustus 19, 2014 pada 1:28 pm

      inarahayu … apakah anda simpatisan PKI atau PRD? , anda hanya melihat setelah th 1965. kalo baca sejarah yg runtut dong …sebelumnya banyak ulama , tokoh2 muslim , orang muslim yang tidak sepaham dengan komunis dibunuh/ dibantai….., memang setelah reformasi segala informasi diputar balik …, memang benar kejadian di th 1965 adalah catatan hitam sejarah indonesia… sampai2 tetangga saya harus mundur jadi tentara karena tdak bisa menerima / tdk tega melihat pembalasan ex korban PKI di bengawan Solo…,


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: