Merokok itu Haram

Kebiasaan merokok tampaknya telah mulai mendaging dalam kehidupan umat Islam. Walaupun telah diketahui bahwa merokok itu berbahaya bagi kesehatan, masih saja ada yang merokok seolah-olah informasi bahwa rokok itu buruk bagi kesehatan lewat saja masuk dari telinga kiri lalu keluar ke telinga kanan. Apalagi pada saat sekarang ini, kebiasaan rokok tampaknya sudah mulai marak dilakukan anak SD. Iklan rokok di televisi pun bertebaran. Iklannya menarik perhatian dan sangat kontras ketika diakhir iklan tersebut informasi bahwa rokok berbahaya terpampang dilayar televisi disengajakan berukuran kecil. Informasi bahwa merokok dapat menyebabkan impotensi, gangguan kehamilan dan janin dianggap hanya sebatas mitos, lumrah atau mengada-ada. Ada yang berasalan bahwa buktinya telah bertahun-tahun merokok, orang tersebut masih sehat-sehat saja. Ada lagi yang berlogika bahwa dirinya masih sehat walaupun merokok, sedangkan temannya yang tidak merokok sudah meninggal dunia.

Kebiasaan merokok yang sangat sulit dihilangkan mungkin berasal dari tidak adanya keteladanan dari tokoh masyarakat untuk tidak merokok. Tidak dapat dipungkiri masih ada dokter yang merokok. Bahkan tindakan tersebut kadang-kadang terang-terangan dilakukan di depan masyarakat. Dengan melihat tingkah dokter yang merokok tersebut, wajar saja bila ada yang tidak percaya kalau merokok itu berbahaya bagi kesehatan. Wacana bahwa Islam mengharamkan merokok pun ditepis oleh masyarakat awam. Pasalnya, masih banyak ustadz-ustadz atau seseorang yang dianggap ulama merokok. Anehnya lagi, para tokoh yang dianggap ustadz atau ulama itu melegalkan perbuatan haram mereka (merokok) dengan mempelintirkan ajaran Islam. Mereka rela menjual ajaran agamanya hanya demi memuaskan nafsu mereka untuk merokok. Mereka beralasan :

  1. Merokok tidaklah haram karena Nabi Muhammad tidak pernah mengharamkannya. Pada zaman Nabi tidak ada yang namanya rokok, maka jangan mengada-ada atau membuat hukum baru bahwa rokok itu haram. Jangan seolah menjadi Nabi mampu menentukan halal haramnya sesuatu. Tidak ada dalil dalam Qur’an maupun hadis yang menerangkan bahwa merokok haram.
  2. Menganggap merokok dapat mempercepat kematian sama saja menolak takdir Allah. Hanya Allah yang menentukan waktu ajalnya seseorang. Bila saatnya ajal tiba ya pasti tiba, tidak ada yang namanya rokok menyebabkan kematian. Hanya Allah yang berkehendak atas kematian seseorang. Mereka berbicara seolah-olah sangat paham akan takdir Tuhan atau seolah-olah sudah mencapai ma’rifatullah.

Namun, apakah memang demikian adanya ajaran Islam? Apakah ajaran Islam membolehkan sesuatu yang jelas-jelas berbahaya bagi kesehatan?

Untuk poin 1 alasan diatas sangatlah mudah untuk membantahnya. Mengatakan bahwa merokok tidak haram lantaran rokok tidak dijelaskan pada zaman nabi Muhammad sama saja dengan mengatakan bahwa melihat gambar porno di internet tidak haram karena pada zaman Nabi Muhmmad tidak ada yang namanya internet. Poin 1 tersebut hanyalah mengada-ngada, mencari-cari alasan. Itulah sangat diperlukan pemahaman terhadap suatu ajaran, jangan berpikiran kuno. Itulah gunanya fatwa yaitu untuk mencari hukum sesuatu yang keadaan yang belum diterangkan pada zaman Rasulullah dengan berdasarkan pemahaman terhadap Qur’an dan Hadis.

Untuk poin nomor 2 juga dapat dikatakan mengada-ada. Misalnya bila seseorang dengan sengaja berdiri ditengah jalan yang ramai kendaraannya dan sedang melaju kencang pula dimana kemungkinan orang itu tertabrak 99% lalu orang tersebut meninggal dunia akibat tertabrak, apakah kita boleh mengatakan bahwa kematian orang tersebut adalah takdir Tuhan? Enak saja kita menyalahkan Tuhan atau mengkambinghitamkan Tuhan atas kesalahan yang telah kita perbuat sendiri. Tindakan tersebut adalah bunuh diri. Sama saja dengan sengaja merokok yang bearti dengan sengaja menggerogoti kesehatan sendiri yang berakibat mempercepat kematian. Hukum sebab akibat berlaku di dunia ini.

Terus, apakah memang ada dalil yang menyatakan haram merokok? Rokok memang tidak ada pada zaman Nabi SAW tetapi Islam datang membawa kaidah-kaidah umum yang melarang segala sesuatu yang mendatangkan bahaya bagi badan atau menyakiti tetangga atau menyia-nyiakan harta.

Firman Allah SWT :

Dan menghalalkan yang baik bagi mereka serta mengharamkan bagi mereka segala yang buruk”.(Qur’an Surat Al-A’raf : 157)

Janganlah kamu menjatuhkan dirimu sendiri ke dalam kebinasaan” (Qur’an Surat Al-Baqarah : 195)

Ahli-ahli kesehatan telah sepakat semuanya bahwa merokok berbahaya bagi kesehatan (membawa kebinasaan), seperti penyakit kanker, PPOK (penyakit paru obstruktif kronik), cacat janin bagi wanita hamil yang merokok, impotensi, dan lain-lain.

Dan janganlah kamu membunuh dirimu” (Qur’an Surat Annisa : 29)

Rokok membunuh secara perlahan-lahan.

Barangsiapa menghirup racun hingga mati maka razun itu akan berada di tangannya lalu dihirupkan selama-lamanya di neraka Jahannam” (H.R.Muslim)

Rokok mengandung racun (nikotin) yang membunuh pelakunya perlahan-lahan dan menyiksanya.

Dosa keduanya (arak dan judi) lebih besar dari manfaatnya.” (Qur’an Surat Al-Baqarah : 219)

Rokok bahayanya lebih besar daripada manfaatnya.

Janganlah menghambur-hamburkan hartamu dengan boris karena pemborosan itu adalah sudaranya setan” (Qur’an Surat Al-Isro : 26)

Allah membencimu karena kamu menyia-nyiakan harta” (H.R.Bukhari-Muslim) Rokok adalah pemborosan. Sungguh aneh sekali, ada seorang kepala rumah tangga miskin yang lebih senang menghabiskan uangnya untuk membeli rokok daripada membeli makanan untuk anak-anak dan istrinya yang kelaparan.

Rasulullah SAW bersabda :

Tidak boleh membahayakan diri sendiri atau orang lain”

Rokok membahayakan orang lain yang tidak sengaja menghirupnya.

Dari dalil-dalil diatas dapat disimpulkan bahwa merokok Haram, alasannya :

  • Merokok membahayakan atau merugikan diri sendiri

  • Merokok membahayakan atau merugikan orang lain

  • Merokok merupakan tindakan pemborosan

3 Komentar

  1. rudi kusnadi said,

    Juli 2, 2015 pada 11:35 am

    mau haram, mau makruh tentang rokok tergantung dari kita. yang jelas akibat rokok ini banyak mudoratnya dibanding manfaatnya yang hanya sekedar mengurangi stress. yang ingin saya pertanyakan apakah para pemimpinj negara ini tidak berdosa telah melegalkan suatu usaha yang bahannya jelas jelas mengandung racun serta merugikan umat manusia ? jangan hanya karena mendapatkan imbalan pajak lalu mereka menghiraukan kesehatan umat manusia ? Nastaghfirullohal adzim ya Alloh ampunilah dosa dosa para pemimpin kami, bukakanlah pintu taubat para pemimpin kami, bukakanlah mata hatinya sehingga mereka sadar bahwa rokok ini haram kenapa dilegalkan juga sementara orang berjualan makanan yang mengandung pengawet saja di proses secara hukum apakah penjual, pembuat dan pengedar rokok yang beracun ini tidak diproses juga ? trims

  2. Februari 17, 2016 pada 12:08 am

    […] : Masuk-islam.com telah merangkumnya dari berbagai sumber dan juga telah menambahkannya : abrahamik.wordpress.com/2010/02/13/merokok-itu-haram | anakgoogles.blogspot.com/2012/10/hukum-merokok-menurut-islam.html […]

  3. Bayu said,

    Agustus 10, 2016 pada 1:03 pm

    SINGKIRKAN KEPALSUAN!!!!!!!!!
    Para ulama’ berbeda pendapat dalam hukum rokok, tetapi setelah merenung dan menyadari bahwa islam adalah agama yang bersih dari segala kotoran zahir maupun batin, dan islam adalah agama yang hanya mengajak kepada yang lebih baik, ternyata ia juga adalah agama yang mudah dan jauh dari berbagai kesulitan dan tasyaddud, al-Qur’an dan Sunnah adalah pegangan satu-satunya, dari itu mengapa bersusah payah? dan mengapa menyusahkan orang? Allah swt. berfirman : “Allah sama sekali tidak pernah berkehendak memberimu kesulitan walau sedikit”. Rasulullah saw. bersabda : “Yang halal sudah nyata dan yang harampun telah nyata”.
    1. Allah swt. dan Rasul-Nya saw. tidak pernah menegaskan bahwa tembakau atau rokok itu haram.

    2. Hukum asal setiap sesuatu adalah halal kecuali ada nash yang dengan tegas mengharamkan.

    3. Sesuatu yang haram bukanlah yang memudlaratkan, dan sesuatu yang halal bukanlah yang memiliki banyak manfaat, akan tetapi yang haram adalah yang diharamkan oleh Allah dan Rasul-Nya walau bermanfaat, dan yang halal adalah yang dihalalkan oleh Allah dan Rasul-Nya walau memudlaratkan.

    4. Tidak setiap yang memudlaratkan itu haram, yang haram adalah yang diharamkan oleh Allah dan Rasul-Nya baik itu memudlaratkan atau tidak. Cabe, daging kambing, gula, asap mobil, dll. juga memudlaratkan tapi tidak haram, mengapa justru rokok saja yang haram padahal masih banyak yang lain yang juga memudlaratkan?

    5. Segala jenis ikan di dalam laut hukum memakannya halal sebagaimana yang diterangkan dalam hadits. Padahal banyak jenis ikan yang memudlaratkan di dalam laut tersebut, tetapi tetap halal walau memudlaratkan. Kalau kita mengharamkannya maka kita telah mentaqyidhadits yang berbunyi “Yang suci airnya dan yang halal bangkainya”.

    6. Kita boleh saja melarang atau meninggalkan tapi kata-kata haram tidak boleh terucapkan karena Allah berfirman : “Menetapkan hukum itu hanyalah hak Allah”. Kita boleh mengatakan: Jangan merokok karena ia memudlaratkan, tapi tidak boleh kita mengatakan : Merokok itu haram, sebagaimana kita mengatakan kepada anak-anak kita : Jangan makan coklat karena ia merusak gigi, dan kita tidak pernah mengatakan : Makan coklat itu haram. Kita mungkin mengatakan : Memakan permen yang diberi sambel dapat menyebabkan penyakit influenza, namun tidak boleh kita mengatakan : Makan permen yang dicampur sambel itu haram.
    7. Kalau rokok dikatakan bagian dari khaba’its maka bawang juga termasuk khaba’its, mengapa rokok saja yang diharamkan sementara bawang hanya sekedar makruh (itupun kalau akan memasuki masjid)?

    8. Rokok adalah termasuk Mimma ammat bihil-balwa pada zaman ini.

    9. Hadits “La dlarara wala dlirar” masih umum, dan bahaya-bahaya rokok tidak mutlak dan tidak pasti, kemudian ia bergantung pada daya tahan dan kekuatan tubuh masing-masing.

    10. Boros adalah: menggunakan sesuatu tanpa membutuhkannya, dari itu jika seseorang merokok dalam keadaan membutuhkannya maka ia tidaklah pemboros karena rokok ternyata kebutuhan sehari-harinya juga.

    11. Rokok adalah bagian dari makanan atau minuman sebab ia dikonsumsi melalui mulut, maka ia halal selama tidak berlebihan, Allah berfirman : “Makan dan minumlah dan jangan berlebih-lebihan” dan Allah telah menyebutkan makanan-makanan dan minuman-minuman yang haram seperti arak, babi, dll. dan ternyata Allah tidak menyebut rokok di antaranya.

    12. Realita menunjukkan bahwa rokok ternyata memberi banyak manfaat terutama dalam menghasilkan uang, di pulau Lombok misalnya, hanya tembakaulah yang membuat para penduduknya dapat makan, jika rokok diharamkan maka mayoritas penduduk Lombok tidak tahan hidup. Allah berfirman: “Katakanlah hai Muhammad: Terangkanlah kepadaku tentang rezki yang diturunkan Allah kepadamu, lalu kamu jadikan sebagiannya haram dan sebagiannya halal. Katakanlah: Apakah Allah telah memberikan izin kepadamu tentang ini atau kamu mengada-adakan saja terhadap Allah?”
    13. Terdapat banyak cara untuk mengurangi dan mencegah bahaya-bahaya rokok.

    14. Qiyas kepada khamr tidak benar karena rokok tidak memabukkan dan tidak menghilangkan akal, justru seringnya melancarkan daya berfikir. Dan yang paling penting adalah haramnya khamr karena ada nash, dan tidak haramnya rokok karena tidak ada nash. Kemudian qiyastidak boleh digunakan dengan sembarangan.

    15. Rokok tidak ada hubungannya sama sekali dengan ayat “Dan janganlah kamu menjatuhkan dirimu sendiri ke dalam kebinasaan” karena ayat tersebut membicarakan hal lain.

    16. Adapun ayat “Dan janganlah kamu membunuh dirimu” maksudnya adalah bunuh diri, maka adakah orang yang sengaja membunuh dirinya dengan menghisap rokok? kalaupun ada jenis rokok yang sengaja dibuat untuk bunuh diri maka tetap yang haram bukan rokoknya akan tetapi yang haram adalah bunuh dirinya. Sebagaimana seseorang membunuh dirinya dengan pisau, maka yang haram bukan menggunakan pisaunya tetapi bunuh dirinya.

    17. Mengharamkan yang bukan haram adalah termasuk dosa besar maka diharapkan untuk berhati-hati, Allah berfirman: “Dan janganlah kamu mengatakan terhadap apa yang disebut-sebut oleh lidahmu secara dusta : Ini halal dan ini haram, untuk mengada-adakan kebohongan terhadap Allah. Sesungguhnya orang-orang yang mengada-adakan kebohongan terhadap Allah tidakah beruntung”.
    18. Banyak ulama’ dan auliya’ yang juga perokok bahkan perokok berat, apakah kita menyamakan mereka dengan para bajingan yang minum arak di pinggir jalan? Allah berfirman: “Apakah patut Kami jadikan orang-orang islam itu sama dengan orang-orang yang berdosa? Mengapa kamu berbuat demikian? bagaimanakah kamu mengambil keputusan?”, Allah juga berfirman: “Apakah orang yang beriman itu sama seperti orang yang fasik? Sesungguhnya mereka tidak sama”, Allah juga berfirman: “Adakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?”.

    19. Banyak ulama’ yang tidak mengharamkan rokok seperti : Syekh Syehristani, Syekh Yasin al-Fadani, Syekh al-Sistani, Syekh Muhammad al-Salami, Syekh al-Dajawi, Syekh Alawi al-Saqqaf, Syekh Muhammad bin Isma’il, Syekh al-Ziadi, Syekh Mur’i al-Hanbali, Syekh Abbas al-Maliki, Syekh Izzuddin al-Qasysyar, Syekh Umar al-Mahresi, Syekh Muhammad Alawi al-Maliki, Syekh Hasan al-Syennawi, Syekh Ahmad bin Abdul-Aziz al-Maghribi, Syekh Abdul-Ghani al-Nabulsi ra., Syekh Muhammad Utsman Abduh al-Burhani ra., Maulana Syekh Mukhtar ra., dll.
    20. Dalam kitab Muntakhabat al-Tawarikh Lidimasyq, Syekh Muhammad Adib al-Hishni mengutip ungkapan seorang wali besar dan ulama’ ternama serta tokoh sufi terkemuka asal Syiria, yaitu Sidi Abdul-Ghani al-Nabulsi ra. (wafat tahun 1143 H.) yang berbunyi sebagai berikut :

    Asap rokok menggoda selera;
    Pun semerbak kasturi tertandingi.
    Pahitnya, manis terasa,
    Aneh, pahit kok manis rasanya.

    21. Dalam buku yang sama menceritakan: Syekh Sunan Efendi yang lebih dikenal dengan sebutan Allati Barmaq, seorang mufti dan pakar fiqh bermazhab hanafi yang sempat meraih julukan Syaikhul-Islam pada zamannya, pernah membaca karya tulis Sidi Abdul-Ghani al-Nabulsi ra. tentang kebolehan merokok, yang berjudul: al-Ishlah bainal-Ikhwan fi Ibahat Syurb al-Dukhan, Syekh Allati Barmaq saat itu mengharamkan rokok, oleh karena itu ia sangat kontra dengan isi buku tersebut yang kemudian terjadilah adu argumen antara Syekh Allati Barmaq dengan Sidi al-Nabulsi yang akhirnya Syekh Allati Barmaq mengakui kebenaran Sidi al-Nabulsi lantas minta maaf, lalu dengan tegas mengatakan bahwa yang mengharamkan rokok adalah jahil, tolol, zindiq dan tak ubahnya dengan binatang hina. Sebab ternyata pada rokok terdapat rahasia Allah yang menyirati banyak khasiat dan manfaat. Aroma dan rasanya pun amat lezat. Ungkapan tersebut berbunyi sebagai berikut :

    Sungguh tolol, yang tak peka asap rokok,
    Bak hewan yang tak punya cita rasa.
    Tak patut diharamkan,
    Hanya kaum zindiq lah yang merekayasa.
    Wahai para pecandu sufi,
    Kenapa tak kau rengkuh rokok saja.
    Andai tak ada rahasia,
    Baunya pun tak kan lezat terasa.
    Padanya; rahasia Sang Kuasa,
    Ahli hakekat, Allati Barmaq sebagai saksinya.

    22. Dalam kitab Jawahirul-Bihar fi Fadla’ilinnabiyyil-Mukhtar oleh Syekh Yusuf al-Nabhani, menyatakan sebagai berikut :
    Syekh Abdul-Ghani al-Nabulsi Ra. menceritakan sebuah perjalanannya menimba ilmu di tanah Hijaz : “Syekh Abdul-Qadir Efandi seperti biasa, hadir bersama kami untuk membacakan ringkasan Sahih Bukhari. Lantas, ia membaca hadits yang berbunyi; Dari Saidina Abi Hurairah dari Nabi saw. beliau bersabda; “Siapa yang bertemu aku pada saat mimpi; pasti akan bertemu denganku dalam keadaan terjaga, dan tak mungkin setan menyerupaiku” . Kami berdiskusi tentang hadits ini seraya mengutip karya Imam Suyuthi yang berjudul Inaratul-Halak fi Imkan Ru’yat al-Nabi wal-Malak. Syekh Abdul-Qadir Efandi menyebutkan bahwa ia memiliki karya tersebut sah secara silsilah dan akan disampaikan kepada kita (para santrinya). Selanjutnya kami berdiskusi tentang hukum merokok, lalu ia meriwayatkan: “Ada sebuah kisah dari Syekh Ahmad bin Manshur al-Aqrabi, dari Syekh Ahmad bin Abdul-Aziz al-Maghribi, ia menyatakan bahwa ia sering bertemu dengan Nabi saw. (dalam tidur maupun jaga). Suatu ketika ia jatuh sakit dan menemui beliau, kemudian menanya tentang hukum merokok, Nabi pun diam tak menjawab. Kemudian beliau malah menyuruhnya untuk merokok” !!!

    Syekh Ahmad bin Abdul-Aziz al-Maghribi (yang senantiasa menjumpai Rasul dan sempat menanya beliau tentang rokok dan ternyata mendapat perintah untuk menghisapnya) adalah seorang pemuka kenamaan dan tokoh kepercayaan pada masanya. Seorang ulama’ berjasa besar bahkan waliyullah papan atas.

    23. Boleh saja membuat peraturan-peraturan tertentu demi terjaganya kesehatan seperti membuat lokasi-lokasi khusus bagi para perokok, atau yang lainnya asalkan tidak mengharamkannya, itu saja, sekali lagi yang penting kita tidak mengharamkan yang halal sebab itu adalah dosa besar. Selanjutnya… terserah anda… Allah berfirman : “Katakanlah: Sesungguhnya kebenaran itu telah datang dari Tuhanmu; maka barangsiapa yang ingin percaya, hendaklah ia percaya, dan barang siapa yang ingin ingkar biarlah ia ingkar”.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: