Dokter dan Obat Bukan Tuhan

Barangkali kita sering melupakan perbuatan Tuhan dalam kehidupan sehari-hari kita, misalnya dalam masalah berobat. Kebanyakan dari kita mungkin telah dengan tidak sadar menganggap dokter atau obat adalah ’Tuhan’ sehingga bila kita sembuh dari suatu penyakit karena dokter atau suatu obat tertentu maka sering kita menganggap dokter atau obat itulah ’Sang Penyembuh’. Sebab itu, tidak jarang bila suatu penyakit tidak sembuh maka yang sering disalahkan adalah dokter atau obatnya. Padahal sesungguhnya yang menyembuhkan kita adalah Allah. Dokter atau obat hanyalah sebuah sarana saja untuk memberikan kesembuhan yang datangnya dari Allah. Tidak sembuhnya suatu penyakit juga dipengaruhi banyak faktor yang saling berkaitan satu sama lain, antara lain :

  • Kesalahan dokter : kesalahan dalam mendiagnosis suatu penyakit, kesalahan memberikan terapi, dll.

  • Kesalahan pasien : tidak patuhnya pasien memakan obat, tidak sabaran akan penyakitnya sehingga pikirannya yang ’stress’ akan penyakitnya itu mempengaruhi perjalanan penyakitnya menjadi lebih berat, keterlambatan pasien membawa dirinya ke dokter sehingga penyakit sudah berat susah untuk disembuhkan, dll.

  • Keterbatasan manusia: penyakit tersebut merupakan penyakit yang baru (dalam ilmu kedokteran modern tidak semua penyakit sudah diketahui obatnya atau sudah di ’petakan’ semua).
  • Ketentuan Tuhan : Allah yang berkehendak atas kesembuhan atau tidaknya suatu penyakit karena Allah-lah Sang Penyembuh.

Kesemua faktor-faktor diataslah yang mempengaruhi sembuh atau tidaknya suatu penyakit, bukan hanya semata-mata faktor dari dokter atau obatnya. Fenomena-fenomena terlalu ’mendewakan’ dokter/tabibpun semakin menjadi-jadi, terutama bagi yang kurang memahami. Misalnya beberapa waktu yang lalu kita lihat di televisi tentang dukun cilik Ponari yang katanya mampu menyembuhkan segala penyakit. Ribuan orang berbondong-bondong mengantri untuk meminta kesembuhan dari Ponari dan batunya. Orang-orang tersebut menganggap batu Ponari dapat menyembuhkan penyakit. Batu itu tidak dapat menyembuhkan penyakit tanpa adanya Ponari yang mencelupkan batu tersebut kedalam air yang akan diminum pasien demi kesembuhannya. Tidak jarang ada yang mengambil tanah atau air comberan disekitar rumah Ponari untuk kesembuhan. Mereka rela mengantri berjam-jam atau bahkan berhari-hari demi kesembuhan penyakit. Tuhanpun tampaknya ’hilang’ dalam pemikiran mereka. Orang-orang tersebut lupa bahwa Tuhanlah yang menyembuhkan, bukan Ponari atau batunya. Mereka telah dengan tidak sadar menjadikan Ponari dan batunya sebagai Tuhan.

Dan apabila aku sakit, Dia-lah Yang menyembuhkanku.” (Qur’an Surat Asy-Syu’ara : 80)

Telah diriwayatkan dari atsar Bani Israel, bahwa Ibrahim mengatakan, ”Wahai Tuhanku, dari siapa penyakit itu?” Allah berfirman, ”Dari-Ku.” Ibrahim berkata, ”Lalu dari siapa obatnya?” Allah berfirman, ”Dari-Ku.” Lalu Ibrahim berkata, ”Jadi untuk apa dokter?” Allah berfirman, ”Dokter adalah seseorang yang memberikan obat dari tangannya.”

Maka, intinya yang memberikan kesembuhan adalah Allah. Dokter atau obat hanyalah sarana untuk kesembuhan yang datangnya dari Allah.

Tindakan berobat itu sendiri bukanlah tindakan menolak ketetapan atau takdir Tuhan. Bila Tuhan telah menetapkan atau berkehendak kita sakit apakah dengan berobat kita menolak ketetapan atau takdir Tuhan? Apakah terapi dari dokter mampu menolak ketetapan Tuhan bila Tuhan telah menetapkan keadaan tidak sembuh atau kematian? Manusia tetaplah harus berusaha, namun Tuhan jua yang menentukan.

Ketika Rasulullah SAW ditanya tentang obat-obatan dan sebab-sebab yang dapat menjaga dari kesusahan, ”Apakah ia menolak qadar Allah?” Beliau menjawab dengan tegas, ”Ia adalah dari qadar Allah juga” (H.R.Ahmad, Ibnu Majah dan Tirmidzi).

Ketika ada wabah yang menyebar di Negeri Syam, Umar memutuskan untuk bermusyawarah dengan para sahabat agar tidak memasuki Syam, dan kembali dengan kaum muslimin yang bersamanya. Dikatakan kepadanya, ”Apakah kamu lari dari qadar Allah wahai Amirul Mukminim?” Ia menjawab, ”Ya kita lari dari qadar Allah ke qadar Allah yang lainnya. Tidakkah kamu lihat jika kamu menempati dua tempat di bumi ini, salah satunya subur dan yang lainnya tandus, bukankah jika kamu memelihara tanah yang subur berarti kamu memeliharanya dengan qadar Allah, dan jika kamu memelihara tanah yang tandus juga kamu memeliharanya dengan qadar Allah Subhanahu wa Ta’ala?”

Adapun bila usaha tersebut telah maksimal dilakukan namun kesembuhan tidak datang juga atau bahkan yang datang adalah kematian. Maka semua itu sudah menjadi ketentuan Tuhan, kita hanya mampu berusaha dan berdo’a. Manusia hanya mampu berusaha, Tuhanlah yang menentukan.

Tiap-tiap umat mempunyai batas waktu’ maka apabila telah datang waktunya, mereka tidak dapat mengundurkannya barang sesaat pun dan tidak dapat (pula) memenjukannya.” (Qur’an Surat Al-A’raf : 34)

Sesuatu yang bernyawa tidak akan mati melainkan dengan izin Allah, sebagai ketetapan yang telah ditentukan waktunya.” (Qur’an Surat Ali Imran : 145)

1 Komentar

  1. A.J.I said,

    Februari 13, 2010 pada 11:10 am

    semua bermula dariNYA


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: