<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>Agama Yang Damai</title>
	<atom:link href="http://abrahamik.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://abrahamik.wordpress.com</link>
	<description>Just another WordPress.com weblog</description>
	<lastBuildDate>Sun, 29 Jan 2012 12:40:56 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
<cloud domain='abrahamik.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://s2.wp.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>Agama Yang Damai</title>
		<link>http://abrahamik.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://abrahamik.wordpress.com/osd.xml" title="Agama Yang Damai" />
	<atom:link rel='hub' href='http://abrahamik.wordpress.com/?pushpress=hub'/>
		<item>
		<title>Pentingnya Penghijauan dan Pelestarian Alam Dalam Islam</title>
		<link>http://abrahamik.wordpress.com/2010/03/09/pentingnya-penghijauan-dan-pelestarian-alam-dalam-islam/</link>
		<comments>http://abrahamik.wordpress.com/2010/03/09/pentingnya-penghijauan-dan-pelestarian-alam-dalam-islam/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 09 Mar 2010 01:55:47 +0000</pubDate>
		<dc:creator>abrahamik</dc:creator>
				<category><![CDATA[Pemikiran Islam]]></category>
		<category><![CDATA[banjir]]></category>
		<category><![CDATA[bencana alam]]></category>
		<category><![CDATA[hadis memelihara alam]]></category>
		<category><![CDATA[islam]]></category>
		<category><![CDATA[islam mencegah banjir]]></category>
		<category><![CDATA[pelestarian alam]]></category>
		<category><![CDATA[penghijauan]]></category>
		<category><![CDATA[penghijauan pelestarian alam dalam islam]]></category>
		<category><![CDATA[reboisasi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abrahamik.wordpress.com/?p=187</guid>
		<description><![CDATA[Pada saat sekarang ini, sering kita lihat di televisi atau mungkin di sekitar kita fenomena banjir terjadi dimana-mana.  Banjir yang terjadi ini bukanlah karena faktor alam semata, tetapi karena ulah dan perilaku manusia sendiri. Kerusakan lingkungan alam dan atau kurangnya lingkungan hijau dapat menjadi salah satu sebab terjadinya banjir. Tindakan reboisasi atau penghijauan juga dapat [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=abrahamik.wordpress.com&amp;blog=11997190&amp;post=187&amp;subd=abrahamik&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Pada saat sekarang ini, sering kita lihat di televisi atau mungkin di sekitar kita fenomena banjir terjadi dimana-mana.  Banjir yang terjadi ini bukanlah  karena faktor alam semata, tetapi karena ulah dan perilaku  manusia  sendiri. Kerusakan lingkungan alam dan atau kurangnya lingkungan hijau dapat menjadi salah satu sebab terjadinya banjir. Tindakan reboisasi atau penghijauan juga dapat menjadi cara untuk mencegah banjir. Sebagian orang menyangka bahwa <strong>program penghijauan</strong> bukanlah suatu amalan yang mendapatkan pahala di sisi Allah, sehingga  ada diantara mereka yang bermalas-malasan dalam mendukung program  tersebut.  Demi menepis persangkaan yang salah ini, kali ini kami akan mengulas <strong>PENTINGNYA PENGHIJAUAN</strong> menurut  tuntunan Nabi -<em>Shallallahu alaihi wa sallam</em>- beserta  dalil-dalilnya.  <span id="more-187"></span></p>
<p>Para pembaca yang budiman, mungkin anda masih mengingat sebuah  hadits yang masyhur dari Nabi -<em>Shallallahu alaihi wa sallam</em>-,  beliau bersabda,</p>
<p style="text-align:right;"><span style="font-size:medium;"><strong> <span style="font-family:Times New Roman,Times,serif;">إِذَا  مَاتَ اْلإِنْسَانُ انْقَطَعَ عَنْهُ عَمَلُهُ إِلاَّ مِنْ ثَلاَثَةٍ  إِلاَّ مِنْ صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ أَوْ عِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ أَوْ وَلَدٍ  صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ </span></strong></span></p>
<p><em> &#8220;Jika seorang manusia meninggal dunia, maka terputuslah seluruh  amalannya, kecuali dari tiga perkara: sedekah jariyah (yang mengalir  pahalanya), ilmu yang dimanfaatkan, dan anak shaleh yang mendo’akan  kebaikan baginya&#8221;.</em> [HR. Muslim dalam <strong><em>Kitab Al-Washiyyah </em></strong>(4199)]</p>
<p>Perhatikan, satu diantara perkara yang tak akan terputus amalannya  bagi seorang manusia, walaupun ia telah meninggal dunia adalah <strong>SEDEKAH  JARIYAH</strong>, sedekah yang terus mengalir pahalanya bagi seseorang.</p>
<p>Para ahli ilmu menyatakan bahwa sedekah jariyah memiliki banyak  macam dan jalannya, seperti membuat sumur umum, membangun masjid,  membuat jalan atau jembatan, menanam tumbuhan baik berupa pohon,  biji-bijian atau tanaman pangan, dan lainnya.</p>
<p>Jadi, menghijaukan lingkungan dengan tanaman yang kita tanam  merupakan sedekah dan amal jariyah bagi kita –walau telah meninggal-  selama tanaman itu tumbuh atau berketurunan.</p>
<p>Rasulullah -<em>Shallallahu alaihi wa sallam</em>- bersabda,</p>
<p style="text-align:right;"><span style="font-size:medium;"><strong> <span style="font-family:Times New Roman,Times,serif;">مَا  مِنْ مُسْلِمٍ يَغْرِسُ غَرْسًا أَوْ يَزْرَعُ زَرْعًا فَيَأْكُلُ مِنْهُ  طَيْرٌ أَوْ إِنْسَانٌ أَوْ بَهِيمَةٌ إِلاَّ كَانَ لَهُ بِهِ صَدَقَةٌ </span></strong></span></p>
<p><em> &#8220;Tak ada seorang muslim yang menanam pohon atau menanam tanaman,  lalu burung memakannya atau manusia atau hewan, kecuali ia akan  mendapatkan sedekah karenanya&#8221;.</em> [HR. Al-Bukhoriy dalam <strong>Kitab  AL-Muzaro'ah</strong> (2320), dan Muslim dalam <strong><em>Kitab  Al-Musaqoh</em></strong> (3950)]</p>
<p><strong> Al-Imam Ibnu Baththol</strong> -<em>rahimahullah</em>-  berkata saat mengomentari hadits ini, <em>&#8220;Ini menunjukkan bahwa sedekah  untuk semua jenis hewan dan makhluk bernyawa di dalamnya terdapat  pahala&#8221;. </em>[Lihat <strong><em>Syarh Ibnu Baththol</em></strong> (11/473)]</p>
<p>Seorang muslim yang menanam tanaman tak akan pernah rugi di sisi  Allah -<em>Azza wa Jalla</em>-, sebab tanaman tersebut akan dirasakan  manfaatnya oleh manusia dan hewan, bahkan bumi yang kita tempati.  Tanaman yang pernah kita tanam lalu diambil oleh siapa saja, baik dengan  jalan yang halal, maupun jalan haram, maka kita sebagai penanam tetap  mendapatkan pahala, sebab tanaman yang diambil tersebut berubah menjadi  sedekah bagi kita.</p>
<p>Rasulullah -<em>Shallallahu alaihi wa sallam</em>- bersabda,</p>
<p style="text-align:right;"><span style="font-size:medium;"><strong> <span style="font-family:Times New Roman,Times,serif;">مَا  مِنْ مُسْلِمٍ يَغْرِسُ غَرْسًا إِلَّا كَانَ مَا أُكِلَ مِنْهُ لَهُ  صَدَقَةً وَمَا سُرِقَ مِنْهُ لَهُ صَدَقَةٌ وَمَا أَكَلَ السَّبُعُ مِنْهُ  فَهُوَ لَهُ صَدَقَةٌ وَمَا أَكَلَتْ الطَّيْرُ فَهُوَ لَهُ صَدَقَةٌ  وَلَا يَرْزَؤُهُ أَحَدٌ إِلَّا كَانَ لَهُ صَدَقَةٌ </span></strong></span></p>
<p><em> &#8220;Tak ada seorang muslim yang menanam pohon, kecuali sesuatu yang  dimakan dari tanaman itu akan menjadi sedekah baginya, dan yang dicuri  akan menjadi sedekah. Apa saja yang dimakan oleh binatang buas darinya,  maka sesuatu (yang dimakan) itu akan menjadi sedekah baginya. Apapun  yang dimakan oleh burung darinya, maka hal itu akan menjadi sedekah  baginya. Tak ada seorangpun yang mengurangi, kecuali itu akan menjadi  sedekah baginya&#8221;</em> . [HR. Muslim dalam<strong><em> Al-Musaqoh </em></strong>(3945)]</p>
<p><strong> Al-Imam Abu Zakariyya Yahya Ibn Syarof An-Nawawiy</strong> -<em>rahimahullah</em>-  berkata menjelaskan faedah-faedah dari hadits yang mulia ini, <em>&#8220;Di  dalam hadits-hadits ini terdapat keutamaan menanam pohon dan tanaman,  bahwa pahala pelakunya akan terus berjalan (mengalir) selama pohon dan  tanaman itu ada, serta sesuatu (bibit) yang lahir darinya sampai hari  kiamat masih ada. Para ulama silang pendapat tentang pekerjaan yang  paling baik dan paling afdhol. Ada yang berpendapat bahwa yang terbaik  adalah perniagaan. Ada yang menyatakan bahwa yang terbaik adalah  kerajinan tangan. Ada juga yang menyatakan bahwa yang terbaik adalah  bercocok tanam. <strong>Inilah pendapat yang benar</strong>. Aku telah  memaparkan penjelasannya di akhir bab Al-Ath’imah dari kitab <strong>Syarh  Al-Muhadzdzab</strong>. Di dalam hadits-hadits ini terdapat keterangan  bahwa pahala dan ganjaran di akhirat hanyalah khusus bagi kaum muslimin,  dan bahwa seorang manusia akan diberi pahala atas sesuatu yang dicuri  dari hartanya, atau dirusak oleh hewan, atau burung atau sejenisnya&#8221;.</em> [Lihat <strong><em>Al-Minhaj</em></strong> (10/457) oleh An-Nawawiy,  cet. Dar Al-Ma'rifah, 1420 H]</p>
<p>Pahala sedekah yang dijanjikan oleh Nabi -<em>Shallallahu alaihi wa  sallam</em>- dalam hadits-hadits ini akan diraih oleh orang yang  menanam, walapun ia tidak meniatkan tanamannya yang diambil atau dirusak  orang dan hewan sebagai sedekah.</p>
<p><strong> Al-Hafizh Abdur Rahman Ibnu Rajab Al-Baghdadiy</strong> -<em>rahimahullah</em>-  berkata, <em>&#8220;Lahiriah hadits-hadits ini seluruhnya menunjukkan bahwa  perkara-perkara ini merupakan sedekah yang akan diberi ganjaran pahala  bagi orang yang menanamnya, tanpa perlu maksud dan niat&#8221;.</em> [Lihat <strong><em>Iqozh  Al-Himam Al-Muntaqo min Jami' Al-Ulum wa Al-Hikam</em></strong> (hal.  360) oleh Salim Al-Hilaliy, cet. Dar Ibn Al-Jauziy, 1419 H]</p>
<p>Penghijauan alias <strong>REBOISASI</strong> merupakan amalan sholeh  yang mengandung banyak manfaat bagi manusia di dunia dan untuk membantu  kemaslahatan akhirat manusia. Tanaman dan pohon yang ditanam oleh  seorang muslim memiliki banyak manfaat, seperti pohon itu bisa menjadi  naungan bagi manusia dan hewan yang lewat, buah dan daunnya terkadang  bisa dimakan, batangnya bisa dibuat menjadi berbagai macam peralatan,  akarnya bisa mencegah terjadinya erosi dan banjir, daunnya bisa  menyejukkan pandangan bagi orang melihatnya, dan pohon juga bisa menjadi  pelindung dari gangguan tiupan angin, membantu sanitasi lingkungan  dalam mengurangi polusi udara, dan masih banyak lagi manfaat tanaman dan  pohon yang tidak sempat kita sebutkan di lembaran sempit ini.</p>
<p>Jika demikian banyak manfaat dari <strong>REBOISASI</strong> alias  penghijuan, maka tak heran jika agama kita memerintahkan umatnya untuk  memanfaatkan tanah dan menanaminya sebagaimana yang dijelaskan oleh Nabi  -<em>Shallallahu alaihi wa sallam</em>- dalam hadits-hadits lainnya,  seperti beliau pernah bersabda,</p>
<p style="text-align:right;"><span style="font-size:medium;"><strong> <span style="font-family:Times New Roman,Times,serif;">إِنْ  قَامَتْ السَّاعَةُ وَبِيَدِ أَحَدِكُمْ فَسِيلَةٌ فَإِنْ اسْتَطَاعَ أَنْ  لَا يَقُومَ حَتَّى يَغْرِسَهَا فَلْيَفْعَلْ </span></strong></span></p>
<p><em> &#8220;Jika hari kiamat telah tegak, sedang di tangan seorang diantara  kalian terdapat bibit pohon korma; jika ia mampu untuk tidak berdiri  sampai ia menanamnya, maka lakukanlah&#8221;.</em> [HR. Ahmad dalam <strong><em>Al-Musnad</em></strong> (3/183, 184, dan 191), Ath-Thoyalisiy dalam <strong><em>Al-Musnad</em></strong> (2068), dan Al-Bukhoriy dalam <strong><em>Al-Adab Al-Mufrod</em></strong> (479). Hadits ini di-shohih-kan oleh Syaikh Al-Albaniy dalam <strong><em>Ash-Shohihah</em></strong> (no. 9)]</p>
<p>Ahli Hadits Abad ini, <strong>Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albaniy</strong> -<em>rahimahullah</em>- berkata saat memetik faedah dari hadits-hadits  di atas, <em>&#8220;Tak ada sesuatu (yakni, dalil) yang paling kuat  menunjukkan anjuran bercocok tanam sebagaimana dalam hadits-hadits yang  mulia ini, terlebih lagi hadits yang terakhir diantaranya, karena di  dalamnya terdapat targhib (dorongan) besar untuk menggunakan kesempatan  terakhir dari kehidupan seseorang dalam rangka menanam sesuatu yang  dimanfaatkan oleh manusia setelah ia (si penanam) meninggal dunia. Maka  pahalanya terus mengalir, dan dituliskan sebagai pahala baginya sampai  hari kiamat&#8221;.</em> [Lihat <strong><em>Silsilah Al-Ahadits Ash-Shohihah</em></strong> (1/1/38)]</p>
<p>Nabi -<em>Shallallahu alaihi wa sallam</em>- tidak mungkin  memerintahkan suatu perkara kepada umatnya dalam kondisi yang genting  dan sempit seperti itu, kecuali karena perkara itu amat penting, dan  besar manfaatnya bagi seorang manusia. Semua ini menunjukkan tentang  keutamaan <strong><em>&#8220;Go Green&#8221;</em></strong> alias program penghijauan  yang digalakkan oleh pemerintah kita –semoga Allah memberikan balasan  kebaikan bagi mereka-.</p>
<p>Saking besarnya manfaat dari penghijauan lingkungan alias <strong>REBOISASI</strong>,  tanah yang dahulu kering kerontang bisa berubah menjadi tanah subur.  Sungai yang dahulu gersang, dengan reboisasi bisa berubah menjadi  berair.</p>
<p>Rasulullah -<em>Shallallahu alaihi wa sallam</em>- pernah bersabda  dalam sebuah yang <em>shohih</em>,</p>
<p style="text-align:right;"><span style="font-size:medium;"><strong> <span style="font-family:Times New Roman,Times,serif;">لاَ  تَقُومُ السَّاعَةُ حَتَّى تَعُودَ أَرْضُ الْعَرَبِ مُرُوجًا  وَأَنْهَارًا </span></strong></span></p>
<p><em> &#8220;Tak akan tegak hari kiamat sampai tanah Arab menjadi tanah  subur, dan sungai-sungai&#8221;.</em> [HR. Ahmad dalam <strong><em>Al-Musnad</em></strong> (2/370 &amp; 417), dan Muslim dalam <strong><em>Kitab Ash-Shodaqoh </em></strong>(2336)]</p>
<p>Ketika para sahabat mendengarkan hadits-hadits ini, maka mereka  berlomba-lomba dan saling mendorong untuk melakukan program penghijauan  ini, karena ingin mendapatkan keutamaan dari Allah -<em>Azza wa Jalla</em>-  di dunia dan di akhirat berupa ganjaran pahala.</p>
<p>Para pembaca yang budiman, jika kita mau membuka sebagian  kitab-kitab hadits yang berisi keterangan dan petunjuk jalan hidup para  salaf (pendahulu) kita dari kalangan sahabat dan generasi setelahnya,  maka kita akan mendapatkan manusia-manusia yang memiliki semangat dalam  menggalakkan perintah Nabi -<em>Shallallahu alaihi wa sallam</em>- dalam  perkara ini.</p>
<p>Seorang tabi’in yang bernama Umaroh bin Khuzaimah bin Tsabit  Al-Anshoriy Al-Madaniy -<em>rahimahullah</em>- berkata,</p>
<p style="text-align:right;"><span style="font-size:medium;"><strong> <span style="font-family:Times New Roman,Times,serif;">سَمِعْتُ  عُمَرَ بْنَ الْخَطَّابِ يَقُوْلُ لأَبِيْ : مَا يَمْنَعُكَ أَنْ تَغْرِسَ  أَرْضَكَ ؟ فَقَالَ لَهُ أَبِيْ : أَنَا شَيْخٌ كَبِيْرٌ أَمُوْتُ غَدًا ،  فَقَالَ لَهُ عُمَرُ : أَعْزِمْ عَلَيْكَ لَتَغْرِسَنَّهَا, فَلَقَدْ  رَأَيْتُ عُمَرَ بْنَ الْخَطَّابِ يَغْرِسُهَا بِيَدِهِ مَعَ أَبِيْ</span></strong><strong> </strong></span></p>
<p><em> &#8220;Aku pernah mendengarkan Umar bin Khoththob berkata kepada  bapakku, &#8220;Apa yang menghalangi dirimu untuk menanami tanahmu?&#8221; Bapakku  berkata kepada beliau, &#8220;Aku adalah orang yang sudah tua, akan mati  besok&#8221;. Umar berkata kepadanya, &#8220;Aku mengharuskan engkau (menanamnya).  Engkau harus menanamnya!&#8221; Sungguh aku melihat Umar bin Khoththob  menanamnya dengan tangannya bersama bapakku&#8221;. </em> [HR. Ibnu Jarir  Ath-Thobariy sebagaimana dalam <strong><em>Ash-Shohihah</em></strong> (1/1/39)]</p>
<p><strong>Sumber : </strong><em>Buletin Jum’at At-Tauhid edisi 121  Tahun II.</em></p>
<br /> Tagged: <a href='http://abrahamik.wordpress.com/tag/banjir/'>banjir</a>, <a href='http://abrahamik.wordpress.com/tag/bencana-alam/'>bencana alam</a>, <a href='http://abrahamik.wordpress.com/tag/hadis-memelihara-alam/'>hadis memelihara alam</a>, <a href='http://abrahamik.wordpress.com/tag/islam/'>islam</a>, <a href='http://abrahamik.wordpress.com/tag/islam-mencegah-banjir/'>islam mencegah banjir</a>, <a href='http://abrahamik.wordpress.com/tag/pelestarian-alam/'>pelestarian alam</a>, <a href='http://abrahamik.wordpress.com/tag/penghijauan/'>penghijauan</a>, <a href='http://abrahamik.wordpress.com/tag/penghijauan-pelestarian-alam-dalam-islam/'>penghijauan pelestarian alam dalam islam</a>, <a href='http://abrahamik.wordpress.com/tag/reboisasi/'>reboisasi</a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/abrahamik.wordpress.com/187/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/abrahamik.wordpress.com/187/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/abrahamik.wordpress.com/187/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/abrahamik.wordpress.com/187/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/abrahamik.wordpress.com/187/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/abrahamik.wordpress.com/187/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/abrahamik.wordpress.com/187/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/abrahamik.wordpress.com/187/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/abrahamik.wordpress.com/187/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/abrahamik.wordpress.com/187/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/abrahamik.wordpress.com/187/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/abrahamik.wordpress.com/187/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/abrahamik.wordpress.com/187/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/abrahamik.wordpress.com/187/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=abrahamik.wordpress.com&amp;blog=11997190&amp;post=187&amp;subd=abrahamik&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abrahamik.wordpress.com/2010/03/09/pentingnya-penghijauan-dan-pelestarian-alam-dalam-islam/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/0cac0c9f54dd87a8f5ca43e361da193e?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">abrahamik</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Konsep Peperangan Dalam Qur&#8217;an</title>
		<link>http://abrahamik.wordpress.com/2010/02/23/konsep-peperangan-dalam-quran/</link>
		<comments>http://abrahamik.wordpress.com/2010/02/23/konsep-peperangan-dalam-quran/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 23 Feb 2010 13:17:41 +0000</pubDate>
		<dc:creator>abrahamik</dc:creator>
				<category><![CDATA[Pemikiran Islam]]></category>
		<category><![CDATA[islam]]></category>
		<category><![CDATA[jihad]]></category>
		<category><![CDATA[membunuh]]></category>
		<category><![CDATA[perang]]></category>
		<category><![CDATA[Qur'an]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abrahamik.wordpress.com/?p=176</guid>
		<description><![CDATA[Judul asli: War in the Quran Dan bunuhlah mereka di mana saja kamu jumpai mereka&#8230; (2:191) Bagian ayat di atas telah diduplikasi di berbagai situs dan publikasi untuk digunakan sebagai suatu kesaksian atas ‘kekerasan’ dan kekejaman yang didukung oleh Quran&#8230; Dalam artikel ini, kami akan merontokkan mitos seputar peperangan dalam Quran dan menunjukkan ‘apa’ yang [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=abrahamik.wordpress.com&amp;blog=11997190&amp;post=176&amp;subd=abrahamik&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Judul asli: <a title="War in the Quran" href="http://www.free-minds.org/articles/gods_system/war.htm">War in the Quran</a><strong> </strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>Dan bunuhlah mereka di mana saja kamu jumpai mereka&#8230; (2:191)</strong></p>
<p>Bagian ayat di atas telah diduplikasi di berbagai situs dan publikasi untuk digunakan sebagai suatu kesaksian atas ‘kekerasan’ dan kekejaman yang didukung oleh Quran&#8230;</p>
<p>Dalam artikel ini, kami akan merontokkan mitos seputar peperangan dalam Quran dan menunjukkan ‘apa’ yang sebenarnya Allah dari Islam ajarkan.<span id="more-176"></span></p>
<h2>1. Perlawanan Hanya Diizinkan Terhadap Agresi atau Perburuan.</h2>
<p><strong>Dan perangilah di jalan Allah orang-orang yang memerangi kamu, (tetapi) janganlah kamu melampaui batas, karena sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas. (2:190)</strong></p>
<p><strong>Mereka bertanya kepadamu tentang berperang pada bulan Haram. Katakanlah: &#8220;Berperang dalam bulan itu adalah dosa besar; tetapi menghalangi (manusia) dari jalan Allah, kafir kepada Allah, (menghalangi masuk) Masjidilharam dan mengusir penduduknya dari sekitarnya, lebih besar (dosanya) di sisi Allah. Dan berbuat fitnah lebih besar (dosanya) daripada membunuh. Mereka tidak henti-hentinya memerangi kamu sampai mereka (dapat) mengembalikan kamu dari agamamu (kepada kekafiran), seandainya mereka sanggup. Barang siapa yang murtad di antara kamu dari agamanya, lalu dia mati dalam kekafiran, maka mereka itulah yang sia-sia amalannya di dunia dan di akhirat, dan mereka itulah penghuni neraka, mereka kekal di dalamnya. (2:217)</strong></p>
<p>Bertolak-belakang dengan keinginan banyak pihak yang lebih ingin menggambarkan Islam sebagai suatu sistem yang suka perang, Quran tidak mengizinkan peperangan kecuali dalam kasus ‘bela-diri’.</p>
<p><strong>Dan bunuhlah mereka di mana saja kamu jumpai mereka, dan usirlah mereka dari tempat mereka telah mengusir kamu (Mekah); dan fitnah itu lebih besar bahayanya dari pembunuhan, dan janganlah kamu memerangi mereka di Masjidilharam, kecuali jika mereka memerangi kamu di tempat itu. Jika mereka memerangi kamu (di tempat itu), maka bunuhlah mereka. Demikianlah balasan bagi orang-orang kafir.  (2:191) </strong></p>
<p>Lihat kembali kepada ayat yang menyeramkan di awal artikel ini&#8230;</p>
<p>Nampaknya, ayat tersebut merupakan kelanjutan langsung dari 2:190 dimana orang-orang diperintahkan untuk bertempur untuk membela diri. Kita diizinkan untuk bertarung dan membunuh mereka yang bertarung dengan dan ingin membunuh kita, dan mengusir mereka dari tempat mereka mengusir kita&#8230; Perlindungan diberikan di Masjidilharam; namun, ini tidak berlaku jikalau mereka tetap meneruskan perlawanan di lokasi tersebut.</p>
<h2>2. Pencegahan Adalah Kuncinya.</h2>
<p><strong>Dan siapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan apa saja yang kamu sanggupi dan dari kuda-kuda yang ditambat untuk berperang (yang dengan persiapan itu) kamu menggentarkan musuh Allah, musuhmu dan orang-orang selain mereka yang kamu tidak mengetahuinya; sedang Allah mengetahuinya. Apa saja yang kamu nafkahkan pada jalan Allah niscaya akan dibalas dengan cukup kepadamu dan kamu tidak akan dianiaya (dirugikan). (8:60)</strong></p>
<p>Quran adalah buku kehidupan dan buku kebijaksanaan. Ayat di atas mendukung strategi menunjukkan kekuatan dan memastikan bahwa setiap orang sadar akan hal itu. Ini biasanya adalah cara terbaik untuk mencegah peperangan dan membuat mereka dengan niat jahat berpikir dua kali untuk memulai peperangan atau menyerang karena alasan superioritas.</p>
<h2>3. Pelatihan Militer Dianjurkan.</h2>
<p><strong>Diwajibkan atas kamu berperang, padahal berperang itu adalah sesuatu yang kamu benci. Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui. (2:216)</strong></p>
<p><strong>Hai Nabi, kobarkanlah semangat para mukmin itu untuk berperang. Jika ada dua puluh orang yang sabar di antara kamu, niscaya mereka dapat mengalahkan dua ratus orang musuh. Dan jika ada seratus orang (yang sabar) di antaramu, mereka dapat mengalahkan seribu daripada orang-orang kafir, disebabkan orang-orang kafir itu kaum yang tidak mengerti. (8:65)</strong></p>
<p>Untuk memperjelas dari awalnya, Islam adalah suatu sistem yang mengundang manusia untuk bersiaga setiap saat&#8230; Quran tidak mengadopsi sikap ‘tinggal-pergi’, tapi menjatuhkan para aggressor sejak awal dan menuntut pengikutnya untuk menyadari tanggung-jawab seperti itu.</p>
<h2>4. Pertarungan Diizinkan Untuk Membela Mukmin Lainnya.</h2>
<p><strong>&#8230;Dan (terhadap) orang-orang yang beriman, tetapi belum berhijrah, maka tidak ada kewajiban sedikit pun atasmu melindungi mereka, sebelum mereka berhijrah. (Akan tetapi) jika mereka meminta pertolongan kepadamu dalam (urusan pembelaan) agama, maka kamu wajib memberikan pertolongan kecuali terhadap kaum yang telah ada perjanjian antara kamu dengan mereka. Dan Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan. (8:72)</strong></p>
<p><strong>Mengapa kamu tidak mau berperang di jalan Allah dan (membela) orang-orang yang lemah baik laki-laki, wanita-wanita maupun anak-anak yang semuanya berdoa: &#8220;Ya Tuhan kami, keluarkanlah kami dari negeri ini (Mekah) yang lalim penduduknya dan berilah kami pelindung dari sisi Engkau, dan berilah kami penolong dari sisi Engkau!&#8221;. (4:75) </strong><br />
Mereka yang beriman yang diserang boleh meminta pertolongan dan tindakan militer boleh diterapkan pada kasus semacam ini. Pengecualian terhadap hal ini jelas, yaitu apabila terdapat perjanjian dengan negara/kaum yang menjadi tempat tinggal mereka dan perjanjian tersebut belum dilanggar (baca 9:1-15 untuk urusan mengenai perjanjian yang dilanggar).</p>
<h2>5. Konsep &#8216;Jihad&#8217;.</h2>
<p><strong>Dan berjuanglah (jahidu) kamu pada jalan Allah dengan perjuangan (jihad) yang sebenar-benarnya&#8230;(22:78)</strong></p>
<p>Jihad dimengerti oleh budaya Barat dan bahkan dalam lingkaran Islam sendiri sebagai ‘Perang Suci’. Sebenarnya, kata ini menurut pemakaiannya oleh Buku Allah berarti ‘untuk berjuang’:</p>
<p><strong>Tetapi Rasul dan orang-orang yang beriman bersama dia, mereka berjuang (jahadu) dengan harta dan diri mereka (9:88) </strong></p>
<p><strong>Allah melebihkan orang-orang yang berjuang (mujahidiin) dengan harta dan jiwanya atas orang-orang yang duduk&#8230; (4:95) </strong></p>
<p>Bahkan orang tua anda bisa ‘berjuang’ melawan anda:</p>
<p><strong>Dan jika keduanya memaksamu (jahadaak) untuk mempersekutukan Aku dengan sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, maka janganlah kamu mengikuti keduanya&#8230; (29:8, 31:15)</strong></p>
<p>Jelaslah bahwa orang tua anda tidak melakukan ‘Perang Suci’ melawan anda.</p>
<h2>6. Kesetaraan Dalam Peperangan Merupakan Peraturan.</h2>
<p><strong>&#8230;Oleh sebab itu barang siapa yang menyerang kamu, maka seranglah ia, seimbang dengan serangannya terhadapmu. Bertakwalah kepada Allah dan ketahuilah, bahwa Allah beserta orang-orang yang bertakwa. (2:194)</strong></p>
<p><strong> Dan jika kamu memberikan balasan, maka balaslah dengan balasan yang sama dengan siksaan yang ditimpakan kepadamu. Akan tetapi jika kamu bersabar, sesungguhnya itulah yang lebih baik bagi orang-orang yang sabar. (16:126)</strong></p>
<p>Inilah hukum kesetaraan. Jika 100 serdadu anda dibunuh, maka jumlah maksimal serdadu musuh yang boleh anda bunuh adalah 100&#8230; Anda tidak boleh membunuh lebih dari apa yang terbunuh bagi anda, dan jika anda menahan diri dan tidak cepat dalam membalas dendam, itu adalah selalu yang lebih baik.</p>
<h2>7. Melarikan Diri Tidaklah Dianjurkan.</h2>
<p><strong>Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu bertemu dengan orang-orang yang kafir yang sedang menyerangmu, maka janganlah kamu membelakangi mereka (mundur). Barang siapa yang membelakangi mereka (mundur) di waktu itu, kecuali berbelok untuk (siasat) perang atau hendak menggabungkan diri dengan pasukan yang lain, maka sesungguhnya orang itu kembali dengan membawa kemurkaan dari Allah, dan tempatnya ialah neraka Jahanam. Dan amat buruklah tempat kembalinya. (8:15-16)</strong></p>
<p>Meskipun tidak ada hukum yang melarang tegas melarikan diri dari kancah peperangan, mereka yang beriman pada Allah tidak akan melakukan hal bodoh seperti itu dikarenakan akibat yang sangat buruk di kehidupan mendatang.</p>
<h2>8. Tawanan Perang.</h2>
<p><strong>&#8230;Sebahagian mereka kamu bunuh dan sebahagian yang lain kamu tawan. (33:26)</strong></p>
<p><strong>Hai Nabi, katakanlah kepada tawanan-tawanan yang ada di tanganmu: &#8220;Jika Allah mengetahui ada kebaikan dalam hatimu, niscaya Dia akan memberikan kepadamu yang lebih baik dari apa yang telah diambil daripadamu dan Dia akan mengampuni kamu&#8221;. Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang (8:70)</strong></p>
<p>Dalam hukum Allah, prajurit musuh dapat dijadikan tawanan perang selagi perang berlangsung dan ditahan sampai waktu yang memungkinkan untuk membebaskan mereka. Para tawanan perang tidaklah boleh dibunuh atau disiksa&#8230; ini bukanlah praktek yang mempunyai dasar hukum apapun.</p>
<h2>9. Harta Rampasan Perang.</h2>
<p><strong>Mereka menanyakan kepadamu tentang (pembagian) harta rampasan perang. Katakanlah: &#8220;Harta rampasan perang itu kepunyaan Allah dan Rasul, sebab itu bertakwalah kepada Allah dan perbaikilah perhubungan di antara sesamamu, dan taatlah kepada Allah dan Rasul-Nya jika kamu adalah orang-orang yang beriman&#8221; (8:1)</strong></p>
<p><strong>Dan Dia mewariskan kepada kamu tanah-tanah, rumah-rumah dan harta benda mereka, dan (begitu pula) tanah yang belum kamu injak. Dan adalah Allah Maha Kuasa terhadap segala sesuatu. (33:27)</strong></p>
<p>Harta rampasan perang adalah milik negara dan didistribusikan sesuai ketentuan Quran (kepada yatim piatu, fakir miskin, dan sebagainya). Tanah dan barang milik musuh disita dalam peperangan semacam ini.</p>
<h2>10. Peperangan Dihentikan Bila Musuh Berhenti Menyerang.</h2>
<p><strong>Kemudian jika mereka berhenti (dari memusuhi kamu), maka sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (2:192)</strong><br />
<strong> </strong></p>
<p><strong>Dan jika mereka condong kepada perdamaian, maka condonglah kepadanya dan bertawakallah kepada Allah. Sesungguhnya Dialah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. (8:61)</strong></p>
<p>Inilah Tuhan dari Mereka Yang Berserah Diri&#8230; Tuhan yang hanya memperbolehkan kekerasan hanya jika seseorang menjadi korban kekerasan, dan cepat dalam perdamaian saat kekerasan itu berhenti.</p>
<p>Tidak ada dasar apapun atas melanjutkan perang dan pembunuhan hanya karena dipicu oleh tindakan-tindakan agresif&#8230;</p>
<h2>11. Jizya (Pembayaran Kompensasi).</h2>
<p><strong>Perangilah orang-orang yang tidak beriman kepada Allah dan tidak (pula) kepada hari kemudian dan mereka tidak mengharamkan apa yang telah diharamkan oleh Allah dan Rasul-Nya dan tidak beragama dengan agama yang benar (agama Allah), (yaitu orang-orang) yang diberikan Al Kitab kepada mereka, sampai mereka membayar jizyah dengan patuh sedang mereka dalam keadaan tunduk. (9:29)</strong></p>
<p>Sura 9 membicarakan pelanggaran perjanjian dan peperangan. Ganjaran bagi mereka yang melanggar hukum ini dan telah berperang melawan kaum mukmin adalah membayar ‘kompensasi’ atas tindakan mereka tersebut.</p>
<h2>12. Mendamaikan Antar Mukmin.</h2>
<p><strong>Dan jika ada dua golongan dari orang-orang mukmin berperang maka damaikanlah antara keduanya.  Jika salah satu dari kedua golongan itu berbuat aniaya terhadap golongan yang lain maka perangilah golongan yang berbuat aniaya itu sehingga golongan itu kembali kepada perintah Allah; jika golongan itu telah kembali (kepada perintah Allah), maka damaikanlah antara keduanya dengan adil dan berlaku adillah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berlaku adil. (49:9)</strong></p>
<p>Meskipun ini tidak berhubungan langsung dengan peperangan, ini menjadi dasar apa yang harus dilakukan jikalau dua kubu mukmin berselisih.</p>
<h2>Sekadar Penyegar Ingatan</h2>
<p><strong>&#8230;barang siapa yang membunuh seorang manusia, bukan karena orang itu (membunuh) orang lain, atau bukan karena membuat kerusakan di muka bumi, maka seakan-akan dia telah membunuh manusia seluruhnya. Dan barang siapa yang memelihara kehidupan seorang manusia, maka seolah-olah dia telah memelihara kehidupan manusia semuanya&#8230; (5:32)</strong></p>
<p>Artikel Terkait :</p>
<p><a href="../2010/02/12/teroris-dan-jihad-dalam-islam/">Teroris dan Jihad Dalam Islam</a></p>
<p><a href="../2010/02/14/tidak-ada-paksaan-dalam-beragama/">Tidak Ada Paksaan Dalam Beragama</a></p>
<p><a href="../2010/02/19/studi-kritis-hadis-perangilah-manusia-sehingga-semuanya-mengucap-la-ilaha-illallah/">Studi Kritis Hadis Perangilah Manusia Sehingga Semuanya Mengucap La Ilaha Illallah</a></p>
<p><a href="../2010/02/21/ayat-ayat-perang-dalam-qur%25e2%2580%2599an/">Ayat-ayat Perang Dalam Qur’an</a></p>
<div id="_mcePaste" style="overflow:hidden;position:absolute;left:-10000px;top:3291px;width:1px;height:1px;"><!--[if gte mso 9]&gt;  Normal 0   false false false         MicrosoftInternetExplorer4  &lt;![endif]--><!--[if gte mso 9]&gt;   &lt;![endif]--><!--  /* Font Definitions */  @font-face 	{font-family:"MS Mincho"; 	panose-1:2 2 6 9 4 2 5 8 3 4; 	mso-font-alt:"ＭＳ 明朝"; 	mso-font-charset:128; 	mso-generic-font-family:roman; 	mso-font-format:other; 	mso-font-pitch:fixed; 	mso-font-signature:1 134676480 16 0 131072 0;} @font-face 	{font-family:"\@MS Mincho"; 	panose-1:0 0 0 0 0 0 0 0 0 0; 	mso-font-charset:128; 	mso-generic-font-family:roman; 	mso-font-format:other; 	mso-font-pitch:fixed; 	mso-font-signature:1 134676480 16 0 131072 0;}  /* Style Definitions */  p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal 	{mso-style-parent:""; 	margin:0cm; 	margin-bottom:.0001pt; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:12.0pt; 	font-family:"Times New Roman"; 	mso-fareast-font-family:"MS Mincho";} h2 	{mso-margin-top-alt:auto; 	margin-right:0cm; 	mso-margin-bottom-alt:auto; 	margin-left:0cm; 	mso-pagination:widow-orphan; 	mso-outline-level:2; 	font-size:18.0pt; 	font-family:"Times New Roman";} a:link, span.MsoHyperlink 	{color:blue; 	text-decoration:underline; 	text-underline:single;} a:visited, span.MsoHyperlinkFollowed 	{color:purple; 	text-decoration:underline; 	text-underline:single;} @page Section1 	{size:612.0pt 792.0pt; 	margin:72.0pt 90.0pt 72.0pt 90.0pt; 	mso-header-margin:36.0pt; 	mso-footer-margin:36.0pt; 	mso-paper-source:0;} div.Section1 	{page:Section1;} --><!--[if gte mso 10]&gt; &lt;!   /* Style Definitions */  table.MsoNormalTable 	{mso-style-name:&quot;Table Normal&quot;; 	mso-tstyle-rowband-size:0; 	mso-tstyle-colband-size:0; 	mso-style-noshow:yes; 	mso-style-parent:&quot;&quot;; 	mso-padding-alt:0cm 5.4pt 0cm 5.4pt; 	mso-para-margin:0cm; 	mso-para-margin-bottom:.0001pt; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:10.0pt; 	font-family:&quot;Times New Roman&quot;; 	mso-fareast-font-family:&quot;Times New Roman&quot;; 	mso-ansi-language:#0400; 	mso-fareast-language:#0400; 	mso-bidi-language:#0400;} --> <!--[endif]--></p>
<p class="MsoNormal">Judul asli: <a title="War in the Quran" href="http://www.free-minds.org/articles/gods_system/war.htm">War in the Quran</a><strong></strong></p>
<p class="MsoNormal"><strong> </strong></p>
<p class="MsoNormal"><strong> </strong></p>
<p class="MsoNormal"><strong>Dan bunuhlah mereka di mana saja kamu jumpai mereka&#8230; (2:191)</strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:12pt;">
Bagian ayat di atas telah diduplikasi di berbagai situs dan publikasi untuk digunakan sebagai suatu kesaksian atas ‘kekerasan’ dan kekejaman yang didukung oleh Quran&#8230;</p>
<p>Dalam artikel ini, kami akan merontokkan mitos seputar peperangan dalam Quran dan menunjukkan ‘apa’ yang sebenarnya Allah dari Islam ajarkan.</p>
<h2>1. Perlawanan Hanya Diizinkan Terhadap Agresi atau Perburuan.</h2>
<p class="MsoNormal"><strong>Dan perangilah di jalan Allah orang-orang yang memerangi kamu, (tetapi) janganlah kamu melampaui batas, karena sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas. (2:190)</strong></p>
<p><strong>Mereka bertanya kepadamu tentang berperang pada bulan Haram. Katakanlah: &#8220;Berperang dalam bulan itu adalah dosa besar; tetapi menghalangi (manusia) dari jalan Allah, kafir kepada Allah, (menghalangi masuk) Masjidilharam dan mengusir penduduknya dari sekitarnya, lebih besar (dosanya) di sisi Allah. Dan berbuat fitnah lebih besar (dosanya) daripada membunuh. Mereka tidak henti-hentinya memerangi kamu sampai mereka (dapat) mengembalikan kamu dari agamamu (kepada kekafiran), seandainya mereka sanggup. Barang siapa yang murtad di antara kamu dari agamanya, lalu dia mati dalam kekafiran, maka mereka itulah yang sia-sia amalannya di dunia dan di akhirat, dan mereka itulah penghuni neraka, mereka kekal di dalamnya. (2:217)</strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:12pt;">
Bertolak-belakang dengan keinginan banyak pihak yang lebih ingin menggambarkan Islam sebagai suatu sistem yang suka perang, Quran tidak mengizinkan peperangan kecuali dalam kasus ‘bela-diri’.</p>
<p class="MsoNormal"><strong>Dan bunuhlah mereka di mana saja kamu jumpai mereka, dan usirlah mereka dari tempat mereka telah mengusir kamu (Mekah); dan fitnah itu lebih besar bahayanya dari pembunuhan, dan janganlah kamu memerangi mereka di Masjidilharam, kecuali jika mereka memerangi kamu di tempat itu. Jika mereka memerangi kamu (di tempat itu), maka bunuhlah mereka. Demikianlah balasan bagi orang-orang kafir.  (2:191) </strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:12pt;">
Lihat kembali kepada ayat yang menyeramkan di awal artikel ini&#8230;</p>
<p>Nampaknya, ayat tersebut merupakan kelanjutan langsung dari 2:190 dimana orang-orang diperintahkan untuk bertempur untuk membela diri. Kita diizinkan untuk bertarung dan membunuh mereka yang bertarung dengan dan ingin membunuh kita, dan mengusir mereka dari tempat mereka mengusir kita&#8230; Perlindungan diberikan di Masjidilharam; namun, ini tidak berlaku jikalau mereka tetap meneruskan perlawanan di lokasi tersebut.</p>
<h2>2. Pencegahan Adalah Kuncinya.</h2>
<p class="MsoNormal"><strong>Dan siapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan apa saja yang kamu sanggupi dan dari kuda-kuda yang ditambat untuk berperang (yang dengan persiapan itu) kamu menggentarkan musuh Allah, musuhmu dan orang-orang selain mereka yang kamu tidak mengetahuinya; sedang Allah mengetahuinya. Apa saja yang kamu nafkahkan pada jalan Allah niscaya akan dibalas dengan cukup kepadamu dan kamu tidak akan dianiaya (dirugikan). (8:60)</strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:12pt;">
Quran adalah buku kehidupan dan buku kebijaksanaan. Ayat di atas mendukung strategi menunjukkan kekuatan dan memastikan bahwa setiap orang sadar akan hal itu. Ini biasanya adalah cara terbaik untuk mencegah peperangan dan membuat mereka dengan niat jahat berpikir dua kali untuk memulai peperangan atau menyerang karena alasan superioritas.</p>
<h2>3. Pelatihan Militer Dianjurkan.</h2>
<p class="MsoNormal"><strong>Diwajibkan atas kamu berperang, padahal berperang itu adalah sesuatu yang kamu benci. Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui. (2:216)</strong></p>
<p><strong>Hai Nabi, kobarkanlah semangat para mukmin itu untuk berperang. Jika ada dua puluh orang yang sabar di antara kamu, niscaya mereka dapat mengalahkan dua ratus orang musuh. Dan jika ada seratus orang (yang sabar) di antaramu, mereka dapat mengalahkan seribu daripada orang-orang kafir, disebabkan orang-orang kafir itu kaum yang tidak mengerti. (8:65)</strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:12pt;">
Untuk memperjelas dari awalnya, Islam adalah suatu sistem yang mengundang manusia untuk bersiaga setiap saat&#8230; Quran tidak mengadopsi sikap ‘tinggal-pergi’, tapi menjatuhkan para aggressor sejak awal dan menuntut pengikutnya untuk menyadari tanggung-jawab seperti itu.</p>
<h2>4. Pertarungan Diizinkan Untuk Membela Mukmin Lainnya.</h2>
<p class="MsoNormal"><strong>&#8230;Dan (terhadap) orang-orang yang beriman, tetapi belum berhijrah, maka tidak ada kewajiban sedikit pun atasmu melindungi mereka, sebelum mereka berhijrah. (Akan tetapi) jika mereka meminta pertolongan kepadamu dalam (urusan pembelaan) agama, maka kamu wajib memberikan pertolongan kecuali terhadap kaum yang telah ada perjanjian antara kamu dengan mereka. Dan Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan. (8:72)</strong></p>
<p><strong>Mengapa kamu tidak mau berperang di jalan Allah dan (membela) orang-orang yang lemah baik laki-laki, wanita-wanita maupun anak-anak yang semuanya berdoa: &#8220;Ya Tuhan kami, keluarkanlah kami dari negeri ini (Mekah) yang lalim penduduknya dan berilah kami pelindung dari sisi Engkau, dan berilah kami penolong dari sisi Engkau!&#8221;. (4:75) </strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:12pt;">
Mereka yang beriman yang diserang boleh meminta pertolongan dan tindakan militer boleh diterapkan pada kasus semacam ini. Pengecualian terhadap hal ini jelas, yaitu apabila terdapat perjanjian dengan negara/kaum yang menjadi tempat tinggal mereka dan perjanjian tersebut belum dilanggar (baca 9:1-15 untuk urusan mengenai perjanjian yang dilanggar).</p>
<h2>5. Konsep &#8216;Jihad&#8217;.</h2>
<p class="MsoNormal"><strong>Dan berjuanglah (jahidu) kamu pada jalan Allah dengan perjuangan (jihad) yang sebenar-benarnya&#8230;(22:78)</strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:12pt;">
Jihad dimengerti oleh budaya Barat dan bahkan dalam lingkaran Islam sendiri sebagai ‘Perang Suci’. Sebenarnya, kata ini menurut pemakaiannya oleh Buku Allah berarti ‘untuk berjuang’:</p>
<p class="MsoNormal"><strong>Tetapi Rasul dan orang-orang yang beriman bersama dia, mereka berjuang (jahadu) dengan harta dan diri mereka (9:88) </strong></p>
<p><strong>Allah melebihkan orang-orang yang berjuang (mujahidiin) dengan harta dan jiwanya atas orang-orang yang duduk&#8230; (4:95) </strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:12pt;">
Bahkan orang tua anda bisa ‘berjuang’ melawan anda:</p>
<p class="MsoNormal"><strong>Dan jika keduanya memaksamu (jahadaak) untuk mempersekutukan Aku dengan sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, maka janganlah kamu mengikuti keduanya&#8230; (29:8, 31:15)</strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:12pt;">
Jelaslah bahwa orang tua anda tidak melakukan ‘Perang Suci’ melawan anda.</p>
<h2>6. Kesetaraan Dalam Peperangan Merupakan Peraturan.</h2>
<p class="MsoNormal"><strong>&#8230;Oleh sebab itu barang siapa yang menyerang kamu, maka seranglah ia, seimbang dengan serangannya terhadapmu. Bertakwalah kepada Allah dan ketahuilah, bahwa Allah beserta orang-orang yang bertakwa. (2:194)</strong></p>
<p><strong> Dan jika kamu memberikan balasan, maka balaslah dengan balasan yang sama dengan siksaan yang ditimpakan kepadamu. Akan tetapi jika kamu bersabar, sesungguhnya itulah yang lebih baik bagi orang-orang yang sabar. (16:126)</strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:12pt;">
Inilah hukum kesetaraan. Jika 100 serdadu anda dibunuh, maka jumlah maksimal serdadu musuh yang boleh anda bunuh adalah 100&#8230; Anda tidak boleh membunuh lebih dari apa yang terbunuh bagi anda, dan jika anda menahan diri dan tidak cepat dalam membalas dendam, itu adalah selalu yang lebih baik.</p>
<h2>7. Melarikan Diri Tidaklah Dianjurkan.</h2>
<p class="MsoNormal"><strong>Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu bertemu dengan orang-orang yang kafir yang sedang menyerangmu, maka janganlah kamu membelakangi mereka (mundur). Barang siapa yang membelakangi mereka (mundur) di waktu itu, kecuali berbelok untuk (siasat) perang atau hendak menggabungkan diri dengan pasukan yang lain, maka sesungguhnya orang itu kembali dengan membawa kemurkaan dari Allah, dan tempatnya ialah neraka Jahanam. Dan amat buruklah tempat kembalinya. (8:15-16)</strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:12pt;">
Meskipun tidak ada hukum yang melarang tegas melarikan diri dari kancah peperangan, mereka yang beriman pada Allah tidak akan melakukan hal bodoh seperti itu dikarenakan akibat yang sangat buruk di kehidupan mendatang.</p>
<h2>8. Tawanan Perang.</h2>
<p class="MsoNormal"><strong>&#8230;Sebahagian mereka kamu bunuh dan sebahagian yang lain kamu tawan. (33:26)</strong></p>
<p><strong>Hai Nabi, katakanlah kepada tawanan-tawanan yang ada di tanganmu: &#8220;Jika Allah mengetahui ada kebaikan dalam hatimu, niscaya Dia akan memberikan kepadamu yang lebih baik dari apa yang telah diambil daripadamu dan Dia akan mengampuni kamu&#8221;. Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang (8:70)</strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:12pt;">
Dalam hukum Allah, prajurit musuh dapat dijadikan tawanan perang selagi perang berlangsung dan ditahan sampai waktu yang memungkinkan untuk membebaskan mereka. Para tawanan perang tidaklah boleh dibunuh atau disiksa&#8230; ini bukanlah praktek yang mempunyai dasar hukum apapun.</p>
<h2>9. Harta Rampasan Perang.</h2>
<p class="MsoNormal"><strong>Mereka menanyakan kepadamu tentang (pembagian) harta rampasan perang. Katakanlah: &#8220;Harta rampasan perang itu kepunyaan Allah dan Rasul, sebab itu bertakwalah kepada Allah dan perbaikilah perhubungan di antara sesamamu, dan taatlah kepada Allah dan Rasul-Nya jika kamu adalah orang-orang yang beriman&#8221; (8:1)</strong></p>
<p><strong>Dan Dia mewariskan kepada kamu tanah-tanah, rumah-rumah dan harta benda mereka, dan (begitu pula) tanah yang belum kamu injak. Dan adalah Allah Maha Kuasa terhadap segala sesuatu. (33:27)</strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:12pt;">
Harta rampasan perang adalah milik negara dan didistribusikan sesuai ketentuan Quran (kepada yatim piatu, fakir miskin, dan sebagainya). Tanah dan barang milik musuh disita dalam peperangan semacam ini.</p>
<h2>10. Peperangan Dihentikan Bila Musuh Berhenti Menyerang.</h2>
<p class="MsoNormal"><strong>Kemudian jika mereka berhenti (dari memusuhi kamu), maka sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (2:192)</strong></p>
<p><strong>Dan jika mereka condong kepada perdamaian, maka condonglah kepadanya dan bertawakallah kepada Allah. Sesungguhnya Dialah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. (8:61)</strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:12pt;">
Inilah Tuhan dari Mereka Yang Berserah Diri&#8230; Tuhan yang hanya memperbolehkan kekerasan hanya jika seseorang menjadi korban kekerasan, dan cepat dalam perdamaian saat kekerasan itu berhenti.</p>
<p>Tidak ada dasar apapun atas melanjutkan perang dan pembunuhan hanya karena dipicu oleh tindakan-tindakan agresif&#8230;</p>
<h2>11. Jizya (Pembayaran Kompensasi).</h2>
<p class="MsoNormal"><strong>Perangilah orang-orang yang tidak beriman kepada Allah dan tidak (pula) kepada hari kemudian dan mereka tidak mengharamkan apa yang telah diharamkan oleh Allah dan Rasul-Nya dan tidak beragama dengan agama yang benar (agama Allah), (yaitu orang-orang) yang diberikan Al Kitab kepada mereka, sampai mereka membayar jizyah dengan patuh sedang mereka dalam keadaan tunduk. (9:29)</strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:12pt;">
Sura 9 membicarakan pelanggaran perjanjian dan peperangan. Ganjaran bagi mereka yang melanggar hukum ini dan telah berperang melawan kaum mukmin adalah membayar ‘kompensasi’ atas tindakan mereka tersebut.</p>
<h2>12. Mendamaikan Antar Mukmin.</h2>
<p class="MsoNormal"><strong>Dan jika ada dua golongan dari orang-orang mukmin berperang maka damaikanlah antara keduanya.  Jika salah satu dari kedua golongan itu berbuat aniaya terhadap golongan yang lain maka perangilah golongan yang berbuat aniaya itu sehingga golongan itu kembali kepada perintah Allah; jika golongan itu telah kembali (kepada perintah Allah), maka damaikanlah antara keduanya dengan adil dan berlaku adillah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berlaku adil. (49:9)</strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:12pt;">
Meskipun ini tidak berhubungan langsung dengan peperangan, ini menjadi dasar apa yang harus dilakukan jikalau dua kubu mukmin berselisih.</p>
<h2>Sekadar Penyegar Ingatan</h2>
<p class="MsoNormal"><strong>&#8230;barang siapa yang membunuh seorang manusia, bukan karena orang itu (membunuh) orang lain, atau bukan karena membuat kerusakan di muka bumi, maka seakan-akan dia telah membunuh manusia seluruhnya. Dan barang siapa yang memelihara kehidupan seorang manusia, maka seolah-olah dia telah memelihara kehidupan manusia semuanya&#8230; (5:32)</strong></p>
<p class="MsoNormal">
</div>
<br /> Tagged: <a href='http://abrahamik.wordpress.com/tag/islam/'>islam</a>, <a href='http://abrahamik.wordpress.com/tag/jihad/'>jihad</a>, <a href='http://abrahamik.wordpress.com/tag/membunuh/'>membunuh</a>, <a href='http://abrahamik.wordpress.com/tag/perang/'>perang</a>, <a href='http://abrahamik.wordpress.com/tag/quran/'>Qur'an</a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/abrahamik.wordpress.com/176/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/abrahamik.wordpress.com/176/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/abrahamik.wordpress.com/176/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/abrahamik.wordpress.com/176/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/abrahamik.wordpress.com/176/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/abrahamik.wordpress.com/176/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/abrahamik.wordpress.com/176/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/abrahamik.wordpress.com/176/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/abrahamik.wordpress.com/176/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/abrahamik.wordpress.com/176/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/abrahamik.wordpress.com/176/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/abrahamik.wordpress.com/176/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/abrahamik.wordpress.com/176/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/abrahamik.wordpress.com/176/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=abrahamik.wordpress.com&amp;blog=11997190&amp;post=176&amp;subd=abrahamik&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abrahamik.wordpress.com/2010/02/23/konsep-peperangan-dalam-quran/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>20</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/0cac0c9f54dd87a8f5ca43e361da193e?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">abrahamik</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Otak Besar Bagian Korteks Prefrontal Diceritakan Qur’an</title>
		<link>http://abrahamik.wordpress.com/2010/02/22/otak-besar-bagian-korteks-prefrontal-diceritakan-qur%e2%80%99an/</link>
		<comments>http://abrahamik.wordpress.com/2010/02/22/otak-besar-bagian-korteks-prefrontal-diceritakan-qur%e2%80%99an/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 22 Feb 2010 16:13:48 +0000</pubDate>
		<dc:creator>abrahamik</dc:creator>
				<category><![CDATA[Keajaiban Qur&#039;an]]></category>
		<category><![CDATA[damasio]]></category>
		<category><![CDATA[joseph deloux]]></category>
		<category><![CDATA[korteks prefrontal]]></category>
		<category><![CDATA[lobus frontalis]]></category>
		<category><![CDATA[nashiyah]]></category>
		<category><![CDATA[otak]]></category>
		<category><![CDATA[phineas gage]]></category>
		<category><![CDATA[Qur'an]]></category>
		<category><![CDATA[sujud]]></category>
		<category><![CDATA[ubun]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abrahamik.wordpress.com/?p=160</guid>
		<description><![CDATA[Allah berfirman di dalam Al-Quran tentang salah satu kejahatan orang kafir yang melarang Nabi Muhammad SAW untuk shalat di Ka&#8217;bah: &#8220;Ketahuilah, sungguh jika dia tidak berhenti (berbuat demikian) niscaya Kami tarik ubun-ubun (nashiyah)-nya, (yaitu) ubun-ubun orang yang mendustakan lagi durhaka&#8221; (Quran Surat Al-Alaq ayat 15-16) Apa maksud ayat Qur’an diatas? Kenapa ubun-ubun yang ditarik sebagai [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=abrahamik.wordpress.com&amp;blog=11997190&amp;post=160&amp;subd=abrahamik&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Allah berfirman di dalam Al-Quran tentang salah satu kejahatan orang kafir yang melarang Nabi Muhammad SAW untuk shalat di Ka&#8217;bah:</p>
<p><em>&#8220;Ketahuilah, sungguh jika dia tidak berhenti (berbuat demikian) niscaya Kami tarik ubun-ubun (nashiyah)-nya, (yaitu) ubun-ubun orang yang mendustakan lagi durhaka</em>&#8221; (Quran Surat Al-Alaq ayat 15-16)</p>
<p>Apa maksud ayat Qur’an diatas? Kenapa ubun-ubun yang ditarik sebagai balasan orang kafir tersebut? Apa pentingnya ubun-ubun? Kenapa ubun-ubun orang kafir tersebut dikatakan sebagai ubun-ubun orang yang mendustakan lagi durhaka? Apakah ada hubungan ubun-ubun dengan sifat kafir, dusta atau durhaka?<span id="more-160"></span></p>
<p>Kata ubun-ubun dalam ayat diatas merupakan terjemahan teks asli Qur’annya dari kata <em>nashiyah</em>. Muhammad Abduh menafsirkan kata “nashiyah” itu sendiri sebagai rambut yang tumbuh di atas dahi (jidat) atau jidat itu sendiri. Ini adalah simbol kesombongan, keangkuhan, dan kehormatan. Sehingga orang yang menarik rambut di atas jidat orang lain menunjukkan penghinaan yang sangat besar terhadap orang itu. Karena orang yang ditarik rambut jidatnya itu menjadi tidak berdaya sama sekali. Persis seperti seekor kuda yang dipegang jambulnya.(1)</p>
<p>Di dalam ilmu kedokteran, deerah ubun-ubun (<em>nashiyah</em>) ini memiliki makna tersendiri. Bagian otak yang ditutupi oleh jidat atau ubun-ubun itu dikenal sebagai <em>lobus frontalis. </em>Dan<em> </em>daerah <em>lobus frontal</em> yang tepat berada dibelakang dahi ini disebut <em>korteks prefrontal</em>. Sangat menarik sekali untuk dibahas bahwasanya daerah <em>korteks prefrontal</em> ini  memiliki fungsi yang berkaitan dengan sikap dan perilaku.</p>
<p><a href="http://abrahamik.files.wordpress.com/2010/02/pf.jpg"><img class="alignnone size-full wp-image-161" title="PF" src="http://abrahamik.files.wordpress.com/2010/02/pf.jpg?w=477" alt=""   /></a><a href="http://abrahamik.files.wordpress.com/2010/02/pf2.png"><img class="alignnone size-full wp-image-162" title="PF2" src="http://abrahamik.files.wordpress.com/2010/02/pf2.png?w=477" alt="Korteks Prefrontal"   /></a></p>
<p>Terdapat suatu cerita nyata mengenai hal ini. Phineas Gage (1823-1860), seorang pekerja konstruksi Rutland and Burlington Railroad, ketika sedang bekerja tertimpa sebatang besi tak terduga yang menembus tengkorak kepalanya (mengenai korteks prefrontal) sampai menembus mata kanannya. Untungnya, Gage tidak meninggal karena kejadian ini. Sebelum kecelakaan itu, Gage adalah orang yang mudah bersosialiasi, baik hati dan rajin bekerja. Namun, sejak kecelakaan itu perilaku Gage berubah. Kecelakaan itu tidak menyebabkannya mengalami gangguan bicara atau bergerak dan kemampuan belajar, mengingat, serta kepandaian lainnya tampaknya hanya sedikit terganggu. Namun, ada hal yang sangat berubah dari dirinya sampai-sampai teman-teman kerjanya mengatakan Gage bukanlah Gage yang dulu lagi. Gage menjadi seseorang yang tidak menghormati orang lain, tidak sabaran, tidak bertanggung jawab, tidak sensitif, dan tidak menepati janji.(2,3)<em> </em></p>
<p><a href="http://abrahamik.files.wordpress.com/2010/02/gage.png"><img class="alignnone size-full wp-image-163" title="Gage" src="http://abrahamik.files.wordpress.com/2010/02/gage.png?w=477" alt="Phineas Gage"   /></a><a href="http://abrahamik.files.wordpress.com/2010/02/gage2.png"> <img class="alignnone size-full wp-image-164" title="gage2" src="http://abrahamik.files.wordpress.com/2010/02/gage2.png?w=477" alt="Sketsa Luka Otak Phineas Gage"   /></a></p>
<p>Sebuah pengamatan yang serupa dilakukan oleh Damasio dan rekannya. Damasio dkk mempelajari dua orang yang dewasa yang ketika masa bayinya menderita kerusakan <em>korteks prefrontal </em>(satu karena kecelakaan dan satunya lagi karena tumor otak <em>meningioma</em>). Pada kasus tersebut, subjek penelitian telah sembuh sempurna dari kerusakan (<em>lesi</em>) pada otaknya, tetapi terdapat perilaku yang antisosial dan amoral pada kedua subjek tersebut. Wanita, 20 tahun, subjek pengamatan Damasio dkk, adalah orang yang pintar dan secara akademis sangat kompeten, tetapi ia mencuri barang dari keluarganya dan anak-anak lain, serta sering menganggu orang lain baik secara perkataan (<em>verbal</em>) maupun secara fisik. Ia juga sering berbohong dan gonta ganti pasangan. Subjek yang kedua, laki-laki 23 tahun, dalam pengamatan Damasio dkk adalah orang yang tidak memilki motivasi hidup, jorok, sering bohong, senang mengganggu orang dan sering gonta ganti pacar. Damasio dkk menyatakan bahwa masalah perilaku mereka tidak disebabkan oleh keadaan lingkungan mereka sebab kedua subjek penelitian tersebut berasal dari keluarga yang penyayang, stabil, ekonomi menengah dan orang tua yang berdedikasi. Malahan, dari kedua keluarga tersebut tidak memiliki anak-anak lain yang memiliki masalah perilaku sebagaimana kedua subjek penelitian tadi.(4)</p>
<p>Adrian Rane, guru besar psikologi dari Universitas Southern California, ketika mengadakan penelitian pada para pelaku-pelaku kejahatan bahwa terdapat hubungan erat antara <em>korteks prefrontal </em>dengan perilaku agresif yang ditunjukkan oleh para pelaku kejahatan. Penelitiannya pada 38 otak pria dan wanita, dengan alat PET (<em>Positron Emission Tomography</em>) menunjukkan betapa berpengaruhnya daerah <em>prefrontal </em>ini dalam tingkah laku manusia. Ia menemukan bahwa kerusakan pada daerah ini karena cedera, trauma lahir atau luka-luka di kepala, akan membuat seorang anak dari keluarga baik-baik dapat melakukan perbuatan kriminal yang tercela.(5)</p>
<p>Penelitian serupa juga dilakukan pada monyet yang dilakukan <em>ablasi </em>total atau hampir total pada <em>korteks prefrontal</em>nya. Monyet-monyet tersebut menjadi apatis, cuek, suka menyendiri, kurang agesif, serta tidak memiliki sikap bersaing dalam hal makanan, seks dan tempat tinggal.(6)</p>
<p>Berbagai macam penelitian mengenai hal ini terus berkembang sampai sekarang. Setidaknya sudah diketahui fungsi-fungsi dari <em>korteks prefrontal </em>ini. Korteks prefrontal ini memiliki fungsi untuk membedakan baik dan buruk, baik dan lebih baik, sama dan berbeda, mengatur emosi dan perilaku dengan mempertimbangkan konsekuensi dari aktivitas yang dilakukan, bekerja dengan tujuan yang telah ditetapkan, ekspresi personal, membuat keputusan, memprediksi hasil atau perbuatan, serta kemampuan kontrol perilaku sosial dan seksual. Banyak juga kelainan-kelainan neurologis yang diduga terjadi karena <em>disfungsi </em>dari <em>korteks prefrontal </em>ini yaitu skizofrenia, kelainan bipolar dan ADHD.(7,8,9)</p>
<p>Ahli saraf Joseph deLoux menemukan bahwa daerah <em>prefrontal </em>ini berperanan dalam menata emosi manusia. Reaksi yang tidak terkontrol yang dipicu oleh hubungan <em>thalamus </em>dan <em>amigdala </em>dapat diredam oleh <em>prefrontal. </em>Masuk akal, jika <em>prefrontal rusak, </em>emosi akan menjadi “liar”. Rusaknya <em>prefrontal </em>kiri membuat pemiliknya mudah cemas dan memiliki rasa takut yang hebat. Sedangkan, rusaknya <em>prefrontal </em>kanan membuat pemiliknya “kelewat ceria”. Ini dapat terjadi karena <em>prefrontal </em>kanan merupakan gudang marah, cemas, dan takut. Emosi-emosi ini dihambat oleh <em>prefrontal</em> kiri. Jadi, <em>prefrontal </em>kiri berfungsi seperti “bumper” bagi <em>prefrontal</em> kanan. Sirkuit <em>prefrontal-limbik </em>itu sangat penting dalam kehidupan mental. Menurut Josep deLoux, sambungan itu dapat menjadi pemandu manusia untuk membuat keputusan-keputusan penting dalam kehidupan. Sirkuit ini juga berkaitan erat dengan apa yang disebut suara hati dan intuisi.(10)</p>
<p><strong>Oleh karena itu, sangat tepat bila bagian depan kepala (<em>nashiyah</em>) orang kafir tersebut  dikatakan melambangkan sikap dusta dan durhaka sebagaimana yang ada di dalam al-Quran surat al-Alaq : 15-16.</strong> Inilah suatu bukti bahwa Al-Qur’an adalah wahyu Tuhan, bukan buatan manusia. Sebenarnya masih banyak lagi kenyataan-kenyataan Qur’an yang baru dapat dibuktikan maknanya oleh sains pada abad 20 ini.</p>
<p><strong>Bagian depan kepala (<em>nashiyah</em>) dalam Qur’an nampaknya melambangkan sifat-sifat atau akhlak</strong>, <strong>cara berpikir dan bertindak</strong>. Mungkin ini juga yang menyebabkan kenapa di dalam sholat ada ritual sujud (menempelkan jidat) pada semen atau alas. Hal ini mungkin saja melambangkan agar kita memiliki ketudukan pada Allah dan agar memiliki pikiran dan perbuatan yang mulia.</p>
<p>Allah berfirman :</p>
<p>”<em>Muhammad itu adalah utusan Allah dan orang-orang yang bersama dengan dia adalah  keras  terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang sesama mereka. Kamu lihat mereka ruku&#8217; dan  sujud  mencari  karunia  Allah  dan keridhaan-Nya, <strong>tanda-tanda  mereka  tampak  pada muka mereka dari bekas sujud</strong></em>&#8230;(Qur’an Surat Al-Fath ayat 29)</p>
<p>Apa tanda bekas sujud? Apakah maksudnya bulatan hitam pada jidat karena sering sujud atau alas sujudnya keras? Saya rasa maksudnya bukan bekas hitam pada jidat karena fisik bukanlah patokan seseorang tersebut sholeh. Arti tanda bekas sujud menurut saya adalah akhlak, berpikir dan bertindak yang baik.</p>
<p>Subhanallah&#8230;</p>
<p>Wallahu ‘alam bishowab.</p>
<p>Sumber:</p>
<p>1. Muhammad Abduh, Tafsir Juz ‘Amma, Bandung: Penerbit Mizan, 1998, h.256</p>
<p>2. <a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Phineas_Gage">http://en.wikipedia.org/wiki/Phineas_Gage</a></p>
<p>3. <a href="http://www.answers.com/topic/phineas-gage-1">http://www.answers.com/topic/phineas-gage-1</a></p>
<p>4. <a href="http://www.crimetimes.org/00a/w00ap4.htm">http://www.crimetimes.org/00a/w00ap4.htm</a></p>
<p>5. Lihat harian Republika, 6 April 1998.</p>
<p>6. Joaquin M. Fuster. The Prefrontal Cortex, Fourth Edition, 2008, hal 131.</p>
<p>7. <a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Prefrontal_cortex">http://en.wikipedia.org/wiki/Prefrontal_cortex</a></p>
<p>8. <a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Affective_neuroscience">http://en.wikipedia.org/wiki/Affective_neuroscience</a></p>
<p>9. <a href="http://www.waiting.com/brainfunction.html">http://www.waiting.com/brainfunction.html</a></p>
<p>10. Taufik Pasiak. Revolusi IQ, EQ, SQ.  Mizan, 2002.</p>
<br /> Tagged: <a href='http://abrahamik.wordpress.com/tag/damasio/'>damasio</a>, <a href='http://abrahamik.wordpress.com/tag/joseph-deloux/'>joseph deloux</a>, <a href='http://abrahamik.wordpress.com/tag/korteks-prefrontal/'>korteks prefrontal</a>, <a href='http://abrahamik.wordpress.com/tag/lobus-frontalis/'>lobus frontalis</a>, <a href='http://abrahamik.wordpress.com/tag/nashiyah/'>nashiyah</a>, <a href='http://abrahamik.wordpress.com/tag/otak/'>otak</a>, <a href='http://abrahamik.wordpress.com/tag/phineas-gage/'>phineas gage</a>, <a href='http://abrahamik.wordpress.com/tag/quran/'>Qur'an</a>, <a href='http://abrahamik.wordpress.com/tag/sujud/'>sujud</a>, <a href='http://abrahamik.wordpress.com/tag/ubun/'>ubun</a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/abrahamik.wordpress.com/160/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/abrahamik.wordpress.com/160/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/abrahamik.wordpress.com/160/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/abrahamik.wordpress.com/160/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/abrahamik.wordpress.com/160/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/abrahamik.wordpress.com/160/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/abrahamik.wordpress.com/160/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/abrahamik.wordpress.com/160/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/abrahamik.wordpress.com/160/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/abrahamik.wordpress.com/160/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/abrahamik.wordpress.com/160/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/abrahamik.wordpress.com/160/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/abrahamik.wordpress.com/160/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/abrahamik.wordpress.com/160/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=abrahamik.wordpress.com&amp;blog=11997190&amp;post=160&amp;subd=abrahamik&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abrahamik.wordpress.com/2010/02/22/otak-besar-bagian-korteks-prefrontal-diceritakan-qur%e2%80%99an/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>12</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/0cac0c9f54dd87a8f5ca43e361da193e?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">abrahamik</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://abrahamik.files.wordpress.com/2010/02/pf.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">PF</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://abrahamik.files.wordpress.com/2010/02/pf2.png" medium="image">
			<media:title type="html">PF2</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://abrahamik.files.wordpress.com/2010/02/gage.png" medium="image">
			<media:title type="html">Gage</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://abrahamik.files.wordpress.com/2010/02/gage2.png" medium="image">
			<media:title type="html">gage2</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Apakah Al-Qur&#8217;an Terjaga Keasliannya?</title>
		<link>http://abrahamik.wordpress.com/2010/02/22/apakah-al-quran-terjaga-keasliannya/</link>
		<comments>http://abrahamik.wordpress.com/2010/02/22/apakah-al-quran-terjaga-keasliannya/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 22 Feb 2010 11:11:35 +0000</pubDate>
		<dc:creator>abrahamik</dc:creator>
				<category><![CDATA[Pemikiran Islam]]></category>
		<category><![CDATA[asli]]></category>
		<category><![CDATA[mushaf]]></category>
		<category><![CDATA[otentik]]></category>
		<category><![CDATA[Qur'an]]></category>
		<category><![CDATA[sejarah]]></category>
		<category><![CDATA[teks]]></category>
		<category><![CDATA[usmani]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abrahamik.wordpress.com/?p=154</guid>
		<description><![CDATA[Bagi saya selaku umat islam, saya sangat meyakini bahwa Al-Qur&#8217;an kitab suci kami terjaga keasliannya. Keasliannya Al-Qur&#8217;an ini dijamin sendiri oleh Allah dalam firmanNya : Telah sempurnalah kalimat Tuhanmu  sebagai kalimat yang benar dan adil. Tidak ada yang dapat merobah robah kalimat-kalimat-Nya dan Dia lah yang Maha Mendenyar lagi Maha Mengetahui. (Qur&#8217;an Surat Al-An&#8217;am ayat [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=abrahamik.wordpress.com&amp;blog=11997190&amp;post=154&amp;subd=abrahamik&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Bagi saya selaku umat islam, saya sangat meyakini bahwa Al-Qur&#8217;an kitab suci kami terjaga keasliannya. Keasliannya Al-Qur&#8217;an ini dijamin sendiri oleh Allah dalam firmanNya :</p>
<p><em>Telah sempurnalah kalimat Tuhanmu  sebagai kalimat yang benar dan adil. Tidak ada yang dapat merobah robah kalimat-kalimat-Nya dan Dia lah yang Maha Mendenyar lagi Maha Mengetahui.</em> (Qur&#8217;an Surat Al-An&#8217;am ayat 115)</p>
<p><em>Sesungguhnya  Kami-lah yang  menurunkan  Al  Qur&#8217;an,  dan sesungguhnya Kami benar-benar  memeliharanya.</em> (Qur&#8217;an Surat Al-Hijr ayat 9)<span id="more-154"></span></p>
<p>Namun, dapatkah kita berargumen bahwa Al-Qur&#8217;an terjaga atau terpelihara keasliannya hanya dengan berargumen ayat-ayat diatas? Kan mungkin saja ayat-ayat tersebut dibuat oleh manusia, jadi belum tentu Al-Qur&#8217;an terjaga keasliannya. Untuk menjawab permasalahan ini, marilah kita telusuri sejarah teks Al-Qur&#8217;an sehingga kita akan meyakini dengan benar bahwa Allah menjaga keaslian Al-Qur&#8217;an.</p>
<p>Sejak zaman Nabi Muhammad SAW, ayat Al-Qur&#8217;an sudah mulai ditulis. Para sahabat Nabi pun banyak yang khatam (hapal) Al-Qur&#8217;an, dan kebiasaan untuk menghapal Al-Qur&#8217;an itu terwarisi sehingga banyak orang-orang yang hapal seluruh teks Al-Qur&#8217;an (Hafiz Qur&#8217;an) hingga saat ini. Pada saat penulisan Al-Qur&#8217;an pun Nabi selalu mengecek kembali apakah benar yang dituliskan sahabat pada suhuf-suhuf. Nabi pun sering meminta dibacaan ayat Al-Qur&#8217;an didepan dirinya.</p>
<p>Sejarah penulisan Al-Qur&#8217;an dapat dibagi menjadi dua periode yaitu :</p>
<p><strong>1. Periode Mekkah</strong></p>
<p>Periode ini merupakan periode ketika Nabi Muhammad masih di Mekkah, sebelum hijrah ke Madinah. Periode ini merupakan periode permulaan dakwah beliau.</p>
<p><em>Suatu hari ‘Umar keluar rumah menenteng pedang terhunus hendak melibas leher Nabi Muhammad. Beberapa sahabat sedang berkumpul dalam sebuah rumah di bukit Safa. Jumlah mereka sekitar empat puluhan termasuk kaum wanita. Di antaranya adalah paman Nabi Muhammad, Hamza, Abu Bakr, &#8216;All, dan juga lainnya yang tidak pergi berhijrah ke Ethiopia. Nu&#8217;aim secara tak sengaja berpapasan dan bertanya ke mana ‘Umar hendak pergi. &#8220;Saya hendak menghabisi Muhammad, manusia yang telah membuat orang Quraish khianat terhadap agama nenek moyang dan mereka tercabik-cabik serta ia (Muhammad) mencaci maki tata cara kehidupan, agama, dan tuhan-tuhan kami. Sekarang akan aku libas dia.&#8221; &#8220;Engkau hanya akan menipu diri sendiri `Umar, katanya.&#8221; &#8220;Jika engkau menganggap bahwa ban! `Abd Manaf mengizinkanmu menapak di bumi ini hendak memutus nyawa Muhammad, lebih baik pulang temui keluarga anda dan selesaikan permasalahan mereka.&#8221; `Umar pulang sambil bertanya-tanya apa yang telah menimpa ke­luarganya. Nu&#8217;aim menjawab, &#8220;Saudara ipar, keponakan yang bernama Sa`id serta adik perempuanmu telah mengikuti agama baru yang dibawa Nabi Muhammad. Oleh karena itu, akan lebih baik jika anda kembali menghubungi mereka.&#8221; <strong>`Umar cepat-cepat memburu iparnya di rumah, tempat Khabba sedang membaca Surah Taha dari sepotong tulisan Al-­Qur&#8217;an. Saat mereka dengar suara ‘Umar, Khabba lari masuk ke kamar kecil, sedang Fatima mengambil kertas kulit yang bertuliskan Al-Qur&#8217;an dan diletakkan di bawah pahanya</strong>&#8230; (1)</em></p>
<p>Cerita diatas terjadi saat permulaan dakwah Nabi Muhammad di Makkah. Pada cerita diatas kita ketahui dapat kita ambil kesimpulan bahwa pada saat itu ayat-ayat Al-Qur&#8217;an sudah mulai didokumentasikan (pada kertas kulit).<em> </em></p>
<p><em> </em></p>
<p>Kenyataan bahwa ayat-ayat Al-Qur&#8217;an sudah mulai ditulis pada saat di mekkah, pada awal-awal dakwah Nabi juga dicatat oleh Al-Kattani : Sewaktu Rafi` bin Malik al-Ansari menghadiri <em>baiah al-&#8217;Aqaba, </em>Nabi Muhammad menyerahkan semua ayat-ayat yang diturunkan pada dasawarsa sebelumnya. Ketika kembali ke Madinah, Rafi` mengumpulkan semua anggota sukunya dan membacakan di depan mereka.(2)</p>
<p>Penulis wahyu pada periode ini antara lain  &#8216;Abdullah bin Sa&#8217;d bin &#8216;Abi as­Sarh (3,4) dan Khalid bin Sa&#8217;id bin al-‘As. Khalid bin Sa&#8217;id bin al-‘As pernah mengatakan, &#8220;Saya orang pertama yang menulis <em>&#8216;Bismillah ar-Rahman ar­Rahim&#8217;</em>.(5)</p>
<p><strong>2. Periode Madinah</strong></p>
<p>Pada periode Madinah kita memiliki cukup banyak informasi termasuk sejumlah nama, lebih kurang enam puluh lima sahabat yang ditugaskan oleh Nabi Muhammad bertindak sebagai penulis <em>wahyu. </em>Mereka adalah Abban bin Sa&#8217;id, Abu Umama, Abu Ayyub al-Ansari, Abu Bakr as-Siddiq, Abu Hudhaifa, Abu Sufyan, Abu Salama, Abu &#8216;Abbas, Ubayy bin Ka&#8217;b, al-Arqam, Usaid bin al-Hudair, Aus, Buraida, Bashir, Thabit bin Qais, Ja` far bin Abi Talib, Jahm bin Sa&#8217;d, Suhaim, Hatib, Hudhaifa, Husain, Hanzala, Huwaitib, Khalid bin Sa&#8217;id, Khalid bin al-Walid, az-Zubair bin al-`Awwam, Zubair bin Arqam, Zaid bin Thabit, Sa&#8217;d bin ar-Rabi`, Sa&#8217;d bin `Ubada, Sa&#8217;id bin Sa`id, Shurahbil bin Hasna, Talha, `Amir bin Fuhaira, `Abbas, `Abdullah bin al-Arqam, `Abdullah bin Abi Bakr, `Abdullah bin Rawaha, `Abdullah bin Zaid, `Abdullah bin Sa&#8217;d, &#8216;Abdullah bin &#8216;Abdullah, &#8216;Abdullah bin &#8216;Amr, &#8216;Uthman bin &#8216;Affan, Uqba, al­&#8217;Ala bin &#8216;Uqba, &#8216;All bin Abi Talib, &#8216;Umar bin al-Khattab, &#8216;Amr bin al-&#8217;As, Muhammad bin Maslama, Mu&#8217;adh bin Jabal, Mu&#8217;awiya, Ma&#8217;n bin &#8216;Adi, Mu&#8217;aqib bin Mughira, Mundhir, Muhajir, dan Yazid bin Abi Sufyan. (6)</p>
<p>Saat wahyu turun, Nabi Muhammad secara rutin memanggil para penulis yang ditugaskan agar mencatat ayat itu.(7) Zaid bin Thabit menceritakan sebagai ganti atau mewakili peranan dalam Nabi Muhammad, la sering kali dipanggil diberi tugas penulisan saat wahyu turun.(8) Sewaktu ayat al-jihad turun, Nabi Muhammad memanggil Zaid bin Thabit membawa tinta dan alat tulis dan kemudian mendiktekannya; &#8216;Amr bin Um-Maktum al-A&#8217;ma duduk menanyakan kepada Nabi Muhammad, &#8220;Bagaimana tentang saya? Karena saya sebagai orang yang buta.&#8221; Dan kemudian turun ayat, &#8220;ghair uli al-darar&#8221;(9) (bagi orang­-orang yang bukan catat).[10] . Saat tugas penulisan selesai, Zaid membaca ulang di depan Nabi Muhammad agar yakin tak ada sisipan kata lain yang masuk ke dalam teks.(11)</p>
<p><strong>Setelah Nabi Muhammad Wafat</strong></p>
<p><em>&#8220;Saat Nabi Muhammad wafat, Al-Qur&#8217;an masih belum dikumpulkan dalam satuan bentuk buku.</em>&#8220;(12)</p>
<p>Di sini kita perlu memperhatikan penggunaan kata ‘pengumpulan&#8217; bukan ‘penulisan&#8217;. Sebenarnya, Kitab Al-Qur&#8217;an telah ditulis seutuhnya sejak zaman Nabi Muhammad. Hanya saja belum disatukan dan surah-surah yang ada juga masih belum tersusun.&#8221;(13)</p>
<p>Kompilasi Al-Qur&#8217;an menjadi satu buah buku terjadi pada saat pemerintahan khalifah Abu Bakar.</p>
<p>Zaid melaporkan:</p>
<p>Abu Bakr memanggil saya setelah terjadi peristiwa pertempuran al­Yamama yang menelan korban para sahabat sebagai <em>shuhada. </em>Kami melihat saat ‘Umar ibnul Khattab bersamanya. Abu Bakr mulai berkata,&#8221; ‘Umar baru saja tiba menyampaikan pendapat ini, ‘Dalam pertempuran al-Yamama telah menelan korban begitu besar dari para penghafal Al­Qur&#8217;an (qurra&#8217;), dan kami khawatir hal yang serupa akan terjadi dalam peperangan lain. Sebagai akibat, kemungkinan sebagian Al-Qur&#8217;an akan musnah. Oleh karena itu, kami berpendapat agar dikeluarkan perintah pengumpulan semua Al-Qur&#8217;an.&#8221; Abu Bakr menambahkan, &#8220;Saya kata­kan pada &#8216;Umar, &#8216;bagaimana mungkin kami melakukan satu tindakan yang Nabi Muhammad tidak pernah melakukan?&#8217; &#8216;Umar menjawab, ‘Ini merupakan upaya terpuji terlepas dari segalanya dan ia tidak berhenti menjawab sikap keberatan kami sehingga Allah memberi kedamaian untuk melaksanakan dan pada akhirnya kami memiliki pendapat serupa. Zaid! Anda seorang pemuda cerdik pandai, dan anda sudah terbiasa menulis wahyu pada Nabi Muhammad, dan kami tidak melihat satu kelemahan pada diri anda. Carilah semua Al-Qur&#8217;an agar dapat dirang­kum seluruhnya.&#8221; Demi Allah, Jika sekiranya mereka minta kami me­mindahkan sebuah gunung raksasa, hal itu akan terasa lebih ringan dari apa yang mereka perintahkan pada saya sekarang. Kami bertanya pada mereka, ‘Kenapa kalian berpendapat melakukan sesuatu yang tidak pernah dilakukan oleh Nabi Muhammad?&#8217; Abu Bakr dan ‘Umar bersikeras mengatakan bahwa hal itu boleh-boleh saja dan malah akan membawa kebaikan. Mereka tak henti-henti menenangkan rasa keberatan yang ada hingga akhirnya Allah menenangkan kami melakukan tugas itu, seperti Allah menenangkan hati Abu Bakr dan ‘Umar.(14)</p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>Mushaf Usmani</strong></p>
<p>Al-Qur&#8217;an yang berada ditangan umat muslim sekarang sering disebut sebagai Mushaf Usmani karena berkat jasa Usman-lah Al-Qur&#8217;an terjaga dari banyak versi penulisan. Sering terjadi fitnah kepada umat islam kalau Al-Qur&#8217;an yang ada sekarang merupakan Al-Qur&#8217;an versi Usman bin Affan, berbeda dengan Al-Qur&#8217;an pada zaman Nabi Muhammad karena pada zaman Usman Qur&#8217;an-qur&#8217;an yang ada dibakar kemudian hanya versi Usman yang dibiarkan tetap ada. Tuduhan ini tentu saja tidak berdasar. Pada saat Usman bin Affan, Islam sudah tersebar luas sampai ke propinsi lain. Berangkat dari suku kabilah dan provinsi yang beragam, Al-Qur&#8217;an diajarkan dalam dialek masing-masing daerah tersebut, karena dirasa sulit untuk meninggalkan dialeknya secara spontan. Oleh sebab itu, banyak versi Al-Qur&#8217;an yang ditulis dengan banyak dialek berbeda-beda. Khalifah Usman tidak setuju akan hal ini, karena dengan penulisan Al-Qur&#8217;an dalam bermacam dialek tentu saja akan membuat perubahan arti atau salah penafsiran terhadap kata-kata Al-Qur&#8217;an.</p>
<p>Hudhaifa bin al-Yaman dari perbatasan Azerbaijan dan Armenia, yang telah menyatukan kekuatan perang Irak dengan pasukan perang Suriah, pergi menemui &#8216;uthman, setelah melihat perbedaan di kalangan umat Islam di beberapa wilayah dalam membaca Al-Qur&#8217;an. Perbedaan yang dapat mengan­cam lahimya perpecahan. &#8220;Oh khalifah, dia menasihati, &#8216;Ambillah tindakan untuk umat ini sebelum berselisih tentang kitab mereka seperti orang Kristen dan Yahudi.&#8217; (15)</p>
<p>Adanya perbedaan dalam bacaan Al-Qur&#8217;an sebenarnya bukan barang baru sebab &#8216;umar sudah mengantisipasi bahaya perbedaan ini sejak zaman pemerintahannya. Dengan mengutus Ibn Mas&#8217;ud ke Irak, setelah &#8216;umar diberitahukan bahwa dia mengajarkan AI-Qur&#8217;an dalam dialek Hudhail(16) (sebagaimana Ibn Mas&#8217;ud mempelajarinya), dan &#8216;umar tampak naik pitam:</p>
<p>AI-Qur&#8217;an telah diturunkan dalam dialek Quraish, maka ajarkanlah menggunakan dialek Quraish, bukan menggunakan dialek Hudhail.(17)</p>
<p>Hudhaifa bin al-Yaman mengingatkan khalifah pada tahun 25 H dan pada tahun itu juga &#8216;Uthman menyelesaikan masalah perbedaan yang ada sampai tuntas. Beliau mengumpulkan umat Islam dan menerangkan masalah perbedaan dalam bacaan AI-Qur&#8217;an sekaligus meminta pendapat mereka tentang bacaan dalam beberapa dialek, walaupun beliau sadar bahwa beberapa orang akan menganggap bahwa dialek tertentu lebih unggul sesuai dengan afliasi kesukuan.(18) Ketika ditanya pendapatnya sendiri beliau menjawab (sebagaimana diceritakan oleh &#8216;Ali bin Abi Talib),</p>
<p>&#8220;Saya tahu bahwa kita ingin menyatukan manusia (umat Islam) pada satu Mushaf (dengan satu dialek) oleh sebab itu tidak akan ada perbedaan dan perselisihan&#8221; dan kami menyatakan &#8220;sebagai usulan yang sangat baik).&#8221;(19)</p>
<p>Khalifah Usman bin Affan kemudian memperbanyak Al-Qur&#8217;an berdasarkan naskah asli yang ditulis pada zaman Nabi yang disipan di rumah Hafsa, Istri Nabi SAW. AI-Bara&#8217; meriwayatkan:</p>
<p>Kemudian &#8216;Usman mengirim surat kepada Hafsa yang menyatakan. &#8220;Kirimkanlah Suhuf kepada kami agar kami dapat membuat naskah yang sempurna dan kemudian Suhuf akan kami kembalikan kepada anda.&#8221; Hafsa lalu mengirimkannya kepada &#8216;Uthman, yang memerintahkan Zaid bin Thabit, `Abdullah bin az-Zubair, Sa&#8217;id bin al-&#8217;As, dan &#8216;Abdur­Rahman bin al-Harith bin Hisham agar memperbanyak salinan (<em>duplicate</em>) naskah. Beliau memberitahukan kepada tiga orang Quraishi, &#8220;Kalau kalian tidak setuju dengan Zaid bin Thabit perihal apa saja mengenai Al-Qur&#8217;an, tulislah dalam dialek Quraish sebagaimana Al-Qur&#8217;an telah diturunkan dalam logat mereka.&#8221; Kemudian mereka berbuat demikian, dan ketika mereka selesai membuat beberapa salinan naskah `Uthman mengembalikan Suhuf itu kepada Hafsa&#8230;20</p>
<p>Sejarah diatas adalah sepenggal kisah yang saya kutip sedikit dari buku &#8220;The History of Quranic Text; From Revelation to Compilation- Sejarah Teks Al-Qur&#8217;an dari Wahyu sampai Kompilasinya&#8221; karangan Prof.dr.MM.al A&#8217;zami. Bukunya dapat DI<a href="http://pustaka-ebook.com/sejarah-teks-al-quran/">DOWNLOAD DISINI</a>.</p>
<p>Sumber :</p>
<p>1.  Ibn Hisham, Sira, vol.l-2, hlm. 343-46.</p>
<p>2. Al-Kattani, <em>al-Tarat76 al-Idariya</em>, 1: 44, dengan mengutip pendapat Zubair bin Bakkar, <em>Akhbar al-Madina</em></p>
<p>3. Ibn Hajar, <em>Fathul Bari</em>, ix: 22.</p>
<p>4.  Untuk lebih jelas, harap dilihat M.M. al-A&#8217;zami, <em>Kuttab an-Nabi, </em>Edisi ke-3, Riyad, 1401 (1981), hlm.83-89.</p>
<p>5.  As-Suyuti, ad-Dur al-Manthur, i: 11.</p>
<p>6. Untuk lebih jelas harap dilihat M.M, A&#8217;zami, <em>Kuttab</em> <em>an-Nabi.</em></p>
<p>7. Abu &#8216;Ubaid , <em>Fada&#8217;il, </em>hlm. 280; Lihat juga Ibn Hajar, Fathul Bari, ix: 22, mencatat pendapat `Uthman dengan merujuk pada <em>Sunan</em> at-Tirmidhi, an-Nasa&#8217;i, Abu Dawud, dan al-Hakim dalam <em>al­Mustadrak</em>.</p>
<p>8. Ibn AM Dawud, <em>al-Masahif,</em> hlm.3; Lihat juga al-Bukhari, <em>Sahih, </em>Fada&#8217;il Al-Qur&#8217;an: 4.<br />
9. Qur&#8217;an, 4: 95.</p>
<p>10. Ibn Hajar, Fath al Bari , ix: 22; as-Sa&#8217;ati, Minhat al-Ma&#8217;bud, ii: 17.</p>
<p>11. As-Suli, <em>Adab ul-Kuttab</em>, hlm. 165; al-Haithami, Majma` az-Zawaid, i: 52.</p>
<p>12. Ibn Hajar, <em>Fathul Bari, </em>ix: 12; Lihat juga al-Bukhari, <em>Sahih, Jami&#8217; Al-Qur&#8217;an</em>, hadith.4986.</p>
<p>13.  As-Suyuti, <em>al-Itqan</em>, i:164.</p>
<p>14. Al-Bukhari, <em>sahih</em>, <em>Jam&#8217;i Al-Qur&#8217;an</em>, hadith, no. 4986; lihat juga Ibn Abi Dawud, <em>al-Masahif,</em></p>
<p>15. AI-Bukhari, <em>Sahih</em>, hadith no. 4987; Abu &#8216;Ubaid, <em>FadA&#8217;il</em>, hlm. 282. terdapat banyak lagi laporan tentang masalah ini.</p>
<p>16. Salah satu suku mayoritas di daratan Arabia pada zaman itu.</p>
<p>17.  Ibn Hajar, <em>Fathul Bari</em>, ix: 9, Kutipan Abu Dawud</p>
<p>18.  Lihat Abi Dawud, <em>al -Masahif</em>, hlm. 22. Dalam kejadian ini banyak perbedaan pendapar telah diberikan dalam menentukan tahun yang sebenar dari tahun 25-30 Hijrah. Saya mengadopsi pendirian Ibn Hajar. Lihat as Suyuti, <em>al-Itqan</em>, I : 170.</p>
<p>19. Ibn Abi Dawud, <em>al-Magahif,</em> hlm. 22. Lihat juga Ibn Hajar, <em>Farhul Bari</em>, x: 402.</p>
<p>20. Ibn Hajar, <em>Fathul Bari</em>, ix: ii, hadith no. 4987; Ibn Abi Dawud, <em>al-Masahif</em>, hlm. 19-20; Abu &#8216;Ubaid, <em>Fada&#8217;il</em>, hlm. 282</p>
<p>Sejarah diatas adalah sepenggal kisah yang saya kutip sedikit dari buku &#8220;The History of Quranic Text; From Revelation to Compilation- Sejarah Teks Al-Qur&#8217;an dari Wahyu sampai Kompilasinya&#8221; karangan Prof.dr.MM.al A&#8217;zami. Bukunya dapat DI<a href="http://pustaka-ebook.com/sejarah-teks-al-quran/">DOWNLOAD DISINI</a>.</p>
<p><em> </em></p>
<p><em> </em></p>
<br /> Tagged: <a href='http://abrahamik.wordpress.com/tag/asli/'>asli</a>, <a href='http://abrahamik.wordpress.com/tag/mushaf/'>mushaf</a>, <a href='http://abrahamik.wordpress.com/tag/otentik/'>otentik</a>, <a href='http://abrahamik.wordpress.com/tag/quran/'>Qur'an</a>, <a href='http://abrahamik.wordpress.com/tag/sejarah/'>sejarah</a>, <a href='http://abrahamik.wordpress.com/tag/teks/'>teks</a>, <a href='http://abrahamik.wordpress.com/tag/usmani/'>usmani</a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/abrahamik.wordpress.com/154/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/abrahamik.wordpress.com/154/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/abrahamik.wordpress.com/154/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/abrahamik.wordpress.com/154/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/abrahamik.wordpress.com/154/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/abrahamik.wordpress.com/154/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/abrahamik.wordpress.com/154/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/abrahamik.wordpress.com/154/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/abrahamik.wordpress.com/154/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/abrahamik.wordpress.com/154/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/abrahamik.wordpress.com/154/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/abrahamik.wordpress.com/154/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/abrahamik.wordpress.com/154/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/abrahamik.wordpress.com/154/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=abrahamik.wordpress.com&amp;blog=11997190&amp;post=154&amp;subd=abrahamik&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abrahamik.wordpress.com/2010/02/22/apakah-al-quran-terjaga-keasliannya/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>7</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/0cac0c9f54dd87a8f5ca43e361da193e?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">abrahamik</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Ayat-ayat Perang Dalam Qur’an</title>
		<link>http://abrahamik.wordpress.com/2010/02/21/ayat-ayat-perang-dalam-qur%e2%80%99an/</link>
		<comments>http://abrahamik.wordpress.com/2010/02/21/ayat-ayat-perang-dalam-qur%e2%80%99an/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 21 Feb 2010 07:00:11 +0000</pubDate>
		<dc:creator>abrahamik</dc:creator>
				<category><![CDATA[Pemikiran Islam]]></category>
		<category><![CDATA[an-nisa 89]]></category>
		<category><![CDATA[anfal 39]]></category>
		<category><![CDATA[anfal 60]]></category>
		<category><![CDATA[ayat]]></category>
		<category><![CDATA[film fitna]]></category>
		<category><![CDATA[islam]]></category>
		<category><![CDATA[jihad]]></category>
		<category><![CDATA[membunuh]]></category>
		<category><![CDATA[muhammad 4]]></category>
		<category><![CDATA[perang]]></category>
		<category><![CDATA[Qur'an]]></category>
		<category><![CDATA[terorisme]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abrahamik.wordpress.com/?p=147</guid>
		<description><![CDATA[Pada kali ini akan membahas tentang ayat-ayat Al-Qur’an yang berkaitan dengan perang. Pembahasan ini juga akan membahas bahwa Islam tidak melegalkan atau mengajarkan terorisme dalam islam. Sebelumnya saya telah membahas masalah yang berhubungan dengan ini dalam artikel saya terorisme dan jihad dalam islam dan tidak ada paksaan dalam beragama. Pembahasan mengenai ayat-ayat perang ini dibuat [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=abrahamik.wordpress.com&amp;blog=11997190&amp;post=147&amp;subd=abrahamik&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Pada kali ini akan membahas tentang ayat-ayat Al-Qur’an yang berkaitan dengan perang. Pembahasan ini juga akan membahas bahwa Islam tidak melegalkan atau mengajarkan terorisme dalam islam. Sebelumnya saya telah membahas masalah yang berhubungan dengan ini dalam artikel saya <a href="../2010/02/12/teroris-dan-jihad-dalam-islam/">terorisme dan jihad dalam islam</a> dan <a href="../2010/02/14/tidak-ada-paksaan-dalam-beragama/">tidak ada paksaan dalam beragama</a>. Pembahasan mengenai ayat-ayat perang ini dibuat oleh pakar tafsir Qur’an yaitu Pak M.Quraish Shihab dalam bukunya yang berjudul Ayat-ayat Fitna. Buku ini menjadi jawaban atas <a href="http://www.liveprayer.com/fitna.cfm">Film Fitna</a> yang menjelekkan Islam dengan memelintirkan ayat-ayat Qur’an<span id="more-147"></span></p>
<p>Ayat-ayat yang dibahas adalah:</p>
<p>1. Qur’an Surat Al-Anfal ayat 60 :</p>
<p><strong><em>Dan siapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan apa saja yang kamu sanggupi dan dari kuda-kuda yang ditambat untuk berperang  kamu menggentarkan  musuh Allah dan musuhmu dan orang orang selain mereka yang kamu  tidak mengetahuinya; sedang Allah mengetahuinya. Apa saja yang kamu nafkahkan pada jalan Allah niscaya akan dibalasi dengan cukup kepadamu dan kamu tidak akan dianiaya .</em></strong></p>
<p><strong><em> </em></strong></p>
<p>2. Qur’an Surat Muhammad ayat 4 :</p>
<p><strong><em>Apabila kamu bertemu (di medan perang) dengan orang-orang kafir  maka pancunglah batang leher mereka, sampai batas apabila kamu telah melumpuhkan gerak mereka maka kuatkanlah ikatan (tawanlah) mereka, lalu (kamu boleh) membebaskan mereka sesudah(nya) atau (kamu boleh juga melepaskannya) dengan menerima tebusan sampai perang meletakkan beban-bebannya. Demikianlah apabila Allah menghendaki niscaya Allah akan membinasakan mereka tetapi Allah hendak menguji sebahagian kamu dengan sebahagian yang lain. Dan orang-orang yang gugur pada jalan Allah, Allah tidak akan menyia-nyiakan amal mereka.</em></strong></p>
<p><strong><em> </em></strong></p>
<p>3. Qu’an Surat An-nisa ayat 89</p>
<p><strong><em>Mereka ingin supaya kamu menjadi kafir sebagaimana mereka telah menjadi kafir, sehingga kamu menjadi sama (dengan mereka). Maka janganlah kamu jadikan siapapun di antara mereka sebagai orang-orang dekat, hingga mereka berhijrah pada jalan Allah. Maka jika mereka berpaling , tawan dan bunuhlah mereka di mana saja kamu menemuinya, dan janganlah kamu ambil seorangpun di antara mereka menjadi teman dekat, dan jangan  (pula) penolong,</em></strong></p>
<p><strong><em> </em></strong></p>
<p>4. Qur’an Surat Al-Anfal ayat 39</p>
<p><strong><em>Dan perangilah mereka, supaya jangan ada fitnah  dan supaya kepatuhan semata-mata untuk Allah. Jika mereka berhenti (dari kekafiran) , maka sesungguhnya Allah Maha Melihat apa yang mereka kerjakan. </em></strong></p>
<p><strong><em><br />
</em></strong></p>
<p><strong><em> </em></strong></p>
<p><strong><em> </em></strong></p>
<p>Download bukunya <a href="http://www.ziddu.com/download.php?uid=cK6il5qlarOcnOKnZ6qhkZSrZKygmpeq7">disini</a></p>
<br /> Tagged: <a href='http://abrahamik.wordpress.com/tag/an-nisa-89/'>an-nisa 89</a>, <a href='http://abrahamik.wordpress.com/tag/anfal-39/'>anfal 39</a>, <a href='http://abrahamik.wordpress.com/tag/anfal-60/'>anfal 60</a>, <a href='http://abrahamik.wordpress.com/tag/ayat/'>ayat</a>, <a href='http://abrahamik.wordpress.com/tag/film-fitna/'>film fitna</a>, <a href='http://abrahamik.wordpress.com/tag/islam/'>islam</a>, <a href='http://abrahamik.wordpress.com/tag/jihad/'>jihad</a>, <a href='http://abrahamik.wordpress.com/tag/membunuh/'>membunuh</a>, <a href='http://abrahamik.wordpress.com/tag/muhammad-4/'>muhammad 4</a>, <a href='http://abrahamik.wordpress.com/tag/perang/'>perang</a>, <a href='http://abrahamik.wordpress.com/tag/quran/'>Qur'an</a>, <a href='http://abrahamik.wordpress.com/tag/terorisme/'>terorisme</a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/abrahamik.wordpress.com/147/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/abrahamik.wordpress.com/147/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/abrahamik.wordpress.com/147/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/abrahamik.wordpress.com/147/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/abrahamik.wordpress.com/147/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/abrahamik.wordpress.com/147/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/abrahamik.wordpress.com/147/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/abrahamik.wordpress.com/147/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/abrahamik.wordpress.com/147/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/abrahamik.wordpress.com/147/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/abrahamik.wordpress.com/147/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/abrahamik.wordpress.com/147/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/abrahamik.wordpress.com/147/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/abrahamik.wordpress.com/147/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=abrahamik.wordpress.com&amp;blog=11997190&amp;post=147&amp;subd=abrahamik&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abrahamik.wordpress.com/2010/02/21/ayat-ayat-perang-dalam-qur%e2%80%99an/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/0cac0c9f54dd87a8f5ca43e361da193e?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">abrahamik</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Nikah Sirri Yang Haram</title>
		<link>http://abrahamik.wordpress.com/2010/02/21/nikah-sirri-yang-haram/</link>
		<comments>http://abrahamik.wordpress.com/2010/02/21/nikah-sirri-yang-haram/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 21 Feb 2010 01:19:09 +0000</pubDate>
		<dc:creator>abrahamik</dc:creator>
				<category><![CDATA[Pemikiran Islam]]></category>
		<category><![CDATA[halal]]></category>
		<category><![CDATA[haram]]></category>
		<category><![CDATA[hukum]]></category>
		<category><![CDATA[islam]]></category>
		<category><![CDATA[MUI]]></category>
		<category><![CDATA[nikah]]></category>
		<category><![CDATA[RUU pernikahan]]></category>
		<category><![CDATA[sirri]]></category>
		<category><![CDATA[walimah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abrahamik.wordpress.com/?p=143</guid>
		<description><![CDATA[Nikah Sirri nampaknya telah menjadi topik pembicaraan hangat di Indonesia. Sebab nikah sirri dianggap sering merugikan wanita dan menjadi cara untuk selingkuh (pernikahan yang tidak diketahui istri yang sudah ada). Di Indonesia, nikah sirri dipopulerkan oleh masyarakat dengan berbagai istilah, antara lain dengan kawin bawah tangan, kawin diam-diam, kawin rahasia, kawin lari, kawin sirri atau [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=abrahamik.wordpress.com&amp;blog=11997190&amp;post=143&amp;subd=abrahamik&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Nikah <em>Sirri </em>nampaknya telah menjadi topik pembicaraan hangat di Indonesia. Sebab nikah <em>sirri </em>dianggap sering <strong>merugikan wanita </strong>dan menjadi cara untuk selingkuh (pernikahan yang tidak diketahui istri yang sudah ada). Di Indonesia, nikah sirri dipopulerkan oleh masyarakat dengan berbagai istilah, antara lain dengan kawin bawah tangan, kawin diam-diam, kawin rahasia, kawin lari, kawin sirri atau nikah sirri. Namun seperti apa nikah sirri itu sebenarnya? Apakah memang halal? Dan apa batasan atau apa saja syarat-syaratnya?<span id="more-143"></span></p>
<p>Banyak alasan mengapa seseorang melakukan nikah sirri. Alasan tersebut antara lain:</p>
<p>Pertama, karena sudah bertunangan. Dari pada berselingkuh sepanjangan, lebih baik melakukan nikah sirri untuk menghindari perbuatan zina.</p>
<p>Kedua, untuk menghemat ongkos karena tidak memiliki biaya.</p>
<p>Ketiga, karena calon isteri terlanjur hamil di luar nikah.</p>
<p><strong>Keempat, untuk menghapus jejak, agar tidak diketahui oleh isteri pertama.</strong></p>
<p>Kelima, untuk menghindari hukuman administratif yang akan dijatuhkan oleh atasan, bagi mereka yang PNS atau anggota TNI/Polri yang melakukan perkawinan untuk yang kedua kalinya.</p>
<p>Dikalangan umat Islam nikah sirri biasanya terjadi dalam dua bentuk :</p>
<p>1. Akad nikah itu tidak didaftarkan dan dicatatkan ke KUA oleh kedua calon pengantin atau orangtuanya. Tetapi dalam pelaksanaan prosesi nikah, tetap meniti dan mempedomani hukum munakahat dalam Islam; yakni ada dua mempelai, ada wali nasab yang menikahkan, ijab dan qobul, mahar dan dua saksi. Nikah seperti ini adalah sah menurut agama, walaupun tidak dicatat di KUA<strong> </strong></p>
<p>2. Kedua, nikah dilakukan tanpa menghadirkan wali karena wali nasab tidak diberitahu, atau wali nasab tidak dihadirkan karena takut tidak memberi ijin dan persetujuan, atau wali nasab ‘adhol (enggan) untuk menikahkan. <strong>Nikah jenis ini adalah tidak sah menurut agama.</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p>Dengan melihat prakteknya sebagaiman diatas, maka <strong>nikah sirri dapat sah atau dapat juga tidak sah (HARAM) </strong>tergantung apakah terpenuhi hukum munahakatnya<strong>. </strong>Namun<strong>, </strong>masih ada juga yang <em>m</em>enghalalkan pernikahan sirri tipe yang kedua dengan alasan dalam Islam nikah sirri adalah sah. Sungguh aneh, <strong>pernikahan seperti inilah yang HARAM</strong> dan harus <strong>diberantas</strong> tuntas.<strong> </strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p>Mengenai Wali Nikah, maka hurumnya WAJIB. Dalil-dalilnya:</p>
<p>1. Dari Aisyah berkata: Rasulullah bersabda: <em>“Seorang wanita yang menikah tanpa izin walinya maka pernikahannya adalah batiil, batil, batil. Dan apabila mereka bersengketa maka pemerintah adalah wali bagi wanita yang tidak memiliki wali”</em>.</p>
<p>Derajat hadis ini adalah SHAHIH. Diriwayatkan Abu Dawud 2083, Tirmidzi 1102, Ibnu Majah 1879, ad-Darimi 2/137, Ahmad 6/47, 165, Syafi’I 1543, Ibnu Abi Syaibah 4/128, Abdur Razzaq 10472, ath-Thayyalisi 1463, ath-Thahawi 2/4, Ibnu Hibban 1248, ad-Daraquthni 381, Ibnu Jarud 700, al-Hakim 2/168, al-Baihaqi 7/105, al-Baghawi dalam Syarh Sunnah 9/39 dari beberapa jalur yang banyak sekali dari Ibnu Juraij dari Sulaiman bin Musa dari Zuhri dari Urwah dari Aisyah dari Nabi.</p>
<p>2. Dari Abu Musa al-Asy’ari berkata: Rasulullah bersabda: <em>“Tidak sah pernikahan kecuali dengan wali”.</em></p>
<p>Derajat hadis ini adalah SHAHIH. Diriwayatkan Abu Dawud 2085, Tirmidzi 1/203, Ibnu Majah 1/580, Darimi 2/137, ath-Thahawi 2/5, Ibnu Abi Syaibah 4/131, Ibnul Jarud 702, Ibnu Hibban 1243, Daraquthni 38, al-Hakim 2/170, Baihaqi 7.107, Ahmad 4/393, 413, al-Baghawi dalam Syarh Sunnah 9/38 dari jalur Abu Ishaq as-Sabi’I dari Abu Burdah dari Abu Musa al-Asy’ari secara marfu’ (sampai kepada Nabi).</p>
<p>Syaikh Ahmad Syakir berkata: “Tidak diragukan lagi oleh seorangpun yang menggeluti ilmu hadits bahwa hadits “Tidak sah pernikahan tanpa wali” adalah hadits yang <strong>shahih</strong> dengan sanad-sanad yang hampir mencapai <strong>derajat mutawatir</strong> ma’nawi yang pasti maknanya..</p>
<p>Mengenai wajib adanya SAKSI, dalil-dalilnya:</p>
<p>1. Dari &#8216;Aisyah radhiallahu &#8216;Anha berkata: bahwa rasulullah shollahu &#8216;alaihi wasallam bersabda: tidak sah nikah kecuali dengan adanya wali dan dua orang saksi yang adil. Dan dalam lafdz yang lain dengan penambahan. dan pernikahan yang menyelisihi cara ini tidak sah, jika terjadi perselisihan diantara keduanya, maka penguasalah (pemerintah) yang menjadi wali bagi mereka yang tidak memiliki wali (H.R. ad-Daruquthni)</p>
<p>2. Dari Ibnu &#8216;Abbas radhiallahu &#8216;Anhu berkata: telah bersabda Rasulullah shallallahu &#8216;alaihi wasallam: tidak sah nikah kecuali dengan adanya wali dan dua orang saksi yang adil dan dengan mahar sedikit ataupun banyak. (H.R. Thabroni)</p>
<p>Dari &#8216;Aisyah RA. Berkata: bersabda rasulullah Shollallahu &#8216;Alaihi Wasallam: dalam pernikahan harus ada empat hal wali, calon suami, dua orang saksi. (H.R. Daruquthni)</p>
<p>3. Dan diriwayatkan bahwa Umar bin khattab RA. Dihadapkan kepadanya perihal nikah dimana tidak ada yang menyaksikan kecuali, seorang laki dan seorang perempuan (kedua mempelai) lalu ia berkata <strong>ini adalah nikah sirri dan aku tidak membolehkannya, </strong>dan jikalau aku mengetahui hal ini niscaya akan aku cambuk<strong> </strong>(H.R. Imam Malik dalam Muwattho&#8217;)</p>
<p>Di Indonesia, nampaknya permasalahan nikah Sirri menghasilkan dua kubu permikiran yaitu kubu MUI yang menghalalkan nikah sirri dan pemerintah dengan RUU pernikahannya yang mengharamkan nikah sirri. Sebenarnya, masalah ini dapat dicari alternatif solusinya. Pada dasarnya, fungsi pencatatan pernikahan pada lembaga pencatatan sipil adalah agar seseorang memiliki alat bukti untuk membuktikan bahwa dirinya benar-benar telah melakukan pernikahan dengan orang lain. Dengan pencatatan ini tentunya seseorang telah memiliki sebuah dokumen resmi yang bisa ia dijadikan sebagai alat bukti yang dapat <em>berguna di hadapan majelis peradilan misalnya ketika ada sengketa yang berkaitan dengan pernikahan, maupun sengketa yang lahir akibat pernikahan, seperti waris, hak asuh anak, perceraian, nafkah, dan lain sebagainya</em>.NAMUN, <strong>Negara tidak boleh menetapkan bahwa satu-satunya alat bukti untuk membuktikan keabsahan pernikahan seseorang adalah dokumen tertulis. Pasalnya, syariat telah menetapkan keabsahan alat bukti lain selain dokumen tertulis, seperti kesaksian saksi, sumpah, pengakuan (iqrar), dan lain sebagainya</strong>. Berdasarkan penjelasan ini dapatlah disimpulkan bahwa, orang yang menikah Sirri tetap memiliki hubungan pewarisan yang sah, dan hubungan-hubungan lain yang lahir dari pernikahan. Selain itu, kesaksian dari saksi-saksi yang menghadiri pernikahan siri tersebut sah dan harus diakui sebagai alat bukti syar’iy. Negara tidak boleh menolak kesaksian mereka hanya karena pernikahan tersebut tidak dicatatkan pada lembaga pencatatan sipil; atau tidak mengakui hubungan pewarisan, nasab, dan hubungan-hubungan lain yang lahir dari pernikahan siri tersebut.</p>
<p>Walaupun demikian, <strong>bila kita mengaku muslim sejati yang mengikuti Sunnah Rasulullah, sebaiknya kita menjauhi pernikahan sirri (tidak diumumkan)</strong>. Nabi saw telah mendorong umatnya untuk menyebarluaskan pernikahan dengan menyelenggarakan walimatul ‘ursy. <strong>Anjuran untuk melakukan walimah, walaupun tidak sampai berhukum wajib akan tetapi nabi sangat menganjurkan (sunnah muakkadah)</strong>. Nabi saw bersabda;</p>
<p><strong><em>“Adakah walimah walaupun dengan seekor kambing”</em></strong>.[Hadis Shahih riwayat Imam Bukhari dan Muslim]</p>
<p><strong><em>&#8220;Ketika Ali (Ali Bin Abi Thalib) meminang Fatimah (binti Muhammad Rasulullah) r.a, maka Rasulullah SAW bersabda: &#8220;Perkawinan (dalam riwayat lain kedua mempelai) harus mengadakan pesta perkawinan (walimah). Selanjutnya Sa&#8217;ad berkata : Saya akan menyumbang seekor kambing.Yang lain menyahut:&#8221;Saya akan menyumbangkan gandum sekian..sekian&#8221;. Dalam riwayat lain:&#8221;Maka terkumpullah dari kelompok kaum Anshor sekian gandum.&#8221;</em></strong> (Riwayat Ahmad dan Thabrani).</p>
<p><strong><em>“Umumkanlah pernikahan!”</em></strong> (H.R. An-Nasai dan At-Tirmidzi, dinilai hasan oleh Al-Albani dalam Adabuz Zifaf)</p>
<p>Banyak hal-hal positif yang dapat diraih seseorang dari penyiaran pernikahan; di antaranya adalah ; (1) untuk mencegah munculnya fitnah di tengah-tengah masyarakat; (2) memudahkan masyarakat untuk memberikan kesaksiannya, jika kelak ada persoalan-persoalan yang menyangkut kedua mempelai; (3) memudahkan untuk mengidentifikasi apakah seseorang sudah menikah atau belum.</p>
<p>KESIMPULAN:</p>
<p>1. Nikah <em>Sirri </em>HARAM bila tidak memenuhi hukum-hukum pernikahannya, yaitu ada dua mempelai, ada wali nasab yang menikahkan, ijab dan qobul, mahar dan dua saksi.</p>
<p>2. Negara tidak boleh mengharamkan nikah <em>sirri </em>yang halal yaitu yang memenuhi hukum-hukum pernikahannya.</p>
<p>3. Bila kita mengakuti muslim sejati yang mengikuti Sunnah Rasulullah maka kita harus mengumumkan pernikahan itu sendiri (dengan mengadakan walimatul ursy).</p>
<p>﻿</p>
<br /> Tagged: <a href='http://abrahamik.wordpress.com/tag/halal/'>halal</a>, <a href='http://abrahamik.wordpress.com/tag/haram/'>haram</a>, <a href='http://abrahamik.wordpress.com/tag/hukum/'>hukum</a>, <a href='http://abrahamik.wordpress.com/tag/islam/'>islam</a>, <a href='http://abrahamik.wordpress.com/tag/mui/'>MUI</a>, <a href='http://abrahamik.wordpress.com/tag/nikah/'>nikah</a>, <a href='http://abrahamik.wordpress.com/tag/ruu-pernikahan/'>RUU pernikahan</a>, <a href='http://abrahamik.wordpress.com/tag/sirri/'>sirri</a>, <a href='http://abrahamik.wordpress.com/tag/walimah/'>walimah</a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/abrahamik.wordpress.com/143/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/abrahamik.wordpress.com/143/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/abrahamik.wordpress.com/143/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/abrahamik.wordpress.com/143/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/abrahamik.wordpress.com/143/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/abrahamik.wordpress.com/143/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/abrahamik.wordpress.com/143/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/abrahamik.wordpress.com/143/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/abrahamik.wordpress.com/143/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/abrahamik.wordpress.com/143/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/abrahamik.wordpress.com/143/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/abrahamik.wordpress.com/143/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/abrahamik.wordpress.com/143/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/abrahamik.wordpress.com/143/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=abrahamik.wordpress.com&amp;blog=11997190&amp;post=143&amp;subd=abrahamik&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abrahamik.wordpress.com/2010/02/21/nikah-sirri-yang-haram/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>7</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/0cac0c9f54dd87a8f5ca43e361da193e?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">abrahamik</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Tiga Tahapan Bayi Dalam Rahim Diceritakan Qur&#8217;an</title>
		<link>http://abrahamik.wordpress.com/2010/02/20/tiga-tahapan-bayi-dalam-rahim-diceritakan-quran/</link>
		<comments>http://abrahamik.wordpress.com/2010/02/20/tiga-tahapan-bayi-dalam-rahim-diceritakan-quran/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 20 Feb 2010 16:33:59 +0000</pubDate>
		<dc:creator>abrahamik</dc:creator>
				<category><![CDATA[Keajaiban Qur&#039;an]]></category>
		<category><![CDATA[bayi]]></category>
		<category><![CDATA[embrionik]]></category>
		<category><![CDATA[fetus]]></category>
		<category><![CDATA[Qur'an]]></category>
		<category><![CDATA[rahim]]></category>
		<category><![CDATA[tahap]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abrahamik.wordpress.com/?p=135</guid>
		<description><![CDATA[Dalam Al Qur&#8217;an dipaparkan bahwa manusia diciptakan melalui tiga tahapan dalam rahim ibunya. &#8220;&#8230; Dia menjadikan kamu dalam perut ibumu kejadian demi kejadian dalam tiga kegelapan. Yang (berbuat) demikian itu adalah Allah, Tuhan kamu, Tuhan yang mempunyai kerajaan. Tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Dia; maka bagaimana kamu dapat dipalingkan?&#8221; (Al Qur&#8217;an, 39:6) Sebagaimana [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=abrahamik.wordpress.com&amp;blog=11997190&amp;post=135&amp;subd=abrahamik&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Dalam Al Qur&#8217;an dipaparkan bahwa manusia diciptakan melalui tiga tahapan  dalam rahim ibunya.</p>
<p><strong><em>&#8220;&#8230; Dia menjadikan kamu dalam perut ibumu kejadian demi kejadian  dalam tiga kegelapan. Yang (berbuat) demikian itu adalah Allah, Tuhan kamu,  Tuhan yang mempunyai kerajaan. Tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain  Dia; maka bagaimana kamu dapat dipalingkan?&#8221; (Al Qur&#8217;an, 39:6)<span id="more-135"></span></em></strong></p>
<p>Sebagaimana yang akan dipahami, dalam ayat ini ditunjukkan bahwa seorang  manusia diciptakan dalam tubuh ibunya dalam tiga tahapan yang berbeda. Sungguh,  biologi modern telah mengungkap bahwa pembentukan embrio pada bayi terjadi dalam  tiga tempat yang berbeda dalam rahim ibu. Sekarang, di semua buku pelajaran  embriologi yang dipakai di berbagai fakultas kedokteran, hal ini dijadikan  sebagai pengetahuan dasar. Misalnya, dalam buku Basic Human Embryology, sebuah  buku referensi utama dalam bidang embriologi, fakta ini diuraikan sebagai  berikut:</p>
<p>&#8220;Kehidupan dalam rahim memiliki tiga tahapan: pre-embrionik; dua setengah  minggu pertama, embrionik; sampai akhir minggu ke delapan, dan janin; dari  minggu ke delapan sampai kelahiran.&#8221; (Williams P., Basic  Human Embryology, 3. edition, 1984, s. 64.)</p>
<p>Fase-fase ini mengacu pada tahap-tahap yang berbeda dari perkembangan seorang  bayi. Ringkasnya, ciri-ciri tahap perkembangan bayi dalam rahim adalah  sebagaimana berikut:</p>
<p><strong> Tahap Pre-embrionik</strong></p>
<p>Pada tahap pertama, zigot tumbuh membesar melalui pembelahan sel, dan  terbentuklah segumpalan sel yang kemudian membenamkan diri pada dinding rahim.  Seiring pertumbuhan zigot yang semakin membesar, sel-sel penyusunnya pun  mengatur diri mereka sendiri guna membentuk tiga lapisan.</p>
<p><strong>- Tahap Embrionik</strong></p>
<p>Tahap kedua ini berlangsung selama lima setengah minggu. Pada masa ini bayi  disebut sebagai &#8220;embrio&#8221;. Pada tahap ini, organ dan sistem tubuh bayi mulai  terbentuk dari lapisan- lapisan sel tersebut.</p>
<p><strong>- Tahap fetus</strong></p>
<p>Dimulai dari tahap ini dan seterusnya, bayi disebut sebagai &#8220;fetus&#8221;. Tahap  ini dimulai sejak kehamilan bulan kedelapan dan berakhir hingga masa kelahiran.  Ciri khusus tahapan ini adalah terlihatnya fetus menyerupai manusia, dengan  wajah, kedua tangan dan kakinya. Meskipun pada awalnya memiliki panjang 3 cm,  kesemua organnya telah nampak. Tahap ini berlangsung selama kurang lebih 30  minggu, dan perkembangan berlanjut hingga minggu kelahiran.</p>
<p>Informasi mengenai perkembangan yang terjadi dalam rahim ibu, baru didapatkan  setelah serangkaian pengamatan dengan menggunakan peralatan modern. Namun  sebagaimana sejumlah fakta ilmiah lainnya, informasi-informasi ini disampaikan  dalam ayat-ayat Al Qur&#8217;an dengan cara yang ajaib. Fakta bahwa informasi yang  sedemikian rinci dan akurat diberikan dalam Al Qur&#8217;an pada saat orang memiliki  sedikit sekali informasi di bidang kedokteran, merupakan bukti nyata bahwa Al  Qur&#8217;an bukanlah ucapan manusia tetapi Firman Allah.</p>
<p>Sumber :</p>
<p>Harun Yahya. Keajaiban Qur&#8217;an.</p>
<br /> Tagged: <a href='http://abrahamik.wordpress.com/tag/bayi/'>bayi</a>, <a href='http://abrahamik.wordpress.com/tag/embrionik/'>embrionik</a>, <a href='http://abrahamik.wordpress.com/tag/fetus/'>fetus</a>, <a href='http://abrahamik.wordpress.com/tag/quran/'>Qur'an</a>, <a href='http://abrahamik.wordpress.com/tag/rahim/'>rahim</a>, <a href='http://abrahamik.wordpress.com/tag/tahap/'>tahap</a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/abrahamik.wordpress.com/135/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/abrahamik.wordpress.com/135/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/abrahamik.wordpress.com/135/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/abrahamik.wordpress.com/135/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/abrahamik.wordpress.com/135/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/abrahamik.wordpress.com/135/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/abrahamik.wordpress.com/135/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/abrahamik.wordpress.com/135/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/abrahamik.wordpress.com/135/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/abrahamik.wordpress.com/135/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/abrahamik.wordpress.com/135/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/abrahamik.wordpress.com/135/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/abrahamik.wordpress.com/135/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/abrahamik.wordpress.com/135/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=abrahamik.wordpress.com&amp;blog=11997190&amp;post=135&amp;subd=abrahamik&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abrahamik.wordpress.com/2010/02/20/tiga-tahapan-bayi-dalam-rahim-diceritakan-quran/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>5</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/0cac0c9f54dd87a8f5ca43e361da193e?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">abrahamik</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Akhlak Mulia Nabi Muhammad</title>
		<link>http://abrahamik.wordpress.com/2010/02/19/akhlak-mulia-nabi-muhammad/</link>
		<comments>http://abrahamik.wordpress.com/2010/02/19/akhlak-mulia-nabi-muhammad/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 19 Feb 2010 00:51:55 +0000</pubDate>
		<dc:creator>abrahamik</dc:creator>
				<category><![CDATA[Renungan]]></category>
		<category><![CDATA[akhlak]]></category>
		<category><![CDATA[karakter]]></category>
		<category><![CDATA[mempesona]]></category>
		<category><![CDATA[muhammad]]></category>
		<category><![CDATA[mulia]]></category>
		<category><![CDATA[sifat]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abrahamik.wordpress.com/?p=129</guid>
		<description><![CDATA[Shamaa il-Tirmidhi, Chapter 047, Hadith Number 009 (334). &#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8211; Imaam Hasan Radiyallahu &#8216;Anhu says, (my younger brother) Husayn said: &#8220;I asked my father (Sayyidina &#8216;Ali Radiyallahu &#8216;Anhu) about the conduct of Rasulullah Sallallahu &#8216;Alayhi Wasallam in his assemblies&#8217; He replied.. &#8216;Rasulullah Sallallahu &#8216;Alayhi Wasallam was : 1. always happy and easy mannered. There was always [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=abrahamik.wordpress.com&amp;blog=11997190&amp;post=129&amp;subd=abrahamik&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><span id="more-129"></span>Shamaa il-Tirmidhi, Chapter 047, Hadith Number 009 (334).<br />
&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8211;<br />
Imaam Hasan Radiyallahu &#8216;Anhu says, (my younger brother) Husayn said: &#8220;I asked my father (Sayyidina &#8216;Ali Radiyallahu &#8216;Anhu) about the conduct of Rasulullah Sallallahu &#8216;Alayhi Wasallam in his assemblies&#8217; He replied.. &#8216;Rasulullah Sallallahu &#8216;Alayhi Wasallam was :</p>
<p>1. always happy and easy mannered. There was always a smile and a sign of happiness on his blessed face.<br />
<em><strong>Selalu bergembira dan mudah dibuat bahagia. Selalu ada senyuman dan tanda kebahagian di wajahnya mulianya</strong></em></p>
<p><em></em>2. He was soft-natured and when the people needed his approval, he easily gave consent.<br />
<strong><em>Bawaan Beliau sangat lembut dan jika orang-orang membuntuhkan izinnya, beliau dgn mudah memberikan persetujuan.<br />
</em></strong><br />
3. He did not speak in a harsh tone nor was he stone-hearted. He did not scream while speaking, nor was he rude or spoke indecently.<br />
<strong><em>Beliau tidak bicara dlm nada keras juga tidak keras hati. Beliau tidak berteriak ketika berbicara, juga tidak kasar atau berbicara tdk senonoh .<br />
</em></strong><br />
4. He did not seek other&#8217;s faults.<br />
<strong><em>Beliau tidak mencari-cari kesalahan orang lain</em>.</strong></p>
<p>5. He never over-praised anything nor exceeded in joking, nor was he a miser.<br />
<em><strong>Beliau tidak pernah memuji sesuatu berlebihan juga keterlaluan dalam bergurau, beliau juga tidak kikir.</strong></em></p>
<p><em></em>6. He kept away from undesirable language and did not make as if he did not hear anything.<br />
<strong><em>Beliau selalu menghindari bahasa yg tdk disukai dan tidak membuatnya seolah-olah beliau tidak mendengar apapun.<br />
</em></strong><br />
7. If he did not agree with the next person&#8217;s wish he did not make that person feel disheartened, nor did he promise anything to that person.<br />
<strong><em>JIka beliau tidak setuju dengan harapan seseorang, beliau tidak membuat orang itu merasa kecil hati, beliau juga tidak menjanjikan apapun kepada orang itu.<br />
</em></strong><br />
8. He completely kept himself away from three things: from arguments, pride and senseless utterances. He prohibited people from three things.<br />
<strong><em>Beliau benar2 menjaga dirinya dari 3 perkara: dari berdebat, berbangga dan ucapan2 bodoh. Beliau melarang orang-orang dari 3 perkara.<br />
</em></strong><br />
9. He did not disgrace or insult anyone, nor look for the faults of others, he only spoke that from which thawaab and reward was attained.<br />
<strong><em>Beliau tidak kasar dan menghina siapapun, tidak juga mencari kesalahan-kesalahan orang lain, beliau hanya bicara dari yang ditanyakan dan memblasnya dgn yg dimengerti.<br />
</em></strong><br />
10. When he spoke, those present bowed their heads in such a manner, as if birds were sitting on their heads. (They did not shift about, as birds will fly away on the slightest move). When he completed his talks, the others would begin speaking. (No one would speak while Sayyidina Rasulullah Sallallahu&#8217;Alayhi Wasallam spoke. Whatever one wanted to say, it would be said after he had completed speaking). They did not argue before him regarding anything. Whenever one spoke to him the other would keep quiet and listen till he would finish. The speech of every person was as if the first person was speaking. (They gave attention to what every person said. It was not as is generally found that in the beginning people pay full attention, and if the talk is lengthened they became bored, and begin to pay less attention). When all laughed for something, he would laugh too. The things that surprised the people, he would also show his surprise regarding that. (He would not sit quietly and keep himself aloof from everyone, but made himself part of the gathering).<br />
<strong><em>Tatkala beliau berbicara, mereka yang hadir menundukkan kepala mereka penuh kesopanan, seperti burung-burung jika duduk. (mereka tidak beranjak, melainkan sebgm burung akan terbang rendah) . ketika beliau menyelesaikan pembicaraannya, yang lain akan mulai berbicara. (tidak ada seorang pun yg berbicara saat Sayyidina Rasulullah Sallallahu&#8217;Alayhi Wasallam bicara. Siapa saja salah seorang yang ingin berbicara, akan bicara setelah beliau menyelesaikan pembicaraannya) . mereka tidak akan berargumen sebelum beliau menaruh perhatian pd sesuatu..jika sewaktu-waktu salah seorang berbicara kepada beliau, yang lain akan diam dan mendengarkan orang tsb hingga selesai. Pembicaraan setiap orang seolah-olah orang yg pertama berbicara. (mereka memberikan perhatian pada setiap apa yg orang katakan. Tidak seperti keumuman orang pertama mendapat perhatian penuh, dan jika si pembicara bicara panjang lebar mereka menjadi bosan, dan mulai tdk memperhatikan). JIka semua orang tertawa beliau akan ikut tertawa juga. Hal-hal yg membuat seseorang terkejut beliau akan menunjukan keterkejutan beliau menghormati itu. (beliau tdk duduk menyendiri dan menjauhkan diri dari setiap orang , namun membuat dirinya bagian dari perkumpulan) .<br />
</em></strong></p>
<p>11. He exercised patience at the harshness and indecent questions of a traveller. (Villagers usually ask irrelevant questions. They do not show courtesy and ask all types of questions. Sayyidina Rasulullah Sallallahu &#8216;Alayhi Wasallam did not reprimand them but exercised patience). The Sahaabah would bring travellers to his assemblies (so that they themselves could benefit from the various types of questions asked by these people, and also hear some questions regarding which they themselves, due to etiquette, would not ask). Rasulullah Sallallahu &#8216;Alayhi Wasallam&#8217; would say: &#8216;When you see a person in need, then always &#8216;help that person&#8217;.<br />
<strong><em>Beliau berusaha bersabar dlm menghadapi kekerasan dan pertanyaan tidak senonoh dari seorang nomad. (orang dusun biasanya bertanya dgn pertanyaan yg tdk relevan, mereka tidak menunjukkan kesopanan dan bertanya macam-macam. Sayyidina Rasulullah Saw tdk mencerca mereka namun berusaha sabar). Sahabat akan membawa nomad ke perkumpulannya (shg mereka sendiri dapat keuntungan dari beragam pertanyaan yg ditanyakan oleh orang2 tsb, dan juga mendengar bermacam pertanyaan yg diminta orang-orang ini, dan juga beberapa pertanyaan yg mana mereka sendiri tanyakan, dalam kaitan dgn etiket, mereka tidak akan menanyakannya ) . Rasulullah Sallallahu &#8216;Alayhi Wasallam&#8217; akan bersabda : &#8216;jika kamu melihat orang dalam keperluan, maka selalulah “bantu orang itu” .<br />
</em><br />
</strong>12. (If someone praised him, he would detest it). If someone, by way of thanks praised him, he would remain silent, (because it is necessary that one &#8216;thank a person for a good favour or good deed. It is like one fulfilling one&#8217;s duty. Some of the &#8216;ulama have translated this as: &#8216;If one did not exceed in praising him, he would keep silent&#8217;. That means if he exceeded he would prohibit him).<br />
<strong><em>jika seseorang memuji beliau, beliau akan membenci pujian itu) . jika seseorang memuji sbg bentuk terima kasih, beliau akan diam, (sebab hal itu perlu seseorang &#8216;berterima kasih untuk orang yg menyokong kebaikan atau perbuatan baik. seperti seseorang yg memenuhi tugasnya. beberapa &#8216;ulama telah menterjemahkan ini yakni: &#8216;Jika salah seorang tdk berlebihan</em> </strong><em><strong>dalam memuji beliau, beliau akan diam” . ini berarti jika berlebihan beliau akan melarang orang tsb.) .<br />
</strong><br />
</em>13. He did not interrupt someone talking and did not begin speaking when someone else was busy speaking. If one exceeded the limits he would stop him or would get up and leave (so that that person would stop)&#8221;.<br />
<strong><em>Beliau tidak menginterupsi seseorang yg berbicara dan tidak memulai berbicara ketika seseorang sedang sibuk berbicara. Jika seseorang berlebihan berbicara beliau akan menghentikannya atau akan bangun dan pergi (sehingga orang tsb mau berhenti berbicara)<br />
</em></strong></p>
<p>Commentary<br />
This hadith is a portion of hadith number seven in the previous chapter. The complete hadith of Sayyidina Imaam Husayn Radiyallahu &#8216;Anhu is mentioned in the Jam&#8217;ul Fawaa-id and the Shifa of Qaadi &#8216;Iyaad. lmaam Tirmidhi has mentioned this hadith in portions according to the relevant chapters.<br />
<em>hadith ini bagian dari hadith nomor 7 di bab sebelumnya. hadith selengkapnya dari Sayyidina Imaam Husayn Radiyallahu &#8216;Anhu disebutkan di Jam&#8217;ul Fawaa-id dan The shifa nya Qaadi &#8216;Iyaad . lmaam Tirmidhi menyebutkan hadith ini di bagian menuruti chapters yg relevant. </em></p>
<br /> Tagged: <a href='http://abrahamik.wordpress.com/tag/akhlak/'>akhlak</a>, <a href='http://abrahamik.wordpress.com/tag/karakter/'>karakter</a>, <a href='http://abrahamik.wordpress.com/tag/mempesona/'>mempesona</a>, <a href='http://abrahamik.wordpress.com/tag/muhammad/'>muhammad</a>, <a href='http://abrahamik.wordpress.com/tag/mulia/'>mulia</a>, <a href='http://abrahamik.wordpress.com/tag/sifat/'>sifat</a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/abrahamik.wordpress.com/129/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/abrahamik.wordpress.com/129/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/abrahamik.wordpress.com/129/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/abrahamik.wordpress.com/129/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/abrahamik.wordpress.com/129/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/abrahamik.wordpress.com/129/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/abrahamik.wordpress.com/129/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/abrahamik.wordpress.com/129/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/abrahamik.wordpress.com/129/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/abrahamik.wordpress.com/129/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/abrahamik.wordpress.com/129/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/abrahamik.wordpress.com/129/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/abrahamik.wordpress.com/129/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/abrahamik.wordpress.com/129/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=abrahamik.wordpress.com&amp;blog=11997190&amp;post=129&amp;subd=abrahamik&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abrahamik.wordpress.com/2010/02/19/akhlak-mulia-nabi-muhammad/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>5</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/0cac0c9f54dd87a8f5ca43e361da193e?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">abrahamik</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Studi Kritis Hadis &#8220;Perangilah manusia sehingga semuanya mengucap La ilaha illallah&#8221;</title>
		<link>http://abrahamik.wordpress.com/2010/02/19/studi-kritis-hadis-perangilah-manusia-sehingga-semuanya-mengucap-la-ilaha-illallah/</link>
		<comments>http://abrahamik.wordpress.com/2010/02/19/studi-kritis-hadis-perangilah-manusia-sehingga-semuanya-mengucap-la-ilaha-illallah/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 19 Feb 2010 00:00:06 +0000</pubDate>
		<dc:creator>abrahamik</dc:creator>
				<category><![CDATA[Pemikiran Islam]]></category>
		<category><![CDATA[islam]]></category>
		<category><![CDATA[jihad]]></category>
		<category><![CDATA[membunuh]]></category>
		<category><![CDATA[perang]]></category>
		<category><![CDATA[syahadat]]></category>
		<category><![CDATA[Yahudi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abrahamik.wordpress.com/?p=120</guid>
		<description><![CDATA[Ali bin Abi Talib radiallahu ‘anhu pernah bertanya kepada Rasulullah sallallahu ‘alaihi wasallam: Ya Rasulullah ! Atas hal apakah patut aku perangi manusia? Rasulullah menjawab: Perangilah mereka sehingga mereka bersyahadah bahwa Tiada Tuhan melainkan Allah dan Muhammad adalah Rasul Allah. Apabila mereka telah mengucapkan sedemikian maka terpeliharalah darah dan harta benda mereka. Kecuali yang menjadi [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=abrahamik.wordpress.com&amp;blog=11997190&amp;post=120&amp;subd=abrahamik&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Ali bin Abi Talib radiallahu ‘anhu pernah bertanya kepada Rasulullah sallallahu ‘alaihi wasallam:<br />
Ya Rasulullah ! Atas hal apakah patut aku perangi manusia?<br />
Rasulullah menjawab:<br />
Perangilah mereka sehingga mereka bersyahadah bahwa Tiada Tuhan melainkan Allah dan Muhammad adalah Rasul Allah. Apabila mereka telah mengucapkan sedemikian maka terpeliharalah darah dan harta benda mereka. Kecuali yang menjadi hak kamu. Dan perhitungannya adalah kepada Allah.[1]<span id="more-120"></span></p>
<p>Kemusykilan:</p>
<p>Hadis ini menjadi sasaran utama para pengkritik orientalis bahwa Islam adalah agama yang disebarkan melalui pedang, yaitu secara paksaan. Apakah maksud sebenarnya dari hadis ini?</p>
<p>Penjelasannya:</p>
<p>Hadis ini telah diperhujjahkan dalam bentuk yang terkeluar dari konteksnya yang asal. Hadis ini sebenarnya disabdakan oleh Rasulullah sallallahu ‘alaihi wasallam ketika berperang dengan orang-orang Yahudi di Khaibar, sebagaimana yang pertama sekali diterangkan sendiri oleh Abu Hurairah radiallahu ‘anhu apabila beliau meriwayatkannya. Urutan yang menyebabkan Rasulullah bersabda sedemikian dapat juga dilihat dalam mana-mana kitab sirah yang muktabar.[2]</p>
<p>Pendek cerita, pada tahun 5 hijrah orang-orang Yahudi di Khaibar telah mengumpul beberapa kaum dan kabilah di Semenanjung Arab untuk bersatu melancarkan peperangan ke atas orang-orang Islam di Kota Madinah. Namun serangan tersebut berjaya dipatahkan apabila umat Islam menggali parit yang dalam di sekeliling Kota Madinah. Peperangan ini masyhur dengan gelaran Perang Khandak. Dua tahun kemudian umat Islam telah melancarkan serang balas ke atas orang-orang Yahudi di Khaibar.[3]</p>
<p>Adalah tidak benar jika dikatakan tentera Islam telah memaksa orang-orang Yahudi di Khaibar untuk memeluk Islam. Dari awal lagi Rasulullah sallallahu ‘alaihi wasallam telah berdakwah kepada orang-orang Yahudi, malah beberapa sahabat yang mengenali kitab Taurat telah mengingatkan mereka tentang kerasulan Muhammad berdasarkan keterangan kitab mereka sendiri. Namun mereka tetap mengingkarinya.[4]</p>
<p>Lebih dari itu, setelah menerima perintah untuk memerangi orang Yahudi Khaibar sebagaimana hadis yang pertama di atas, berkata Ali bin Abi Talib radiallahu ‘anhu:</p>
<p>Ya Rasulullah ! Aku akan perangi mereka sehinggalah mereka menjadi seperti kita (yaitu menjadi orang Islam).</p>
<p>Mendengar itu Rasulullah sallallahu ‘alaihi wasallam menjawab:</p>
<p>Maralah secara berhati-hati sehingga kamu sampai ke kawasan mereka yang lapang. Kemudian dakwahlah mereka kepada Islam. Khabarkan kepada mereka tentang apa yang wajib dari hak (undang-undang) Allah.</p>
<p>Demi Allah ! Jika Allah memberi hidayah kepada salah seorang dari mereka adalah lebih baik daripada kamu memiliki sekumpulan unta yang berharga.[5]</p>
<p>Mungkin ada kemusykilan lagi, bahwa hadis: Perangilah mereka sehingga… sepertimana di atas bersifat umum kerana ia adalah jawaban yang merujuk kepada pertanyaan: Ya Rasulullah ! Atas hal apakah patut aku perangi manusia? Perkataan al-Nas merujuk kepada seluruh manusia. Justeru sekalipun ia disampaikan dalam satu kes tertentu, ciri-cirinya yang umum menyebabkan ia tidak terikat kepada satu suasana tertentu. Ini selari dengan kaedah, bahwa sesuatu nas yang bersifat umum tidak terikat dengan suasana yang melahirkan nas tersebut.</p>
<p>Kemusykilan ini dapat dijelaskan dengan memahami bahwa fungsi alif lam terhadap perkataan Nas (manusia) dalam hadis di atas tidaklah merujuk kepada arti seluruh manusia tetapi merujuk kepada sekumpulan manusia bagi menetap makna yang dimaksudkan (Lam-al-Ma’rifah).</p>
<p>Di dalam al-Qur’an, terdapat beberapa contoh di mana perkataan al-Nas tidak berarti seluruh manusia tetapi hanyalah sekelompok. Berikut adalah dua contoh:</p>
<p>Pertama:</p>
<p><em>“Mereka juga ialah yang diberitahu oleh manusia (al-Nas) kepada mereka: “Bahawa manusia (al-Nas) telah mengumpulkan tentera untuk memerangi kamu, oleh itu hendaklah kamu gerun kepadanya”. Maka berita itu makin menambahkan iman mereka lalu berkata: “Cukuplah Allah untuk (menolong) kami, dan Ia sebaik-baik pengurus”.” [‘Ali Imran 3:173]</em></p>
<p>Dalam ayat di atas, perkataan al-Nas tidaklah merujuk kepada semua manusia. Alif lam yang mendahuluinya berperanan menetapkannya kepada sesuatu makna (Lam-al-Ma’rifah). al-Nas yang pertama merujuk kepada Na‘im bin Mas‘ud al-Asyja‘i manakala al-Nas yang kedua merujuk kepada Abu Sufyan dan rombongan dagangnya.[6] Justeru dalam ayat ini Na‘im bin Mas‘ud ingin menakut-nakutkan umat Islam dengan serangan tentera Quraisy Abu Sufyan tetapi ancaman ini tidak lain hanyalah menguatkan lagi keimanan umat ketika itu.</p>
<p>Kedua:</p>
<p><em>“Apabila datang pertolongan Allah dan kemenangan, Dan engkau melihat manusia (al-Nas) masuk dalam agama Allah beramai-ramai, Maka ucapkanlah tasbih dengan memuji Tuhanmu dan mintalah ampun kepada-Nya, sesungguhnya Dia amat menerima taubat.” [al-Nasr 110:1-3]</em></p>
<p>Dalam ayat di atas juga, al-Nas tidak merujuk kepada manusia di seluruh dunia tetapi hanya kepada penduduk Kota Makkah, yakni ketika Fath-ul-Makkah di mana umat Islam telah kembali menguasai Kota Makkah dari tangan kafir Quraisy. Manusia yang menerima agama Islam yang dimaksudkan ialah penduduk Kota Makkah dan bukannya penduduk seluruh dunia.</p>
<p>Memadailah dengan dua contoh di atas. Justeru perkataan al-Nas dalam hadis di atas yang dipersoalkan sebenarnya merujuk kepada orang-orang Yahudi di Khaibar, bukan umum kepada semua manusia.<br />
[7]</p>
<p>_____________________________________</p>
<p>Nota kaki:</p>
<p>[1] Sahih: Hadis dari Abu Hurairah radiallahu &#8216;anhu, dikeluarkan oleh Ibn Sa&#8217;ad, Muslim dan lain-lain. Di atas adalah dari lafaz Muslim, lihat Sahih Muslim &#8211; no: 2405 (Kitab Fada&#8217;il Sahabat, Fada&#8217;il &#8216;Ali bin Abi Talib).</p>
<p>[2] Antaranya: Ibn Sa&#8217;ad &#8211; al-Tabaqat al-Kubra (Dar al-Kutub al-Ilmiah, Beirut 1997), jld 2, ms 84 (Kitab Maghazi dan Sariyah Rasulullah, Ghuzwah Khaibar); Ibn Kathir &#8211; al-Bidayah wa al-Nihayah (Dar al-Hadith, Kaherah 1997), jld 4, ms 185 (Tahun ke-7, Ghuzwah Khaibar); al-Dzahabi &#8211; Siyar A&#8217;lam al-Nubala, Sirah Nabawiyah (Muasasah al-Risalah, Beirut 1998), jld 2, ms 64 (Tahun ke-7, Ghuzwah Khaibar) dan Akram Diya&#8217; al-Umari &#8211; Madinan Society at The Time of The Prophet (terj: Huda Khattab; IIPH &amp; IIIT, Riyadh 1995), vol 1, ms 145.</p>
<p>[3] Lebih lanjut, disyorkan membaca buku sirah karangan H. Zainal Arifin Abbas: Sejarah dan Perjuangan Nabi Muhammad s.a.w. (Pustaka Antara, Kuala Lumpur 1991), jld 8, ms 69-74.</p>
<p>[4] Ibn Hisyam &#8211; Sirah Nabawiyah (Maktabah al-&#8217;Abikan, Riyadh 1998), jld 2, ms 159 (Bab Orang Yahudi mengingkari (wahyu) yang diturunkan). Al-Suyuti menyebutnya dalam Darr al-Manthur fi Tafsir al-Ma&#8217;thur (Dar al-Kutub al-Ilmiah, Beirut 2000), jld 2, ms 476 sebagai sebab turunnya ayat ke 19 surah al-Maidah.</p>
<p>[5] Sahih: Hadis dari Sahl bin Sa&#8217;ad radiallahu &#8216;anhu, dikeluarkan oleh Ahmad, al-Bukhari, Muslim, al-Thabarani (al-Mu&#8217;jam al-Kabir) dan lain-lain, lihat Sahih Muslim &#8211; no: 2406 (Kitab Fada&#8217;il Sahabat, Fada&#8217;il &#8216;Ali bin Abi Talib).</p>
<p>[6] Lihat al-Mawardi &#8211; al-Nukatu al-&#8217;Uyun, jld 1, ms 438; Ibn Kathir &#8211; Tafsir al-Qur&#8217;an al-&#8217;Adzhim (terj: Bahrun Abubakar; Sinar Baru Algensindo, Bandung 2000), juz 4, ms 305-308; al-Suyuti &#8211; Tafsir Jalalain (terj: Bahrun Abubakar; Sinar Baru Algensindo, Bandung 1997), jld 1, ms 173 dan lain-lain. Bagi pengajaran dan iktibar yang besar dari ayat ini, lihat penjelasan yang amat baik oleh Sa&#8217;id Hawa dalam al-Asas fi al-Tafsir (Dar al-Salam, Kaherah 1999), jld 2, ms 938-939.</p>
<p>[7] Muhammad al-Ghazali &#8211; Menjawab 40 Soal Islam Abad 20 (S. Abdul Majid, Kuala Lumpur 1989), ms 75-77 dengan beberapa tambahan dari penulis.</p>
<p>Sumber :</p>
<p>Hafiz Firdaus Abdullah. Kaedah Memahami Hadis-Hadis Musykil</p>
<br /> Tagged: <a href='http://abrahamik.wordpress.com/tag/islam/'>islam</a>, <a href='http://abrahamik.wordpress.com/tag/jihad/'>jihad</a>, <a href='http://abrahamik.wordpress.com/tag/membunuh/'>membunuh</a>, <a href='http://abrahamik.wordpress.com/tag/perang/'>perang</a>, <a href='http://abrahamik.wordpress.com/tag/syahadat/'>syahadat</a>, <a href='http://abrahamik.wordpress.com/tag/yahudi/'>Yahudi</a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/abrahamik.wordpress.com/120/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/abrahamik.wordpress.com/120/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/abrahamik.wordpress.com/120/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/abrahamik.wordpress.com/120/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/abrahamik.wordpress.com/120/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/abrahamik.wordpress.com/120/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/abrahamik.wordpress.com/120/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/abrahamik.wordpress.com/120/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/abrahamik.wordpress.com/120/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/abrahamik.wordpress.com/120/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/abrahamik.wordpress.com/120/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/abrahamik.wordpress.com/120/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/abrahamik.wordpress.com/120/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/abrahamik.wordpress.com/120/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=abrahamik.wordpress.com&amp;blog=11997190&amp;post=120&amp;subd=abrahamik&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abrahamik.wordpress.com/2010/02/19/studi-kritis-hadis-perangilah-manusia-sehingga-semuanya-mengucap-la-ilaha-illallah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/0cac0c9f54dd87a8f5ca43e361da193e?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">abrahamik</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Atap yang Terpelihara</title>
		<link>http://abrahamik.wordpress.com/2010/02/19/atap-yang-terpelihara/</link>
		<comments>http://abrahamik.wordpress.com/2010/02/19/atap-yang-terpelihara/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 18 Feb 2010 23:44:34 +0000</pubDate>
		<dc:creator>abrahamik</dc:creator>
				<category><![CDATA[Keajaiban Qur&#039;an]]></category>
		<category><![CDATA[atmosfer]]></category>
		<category><![CDATA[Qur'an]]></category>
		<category><![CDATA[radiasi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abrahamik.wordpress.com/?p=117</guid>
		<description><![CDATA[Dalam Al Qur&#8217;an, Allah mengarahkan perhatian kita kepada sifat yang sangat menarik tentang langit: &#8220;Dan Kami menjadikan langit itu sebagai atap yang terpelihara, sedang mereka berpaling dari segala tanda-tanda (kekuasaan Allah) yang ada padanya.&#8221; (Al Qur&#8217;an, 21:32) Sifat langit ini telah dibuktikan oleh penelitian ilmiah abad ke-20. Atmosfir yang melingkupi bumi berperan sangat penting bagi [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=abrahamik.wordpress.com&amp;blog=11997190&amp;post=117&amp;subd=abrahamik&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Dalam Al Qur&#8217;an, Allah mengarahkan perhatian kita kepada sifat yang sangat  menarik tentang langit:</p>
<p>&#8220;Dan Kami menjadikan langit itu sebagai atap yang  terpelihara, sedang mereka berpaling dari segala tanda-tanda (kekuasaan Allah)  yang ada padanya.&#8221; (Al Qur&#8217;an, 21:32)<span id="more-117"></span></p>
<p>Sifat langit ini telah dibuktikan oleh penelitian ilmiah abad ke-20.</p>
<p>Atmosfir yang melingkupi bumi berperan sangat penting bagi berlangsungnya  kehidupan. Dengan menghancurkan sejumlah meteor, besar ataupun kecil ketika  mereka mendekati bumi, atmosfir mencegah mereka jatuh ke bumi dan membahayakan  makhluk hidup.</p>
<p>Atmosfir juga menyaring sinar-sinar dari ruang angkasa yang membahayakan  kehidupan. Menariknya, atmosfir hanya membiarkan agar ditembus oleh sinar-sinar  tak berbahaya dan berguna, &#8211; seperti cahaya tampak, sinar ultraviolet tepi, dan  gelombang radio. Semua radiasi ini sangat diperlukan bagi kehidupan. Sinar  ultraviolet tepi, yang hanya sebagiannya menembus atmosfir, sangat penting bagi  fotosintesis tanaman dan bagi kelangsungan seluruh makhluk hidup. Sebagian besar  sinar ultraviolet kuat yang dipancarkan matahari ditahan oleh lapisan ozon  atmosfir dan hanya sebagian kecil dan penting saja dari spektrum ultraviolet  yang mencapai bumi.</p>
<p>Fungsi pelindung dari atmosfir tidak berhenti sampai di sini. Atmosfir juga  melindungi bumi dari suhu dingin membeku ruang angkasa, yang mencapai sekitar  270 derajat celcius di bawah nol.</p>
<p>Tidak hanya atmosfir yang melindungi bumi dari pengaruh berbahaya. Selain  atmosfir, Sabuk Van Allen, suatu lapisan yang tercipta akibat keberadaan medan  magnet bumi, juga berperan sebagai perisai melawan radiasi berbahaya yang  mengancam planet kita. Radiasi ini, yang terus- menerus dipancarkan oleh  matahari dan bintang-bintang lainnya, sangat mematikan bagi makhuk hidup. Jika  saja sabuk Van Allen tidak ada, semburan energi raksasa yang disebut jilatan api  matahari yang terjadi berkali-berkali pada matahari akan menghancurkan seluruh  kehidupan di muka bumi.</p>
<p>Dr. Hugh Ross berkata tentang perang penting Sabuk Van Allen bagi kehidupan  kita:</p>
<p>Bumi ternyata memiliki kerapatan terbesar di antara planet-planet lain di  tata surya kita. Inti bumi yang terdiri atas unsur nikel dan besi inilah yang  menyebabkan keberadaan medan magnetnya yang besar. Medan magnet ini membentuk  lapisan pelindung berupa radiasi Van-Allen, yang melindungi Bumi dari pancaran  radiasi dari luar angkasa. Jika lapisan pelindung ini tidak ada, maka kehidupan  takkan mungkin dapat berlangsung di Bumi. Satu-satunya planet berbatu lain yang  berkemungkinan memiliki medan magnet adalah Merkurius &#8211; tapi kekuatan medan  magnet planet ini 100 kali lebih kecil dari Bumi. Bahkan Venus, planet kembar  kita, tidak memiliki medan magnet. Lapisan pelindung Van-Allen ini merupakan  sebuah rancangan istimewa yang hanya ada pada Bumi. (http://www.jps.net/bygrace/index. html Taken from Big Bang  Refined by Fire by Dr. Hugh Ross, 1998. Reasons To Believe, Pasadena,  CA.)</p>
<p>Energi yang dipancarkan dalam satu jilatan api saja, sebagaimana tercatat  baru-baru ini, terhitung setara dengan 100 milyar bom atom yang serupa dengan  yang dijatuhkan di Hiroshima. Lima puluh delapan jam setelah kilatan tersebut,  teramati bahwa jarum magnetik kompas bergerak tidak seperti biasanya, dan 250  kilometer di atas atmosfir bumi terjadi peningkatan suhu tiba-tiba hingga  mencapai 2.500 derajat celcius.</p>
<p>Singkatnya, sebuah sistem sempurna sedang bekerja jauh tinggi di atas bumi.  Ia melingkupi bumi kita dan melindunginya dari berbagai ancaman dari luar  angkasa. Para ilmuwan baru mengetahuinya sekarang, sementara berabad-abad  lampau, kita telah diberitahu dalam Al Qur&#8217;an tentang atmosfir bumi yang  berfungsi sebagai lapisan pelindung.</p>
<p>Sumber:</p>
<p>Harun Yahya. Keajaiban Qur&#8217;an</p>
<br /> Tagged: <a href='http://abrahamik.wordpress.com/tag/atmosfer/'>atmosfer</a>, <a href='http://abrahamik.wordpress.com/tag/quran/'>Qur'an</a>, <a href='http://abrahamik.wordpress.com/tag/radiasi/'>radiasi</a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/abrahamik.wordpress.com/117/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/abrahamik.wordpress.com/117/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/abrahamik.wordpress.com/117/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/abrahamik.wordpress.com/117/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/abrahamik.wordpress.com/117/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/abrahamik.wordpress.com/117/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/abrahamik.wordpress.com/117/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/abrahamik.wordpress.com/117/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/abrahamik.wordpress.com/117/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/abrahamik.wordpress.com/117/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/abrahamik.wordpress.com/117/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/abrahamik.wordpress.com/117/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/abrahamik.wordpress.com/117/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/abrahamik.wordpress.com/117/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=abrahamik.wordpress.com&amp;blog=11997190&amp;post=117&amp;subd=abrahamik&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abrahamik.wordpress.com/2010/02/19/atap-yang-terpelihara/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/0cac0c9f54dd87a8f5ca43e361da193e?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">abrahamik</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>
